Entry: Hidup Dalam Tiga Minggu Wednesday, May 24, 2006



Ffiuh...

Gila. Udah lama banget blog ini nggak diisi.  Padahal ada banyak cerita sebenarnya yang bisa dibongkar dari otak. Kayak, dua weekend berturut-turut yang dihabiskan di luar kota. Pertama, secara mendadak dapat limpahan undangan untuk ke Kuala Lumpur. Limpahan, karena awalnya yang diundang temen. Tapi dia merasa it's too much hassle untuk persiapan pergi yang cuma semalem, sementara dia masih ribet dengan persiapan nikahnya.

Dikasih tau Sabtu pagi, berangkat Minggu sore, pulang lagi Senin sore. Kerjaannya? Muter-muter ngikutin pejabat Gubernur Aceh silaturahmi sama masyarakat Aceh di sana, terus ketemu ama Menteri-menteri di sana. Yang jatuh-jatuhnya cuma...kunjungan basa-basi. Terkungkung dalam mobil, nggak sempet jalan-jalan. Tapi, ah ya sudahlah, namanya juga gratisan.

Terus akhir minggu berikutnya, ya itu..ke Bandung, buat nikahan si temen. Rame, seru, kayak 'out-of-town slumber party', berbagi kamar dengan tiga temen lain. Besok paginya dandan heboh. Foto-foto. Liat FO. Ah...fun times, lah.

Di antara itu, ada pergantian kepala suku desk tempatku sekarang berada. Suatu perubahan yang aku yakin, akan mengarah ke sesuatu yang negatif. Oops. Hmm, mungkin cara pandang ini yang membuatku jadi kesal ngadepin semuanya. Perubahan yang awalnya mau aku jadikan kesempatan untuk minta pindah. Dan ternyata gagal.

Walaupun kepala suku sebelumnya memberikan rasa tenang dan alasan yang sangat masuk akal untuk tetap semangat. Tapi, harapan untuk terus berjuang itu jadi kandas gara-gara attitude kepala suku yang baru. Ah, itu mungkin karena aku manja aja. Harusnya semua-semua itu tidak mempengaruhi perang yang terjadi di dalam kan?

Dan argh, sekarang diperparah pula dengan harus mundur lagi, ngerjain sesuatu yang harusnya udah selesai. Jadi males banget berusaha.

Perang dingin dengan seorang sahabat juga terjadi. Sesuatu yang, sungguh, belum aku lihat ujungnya. Juga pengenangan akan sosok dari fase kehidupan yang sudah lalu. Sampai akhirnya berakhir dengan pembicaraan yang membuatku menahan air mata dengan seorang teman dekat, yang sudah lama tidak berbincang.

Banyak perubahan yang terjadi dengan orang-orang di sekitarku, tapi kayaknya aku masih orang yang sama. Entah kenapa, itu malah terasa tragis.

"But we went on, reminding me of that epitaph in the Greek anthology: when I sank, the other ships sailed on."

(Virginia Woolf; A Writer's Diary; Monday, January 26th, 1931)

Ah, selamat tinggal cerita yang manis.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments