Entry: Mengintip Keseharian Virginia Sunday, April 23, 2006



Aku sekarang tak lagi takut dengan Virginia Woolf. Aku jatuh cinta dengannya. Aku menilainya sebagai orang yang menyenangkan ketika berbicara tentang buku. Ia memang sosok yang nyinyir ketika berbicara tentang orang-orang di sekitarnya. Tapi aku merasa tak lagi takut membaca tulisan-tulisannya.

Pasalnya, beberapa hari ini aku sedang mencuri-curi baca buku hariannya. Buku itu memang milikku, tapi tetap saja, aku merasa mencuri milik seseorang; rekaman tentang kehidupan kesehariannya. Leonard memang membatasi isi buku harian yang ditunjukkan di buku itu. Hanya tentang proses-proses kepenulisan, berlatih menulis, buku yang rencananya akan ia tulis, esai-esai yang ditulisnya, proses penelitiannya, etc.

Membaca tentang keseharian Virginia membuatku merasa lega. Seorang Virginia Woolf pun memiliki keengganan untuk mulai membaca 'Ulysses' karya Joyce. Lalu ia menulis, baru sekaranglah, pada usia 38 ia bisa mengerti bagaimana otaknya bekerja dan tidak merasa cemas ketika mengalami writer's block. Sampai pada kecemasan-kecemasannya tentang hal yang, kalau terjadi padaku, akan aku anggap sepele, walaupun tetap akan diributkan; seperti tidak teraturnya ia mengisi buku hariannya.

Dan aku merasa lega, seorang Virginia pun akan merasa hancur bila tulisannya tak diterima oleh teman-temannya di komunitas Bloomsbury. Virginia yang mengkhawatirkan resensi-resensi tentang bukunya; walaupun akhirnya ia tetap bersemangat ketika mendapat resensi buruk tapi menerima pujian dari karibnya, Lytton Strachey.

Ada banyak ide tentang mendesain kerangka sebuah novel dalam buku hariannya itu. Dan tentang ide, Virginia adalah sosok yang tepat untuk memberi masukan. Salah satu kekuatan Virginia, menurutku lewat buku harian itu, adalah bentuk. Ia merancang dengan detil bentuk-bentuk tulisan yang akan ditulisnya. Ia berbicara tentang bentuk jauh lebih banyak daripada tentang karakter atau dialog atau setting.

Dan tidak ada keraguan lagi akan kecerdasannya, akan kecintaannya pada kata-kata dan hal-hal detil yang ia lihat sehari-hari, pada bacaan dan sastra yang tak terentang waktu, dan akan menulis.

Ia beristirahat dari menulis novelnya dengan menulis; cerita-cerita kecil atau buku harian atau esai tentang buku. Ini mungkin akan menjadi buku Virginia Woolf pertama yang bisa aku selesaikan. Dari sini, mungkin bisa mulai Mrs D lagi dari awal untuk keempat atau lima kalinya (sebelumnya tak pernah selesai), dan Orlando. 

Ah, aku sedang tidak kehabisan pujian untuk perempuan satu ini.

(Btw, Selamat Hari Kartini!)   

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments