Entry: Scrubs vs Kemeja Biru Sunday, April 23, 2006



Hasil nonton marathon sitkom Scrubs season 1 dan 2; sebuah ide. Kenapaaa coba nggak mbuat skenario berdasarkan pengalaman nyata kami menjadi jurnalis pemula berkemeja biru? Atau, well, setidaknya pengalaman nyata menjadi jurnalis pemula.

Konsep dasarnya, seperti Scrubs itu.
Nyontek ya, sebenernya?

Tapi ada beberapa kesamaan lho antara para dokter-dokter muda, intern, di Scrubs dan saya dan teman-teman. Pertama, yang paling simpel aja, baju yang mereka pakai dan baju yang kami pakai. Mereka memakai scrubs (seragam walaupun warnanya macam-macam), kami, memakai seragam kemeja biru. Jam kerja mereka yang panjang, sama, kami juga.

Terus, tentang kesulitan-kesulitan yang mereka temui saat berhadapan dengan pasien, atau Dr Cox si mentor pemberontak, dan Dr Kelso yang mewakili kapitalisme rumahsakit. Hmm, kami juga mengalami hal yang sama; dengan narasumber, redaktur-redaktur yang slengean, dan mereka-mereka yang mencoba melampaui dua-tiga pulau dengan satu dayungan.

Lalu ada masalah persaingan antar sesama, belajar menjadi dokter yang baik, cinta-cinta lokasi karena kehidupan sosial yang minim, berusaha mendapat penghargaan dari lingkungan kerja dan perhatian tentunya. Tapi yang paling penting tentang menemukan teman-teman baik yang akhirnya lebih menjadi keluarga. Dan ah, itu semua nggak asing buat kami disini.

Tapi...(atau mungkin aku memang malas, sehingga belum apa-apa sudah membuat alasan..), bukannya sebentar lagi akan ada 'Dunia Tanpa Koma' ya? Sinetronnya Dian Sastro sebagai wartawan kriminal muda, yang skenarionya ditulis oleh Leila S.Chudori?

Ah.
Hmmm...

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments