Entry: Deal Breaker Thursday, November 24, 2005



Kali ini, deal breaker itu berawal dari:

"Tujuh tahun menikah, pelukis Pupuk Daru Purnomo belum juga dikaruniai anak. Di sisi lain, ironi kehidupan tersingkap lebar di hadapannya. Perempuan-perempuan jalang melakukan aborsi di mana-mana. Jabang bayi hasil persetubuhan liar diempaskan tanpa perasaan bersalah."
(dikutip dari Media Indonesia, 23 November 2005, feature atas pameran lukisan Pupuk Daru Purnomo)

Opini saya: kalimat-kalimat yang dimiringkan itu amat sangat menghakimi, penuh dengan self-righteousness, dan bermuatan seksis.

Mau di-breakdown?

Perempuan jalang? Apa sih itu, perempuan jalang? Siapa yang mengategorikan mereka sebagai 'jalang'? Atas dasar apa?

Bisakah perempuan-perempuan itu dikategorikan jalang, jika si jabang bayi adalah hasil incest atau perkosaan? Tapi sekali lagi, penggunaan kata 'jalang' saja sudah terasa tidak tepat, menghakimi banget euy. 

Lalu, perempuan jalang yang melakukan aborsi? Please deh, bukannya dalam kasus-kasus aborsi, malah sering terjadi social pressure dari si (calon) ayah atau keluarga si perempuan?

Masih ditambah lagi dengan, 'jabang bayi hasil persetubuhan liar diempaskan tanpa perasaan bersalah'? Ih, ih, ih. Tanpa perasaan bersalah? Menggeneralisir sekali. Kata siapa tanpa perasaan bersalah? Atau setidaknya, who is the writer to say that the feeling is guilty/not guilty, dan bukan 'bingung', atau 'putus asa', atau 'kehilangan', atau 'tegas', dst, dst, dst.

Saya menunjukkan tulisan ini pada seorang mbak ayu, yang juga setuju, tulisan ini penuh dengan nada menghakimi, dan marah-marah sambil mengungkapkan kejijikan. Dan gerutuan itu saya teruskan ketika mencari mie ayam di sore hari, ke seorang sahabat.

Dengan penekanan-penekanan pada kata dan ungkapan 'jalang', 'aborsi', 'di mana-mana', 'liar', dan terakhir, 'diempaskan tanpa perasaan bersalah', saya menceritakan kekesalan saya atas tulisan, yang menurut saya, bisa amat sangat tidak sensitif dan bersudut pandang sempit.

Saya sudah selesai bercerita beberapa saat, tapi sahabat saya itu tidak berkata apa-apa.

"Tapi, babe, babe, gue kayaknya setuju deh sama apa yang dia tulis itu," katanya, akhirnya.
"WHAT?" saya berseru setengah bertanya, tapi tidak begitu mengharap jawaban. Saya tidak mempercayai apa yang saya dengar. "WHAT?" tanya saya lagi, tak kalah keras.

Lalu saya mengulangi lagi kalimat-kalimat yang dimiringkan di atas padanya, seakan dapat memberi efek yang berbeda. Tapi penekanan-penekanan saya tak lagi sekuat pertama kali, dan akhirnya berhenti di tengah-tengah.

Si sahabat akhirnya cuma mengatakan, "ya iya sih." Entah apa yang ia iyakan. Mungkin maksudnya hanya untuk meredam seruan-seruan saya. Tapi saya sudah kecewa, sampai pada tahap terluka.

Bagaimana bisa sahabat yang saya kagumi ternyata bisa berpikiran berbeda pada sesuatu yang prinsip seperti itu? Saya percaya persetujuannya itu adalah bukti atas cara pandang dia yang sebenarnya terhadap perempuan, dan persetujuannya atas pernyataan bahwa ketika perempuan melakukan aborsi, mereka melakukannya tanpa rasa bersalah. Untuk sedetik, saya merasa kecewa, akan pikirannya yang sempit.

Hmm, kekecewaan saya bukan hanya atas ekspresi persetujuannya. Tapi juga akan apa yang terjadi sesudahnya; saya tidak akan melihatnya dengan cara yang sama lagi, 'nilai'nya di mata saya tak lagi setinggi dulu.

Dan saya membenci ketika kejadian seperti ini terjadi, ketika saya mengira orang yang akan berpikiran sama dengan saya atas satu hal, ternyata bisa berpendapat sesuatu yang lain di luar perkiraan. Boleh saja sih berbeda pikiran, tapi pengalaman saya selalu terjadi pada hal-hal yang 'prinsipil'; dalam arti, saat saya mengira teman saya itu adalah orang yang saya percaya akan berada di pihak yang sama dengan saya akan isu tersebut.

Saya pernah mengalami hal ini, dengan beberapa orang teman sebelumnya. Salah satu contohnya, dengan seorang sahabat juga, adalah tentang Perang Irak. Saya bisa berseteru dengannya hanya karena ia benar-benar yakin tindakan GWB melakukan invasi ke Irak adalah suatu hal yang tepat. Oke, menurut saya, Saddam memang bukan pemimpin yang baik, tapi melakukan invasi ke negara lain atas dasar minyak?

Akhir-akhirnya, setelah lama, saya minta maaf padanya, merasa sayalah yang kurang dewasa dan seharusnya menghargai perbedaan pikiran. Tapi saat saya berseteru dengannya, saya benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa, bagaimana bisa, bagaimana bisaaaaahhh?

Dan sekarang, saya mengalami sesuatu yang kurang lebih sama.

Dalam intensitas yang lebih kecil tentunya, karena saya tak lagi se-intens dua atau tiga tahun lalu. Tapi tetap saja, efeknya sama. Buat saya, kejadian itu adalah sebuah 'deal-breaker'. Saya tak sanggup lagi melihat sahabat saya yang sekarang ini dengan cara yang sama. Saya sedih ketika ini terjadi, saya langsung merasa kehilangan seorang teman yang dapat mengerti saya.

Tapi ada satu rasa kecewa lagi dalam hati saya. Atau mungkin tepatnya rasa penasaran. Apakah ini berarti saya masih belum lebih dewasa dibanding dua atau tiga tahun lalu? Karena saya masih belum bisa menerima perbedaan pendapat?

Diri saya sekarang masih berkeras, bahwa pendapat saya itu sudah tepat, bahwa tulisan itu memang penuh dengan nada judgmental, beraroma seksis, dan tidak sensitif.

(Heheh, saya bisa sepanas ini cuma gara-gara tiga kalimat, dan saya berani mengatakan saya tidak se-intens dua atau tiga tahun lalu?)

Tapi tak urung, sepanjang waktu mie ayam diracik, dan saat kami memakannya, dan kembali ke kantor, saya tak berkata sepatah pun padanya. Setidaknya, sore itu, saya merasa semuanya akan menjadi berbeda.    

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments