Entry: Sekedar Mencoba Mengingat Pram Monday, May 01, 2006



"Di manakah kamu saat [kejadian X] terjadi?"

'Kejadian X' aku anggap sebagai sebuah momen yang akan tercatat dalam sejarah, bagian dari memori kolektif sekelompok besar manusia. Asumsi itu berdasar pada pernyataan yang pernah aku dengar dari sebuah film dokumenter atau program dokumenter televisi yang aku tak ingat judul atau stasiun yang menayangkannya. Salah seorang pembicara pada program itu mengatakan, "semua orang Amerika yang hidup di kurun waktu 1960-an, akan ingat dan dapat menjawab pertanyaan: 'di manakah kamu saat JFK ditembak mati?'"

Mungkin, buat orang Indonesia, salah satu peristiwa yang dapat membentuk memori kolektif akan sejarah, terjadi kemarin. Jadi aku ingin menanyakan, di manakah kamu saat pertama kali mendengar sastrawan Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia?

Jawabanku: di rumah, di sofa panjang ruang tamu yang berwarna hijau, duduk sempurna, sambil kembali membolak-balik tiga koran minggu secara simultan untuk kesekian kalinya, ketika Kania Sutisnawinata lewat Headline News memberitakan secara singkat akan kepergian raksasa itu. Saat itu sekitar pukul 13.00. Aku baru beberapa belas menit terbangun dari tidur tengah pagi dari sebelumnya membaca 'Persuasion'. Kania membacakan sesuatu dari seorang raksasa lain, Sitor Situmorang, yang bahkan sekarang aku lupa apa kata-kata tepatnya untuk mendiang Pram.

Aku berlari ke depan tivi, melihat jenazahnya terbaring kaku, beralaskan seprai Winnie the Pooh dan Piglet berwarna hijau dan biru. Ada seorang pria yang sedang berjongkok di sampingnya, dan aku melihat punggung seorang pria yang aku curigai sebagai punggung Sitor.

Tidak ada emosi apa pun yang terlintas saat menyadari sesuatu yang baru terjadi. Kata-kata terakhir yang bisa aku tangkap, ia akan dimakamkan di TPU Karet Bivak pukul 15.00 nanti.

Should I come there?
Iya, iya, aku harus datang.
Untuk apa?
Memberikan penghormatan terakhir, tentu.
Tapi untuk apa? Toh, kau tak pernah bisa turut berkabung dengan cara yang pantas.
Tapi ini Pram. Bukankah dulu kau pernah menyesal karena tak bisa datang pada pemakaman Umar Kayam?
Ah. Sekarang kau lebih tertarik dengan prospek bertemu Sitor di situ.
Tapi aku harus datang.
Lihat, bahkan sampai sekarang pun kau tak benar-benar merasa kehilangan kan? Jadi untuk apa kau datang?

Memang ada kekecewaan, tapi hanya butuh waktu satu jam untuk menyadari bahwa aku terlalu palsu untuk datang.


SELAMAT JALAN, PRAM
 
Selamat jalan, buku
Selamat sampai di ibukata, ibunya rindu
Selamat terbang mengarungi ziarah waktu
Maafkan kami yang belum usai membacamu
  
(Joko Pinurbo, 30-4-2006)

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments