Entry: ...Gelas Anggur Terakhir Pun Selesai Diteguk Thursday, February 23, 2006



Di tengah taman kota yang tak kusangka dimiliki oleh Jakarta; ruang publik nan hijau  lengkap dengan kolam milik para pekerja Wisma BRI, Wisma BRI II, dan Wisma GKBI, aku menyelesaikan Fiesta. Wuhuu!

Tadi siang ke Wisma GKBI, mencari seorang pejabat negara Ginseng, yang akhirnya baru bisa ditelpon 1,5 jam kemudian. Sebenarnya mau jalan ke Plaza Semanggi, biar sekedar bisa duduk dan membaca, tapi pas jalan keluar...ngeliat penunjuk arah ke 'Restoran'. Ternyata, jalan menuju restoran itu hijau banget, rindang, lengkap dengan kolam yang desainnya alami. Penuh sama karyawan-karyawan kantoran yang ketawa-ketiwi, menikmati taman yang...emang indah.

Duh, nggerundelku dalam hati tentang minimnya ruang publik hijau di Jakarta ternyata tidak sepenuhnya tepat. Ruang publik hijau nyaman di Jakarta ada kok. Buat mereka yang kerja di jalan protokol tapinya. Huh.

Akhirnya, memilih tempat duduk, mengeluarkan 'Fiesta', dan membaca 80 halaman terakhir 'Fiesta'. Sempet terganggu sebenarnya sama segerombolan orang-orang kantoran, yang despite the working place and their smart suits, teteup aja berlaku kayak highschoolers. Ruame banget nggodain cewek. Atau nggodain salah satu dari mereka yang lagi nggodain cewek. Pake taruhan-taruhan buat ngedeketin anak SMA magang yang lagi lunch di situ juga lagi.

Setelah itu, pas udah bisa membaca dengan tenang, 'Fiesta' jadi mengalir lancar. Baru pada 80 halaman terakhir itulah kalimat-kalimat yang disusun Hemingway terasa indah; kosakatanya sederhana, tapi kuat. Cara dia mendeskripsikan pertarungan banteng, lalu saat Brett pergi bersama Romero...

Ini, kutipannya:

"Kami berita duduk di meja, dan seakan-akan ada enam orang yang tidak hadir di situ."

(Ceritanya grupnya mereka ber-enam gitu...)

Setelah itu, buku ketiganya benar-benar pure bliss. Dari mulai caranya menghabiskan waktu sendirian di San Sebastian, lalu kutipan-kutipan singkatnya tentang anggur (wow, this guy is undoubtedly an alcoholic...), tentang membalas telegram dari Brett, tentang pagi hari di San Sebastian. Nggak kerasa mbosenin lagi...Kenapa bagian awalnya kerasa painfully boring ya?

Seperti di 80 halaman terakhir itu, ada sebuah lampu yang menerangi jalan masuk ke otakku sendiri. Kata-katanya, kalimat-kalimatnya  Hemingway jadi lebih punya arti, karena menemukan jalan masuk ke otak.

Dan iya, bener ternyata, dalam 80 halaman terakhir itu, tulisannya mengingatkan aku sama cerpen-cerpennya Umar Kayam di Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Mungkin karena itu, aku jadi lebih mengerti?

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments