Entry: That Obscure Object of Desire... Thursday, March 02, 2006



Kemarin malam, datang ke acara peluncuran novelnya wartawan kebudayaan kantorku di TIM. Dan, seperti sudah diduga walaupun tidak menyangka akan segampang itu terjadinya, tadaaa...aku ketemu sama 'that obscure object of desire', sosok santun di Sabtu siang, yang akhirnya sekarang menghantui aku secara membabi buta selama 10 hari terakhir.

Sebenarnya, dalam 10 hari terakhir itu, aku sempat ketemu si 'hantu' ini waktu acara peluncuran buku puisinya Saut Sitompul; ceritanya dia duduk di sebelah, sebelahnya Rendra, tapi pas lampu menyala, eh 'hantu' ini sudah hilang sebelum aku sempat menyapa-nyapa. Arrggh! Hantu beneran jangan-jangan...

(Berarti Sabtu siang itu aku bener-bener beruntung kali ya?)

Nah, kemarin malam, ketemu, pas dia lagi ngobrol-ngobrol sama 'man of the night', the celebrated author. Gara-gara itu, aku menunggu, sampai si 'hantu' ini sendiri, atau aman untuk didekati. Atau, diterkam tepatnya. Abis, malu man, kalau sudah melancarkan serangan-serangan amatirku, tepat di depan seorang...penjahat kelamin yang bakal terbahak-bahak akan aku yang mencoba menirukan auman singa dewasa. Lagian, diskusinya kan baru mulai, dan orang itu di situ dalam kapasitas bekerja, tidak seperti aku yang cuma main-main aja.

Tapi si hantu ini, rupanya, karena dia lebih tua dari aku, jadi bisa membaca gelagat. Atau setidaknya aku curiga begitu. Dan saat kepala berputar beberapa menit kemudian, 'hantu' ini kembali menghilang. Waktu aku ngambil kopi, yang sebenarnya memang sekedar taktik untuk mencari posisi sang buruan, terlihat kalau buruan ini berlindung bersama sekelompok mahluk-mahluk budaya lain. Aduh, semakin tidak aman lagi.

Dan ini catatan kaki yang harusnya dijadikan catatan kepala, when you're trying to score, jangan membawa the non-gay gay best friend bersamamu. Believe me, mereka hanya akan rewel kelaperan dan mencoba mensabotase setiap usahamu untuk menerkam mangsa dan mengakhiri kesendirian.

Itu yang terjadi padaku. Konspirasi alam yang kejam. The non-gay gay best friend merengek-rengek minta ikut dua teman yang sebelumnya sudah keluar dulu untuk makan. Awalnya tidak aku turutin, tapi akhirnya dia mengeluarkan muka cemberut yang ngeselin banget; sampai akhirnya aku nggak tega dan menyerah pada permintaannya.

Setelah dinner selesai, balik lagi ke ruangan diskusi, dan malam berakhir, aku tidak melihat penampakan lain dari 'hantu' nan charming dan santun itu. Huks.

Dan tadi siang, waktu ke Gunung Agung Citraland setelah pagi-pagi wawancara di Cempaka Mas (!), aku melihat buku karangan si 'hantu' ini. Mulailah aku mencari-cari alasan yang dapat membenarkan aku membeli buku ini; dari Sabtu lusa-nya akan ada diskusi bukunya ("Harus dibaca dong, biar nanti bisa nanya dan mbahas secara mendalam.."), sampai butuh memperbanyak wawasan akan penulis fiksi kontemporer Indonesia, atau tampilan fisiknya...(well, sebenarnya fisiknya biasa aja, tapi kesantunannya itu lhoo...biasa, tapi unik).

Tapi, semua argumen itu tidak menggoyahkan fakta bahwa...itu buku harganya Rp 44 ribu! Cinta sih cinta (setidaknya platonis).. tapi setelah percakapan 10 menitan, kayaknya too much ya? Apalagi di saat krisis keuangan seperti ini.

Tapi gimana dong, sosok ini masih, dengan suksesnya, menghantui khayalan-khayalan akan percakapan yang alurnya Before Sunrise-Before Sunset-esque...(dan katanya si Miss Universe, "ih, keliatan banget pengen nunjukin what you've been reading, sok-sok ngasih referensi bandingan, etc, etc..")

Dan, dalam skenario idealku akan pertemuan Sabtu nanti, aku berharap ini yang bakal kejadian:

"Eh, aku udah mbaca lho Iwan Simatupangnya."
"Dan?"
"Dashyat bangeett..."
Sambil ketawa, "Emang kenapa dashyatnya.."
"Ya pernah mbaca 'The Fountainhead' nggak? Apa yang dilakukan Ayn Rand dalam 700 halaman, bisa dilakukan Iwan Simatupang dengan lebih efektif dalam 150an halaman..."
"Oh ya? Fountainhead? Tentang apa?"
(Here's my answer... terus diakhiri dengan) "Emm, kemaren-kemarennya abis selesai mbaca Camus sih, dan kok kerasa ada yang sama ya?"
(disinilah, dia akan menjelaskan korelasinya. Aku tahu dia tahu karena aku pernah mbaca artikel yang membandingkan Camus 'Orang Aneh/Asing' dan 'Ziarah').

Hahahah. Dangkal banget nggak sih? 

Anyway, si Abah memberi pesan: "Act Naturally". Datanglah Sabtu nanti dengan pikiran ikut diskusi buku untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dan hilangkan pikiran-pikiran busuk itu.

(Oke, meditasi, ingat-ingat..)

(Tapi aku sering terlihat amatir banget kalau sudah berhadapan dengan that obscure object of desire...)

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments