Entry: Nyinyir Sebentar Ya Tuesday, May 02, 2006



Kembali sebentar menjadi nyinyir:

"...Di tengah kritik Sutardji terhadap kecenderungan pemuda yang menjadi seniman, cerpenis Hudan Hidayat melihat, sesungguhnya Chairil tidaklah 'merdeka' benar. Ia tetap terikat, atau mengikatkan diri, melalui persambungan ide dan cita-cita yang menjadi 'ide dunia'. Mungkin hidup Chairil yang pendek, belum memungkinkan dia memiliki, atau mencari peralatan puisinya sendiri. 'Pandangan dunia' Chairil, belum mencapai tingkatan antitesis.

"Barulah pada Sutardji, semangat untuk melakukan antitesis dan menuliskannya dalam puisi, mewujud. Kalau 'generasi teks' kini setengah pongah sambil resah sendiri tak kunjung menemukan keautentikan eksistensi dan ekspresi, mengunyah dekonstruksi dalam wacana dan bukan dalam karya kreatif, maka Sutardji melalui kredo puisinya, telah melakukan pembalikan kata-kata, bukan untuk mengantar pengertian," tutur penulis antologi cerpen Keluarga Gila.

Maka dalam perspektif Hudan, mengenang Chairil, adalah upaya untuk mencari keautentikan dan ekspresi diri. Bila Chairil menjawab masa kemerdekaan dengan individualitas dan semangat untuk lepas dari kumpulan, adalah tugas generasi sekarang, menjawab zamannya sendiri dengan keautentikan eksistensi dan ekspresi diri kita sendiri.

"Bukan membebek pada tonggak orang luar maupun orang dalam. Tapi mencari sebuah orientasi baru. Pandangan dunia baru. Keberbahasaan baru. Seperti yang ditunjukkan oleh sebuah novel yang menolak segala macam ukuran ke dalam dirinya," ungkap Hudan, yang bersama Mariana Aminuddin, menulis novel Tuan dan Nona Kosong.

(Media Indonesia, Minggu, 30/4/06)

Tanggapanku: Hah! Jadi itu to arahnya?


P.S.: Ini sebenarnya artikel yang lumayan oke. Terutama pada bagian awal, tentang Sutardji dan menjadi Chairil di masa sekarang. (Agak) Lengkapnya:

"....Untuk hidup seribu tahun, ujar Sutardji, bukanlah sekadar membuat novel seribu halaman, atau membuat puisi atau membuat artikel, atau membuat esai seribu biji. Tetapi, tegas Sutardji, tentulah dengan semangat membuat karya bernilai seribu tahun.

"Beratnya tantangan masa kini, bukanlah terletak pada lembaga trik, semacam pasar, kemewahan hidup masa kini. Tetapi terutama pada godaan-godaan terhadap pandangan budaya hidup, filosofi-filosofi, visi misi kesenian yang sering menggoda para pemuda yang tidak kreatif untuk hidup secara serampangan," tutur Presiden Penyair Indonesia itu, kemarin.

Sutardji juga melihat fakta-fakta inilah, yang kini merambah dalam diri pemuda yang menjadi seniman. Fakta-fakta itu, antara lain, munculnya filsafat postmodernisme, urai Sutardji, yang menolak grand narative pada kata dan menolak nilai-nilai besar yang bertahan seribu tahun, nilai-nilai relatif yang ditonjolkan dan diberi justifikasinya, pandangan yang menganggap seni atau sastra adalah sebuah permainan, magic realisme yang menghasilkan karya-karya besar di Amerika Latin, paham-paham kebebasan bentuk dalam puisi.

"Sehingga puisi bisa dalam bentuk prosa, semuanya itu banyak memberikan inspirasi bagi para pemuda seniman yang serius dan kreatif. Tapi pada kenyataannya yang kita lihat di kalangan para pemuda yang menjadi seniman hanya melihat sisi gampangan dari aliran-aliran itu," tegas penyair yang pada tahun 1974, pernah mengikuti International Poetry Reading di Rotterdam, International Writing Program di Iowa, Amerika Serikat dan Pertemuan Penyair Dunia di Kolombia tahun 1979.

Penyair yang lahir pada 24 Juni 1941 di Rengat, Riau itu, melihat kecenderungan pemuda yang menjadi seniman, maka banyak yang menulis puisi secara asal-asalan, gampangan, yang akhirnya menjadikan dirinya sendiri sebagai seniman gampangan.

"Semangat cari gampang ini, akhirnya melahirkan para sastrawan medioker. Para medioker tidak punya semangat hidup seribu tahun lagi, tapi sekadar ingin survive sesaat. Atau ingin dianggap berarti dan cukup puas menghadiri komunitasnya.

Penulis antologi puisi O, Amuk dan Kapak ini, melihat asyik masyuk dalam komunitas sendiri, menjadi jago kandang, melahirkan sastrawan silaturahmi. Dalam bentuk lain, komunitas ini jika maju dan berkembang akan memperkenalkan satu bentuk sastra Gilda.

"Sastrawan yang para sastrawannya self-supporting dalam puji memuji," tegas Sutardji.


P.P.S: Aku jadi deg-degan nih gara-gara overspending di QB Plangi; 70% coba diskonnya. Duh, Gusti. Kan masih mau ke Bandung, mbayar cicilan, huks.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments