Entry: This Side of Paradise, This Side of Hell Thursday, June 22, 2006



Aduh, "This Side of Paradise" tuh melelahkan banget. Bentuknya bisa beda-beda di tiap episodenya. Dari yang pertamanya prosa biasa, terus jadi berpuisi panjang-panjang, terus jadi berbentuk naskah drama. Huaaa...

Tapi ya, keliatan banget sih kenapa banyak yang terkesima pas pertama muncul. Mungkin karena si Fitzgerald-nya emang bertujuan menabrak-nabrak berbagai 'konvensi' tentang novel. Setidaknya, walaupun memusingkan, energinya si penulis tuh ada. Energi seorang penulis muda yang pengen jadi dirinya sendiri.

Dan lama-kelamaan menyenangkan juga kok mbacanya. Buku keduanya, yang dia ketemu Rosalind, yang bentuknya seperti naskah drama juga kerasa pas. Soalnya, percakapan antara Amory dan Rosalind, cara mereka saling membuat satu sama lain terkesan dengan line-linenya, kerasa stage-y banget. Nggak realistis. Makanya bentuk drama-nya jadi kerasa pas. Dengan tidak bermaksud membuka perdebatan tentang realistis atau tidak sebuah play, Amory dan Rosalind seperti sepasang aktor dan aktris yang udah punya sederetan line untuk dilontarkan.

Tapi, kesan melelahkan itu tetap belum hilang. Pas kemarin sempet mbaca kutipan dari buku lain aja yang agak pop bisa langsung ngerasa kayak liburan, hehehe.

Ah udahlah.

Btw, aduuhhh....I'm a week away from the crumbling of my reputation. Nulis apa buat sudut pandaaanggg?? Haegh. Mana Paus Biru belum nulis lagi. Huks. Bisa jadi bahan ketawaan nanti tulisanku....


   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments