Entry: Pesan Buruk Sebuah Editorial Thursday, February 23, 2006



Membuka topik tentang Howard Roark dan Fountainhead, aku jadi teringat lagi pada 'pelajaran-pelajaran' yang aku dapat saat membaca buku itu. Sebenarnya, yang paling penting, dan jadi inti buku itu adalah tentang 'selling-out' kan? Antara memilih idealisme atau berkompromi karena tawaran finansial.

Dan aku ingat, setelah selesai membaca buku itu, mengatakan pada diri sendiri, "Jika aku membaca buku ini beberapa tahun lebih cepat, aku mungkin akan lebih militan dalam mempertahankan idealisme dan tidak berkompromi."

Dengan bekerja di tempat aku bekerja sekarang, apakah level kompromi-ku jadi semakin menurun? Aku berusaha untuk tidak. Tapi ada masa-masanya saat aku merasa, 'apa sih yang sedang aku lakukan di kolam ini?'

Hari ini, akan aku catat, sebagai suatu bukti, that this place contain an evil force so obvious, that you cannot help to do anything, than feeling weak in the knees and throw up all the food you have for lunch...

(Apa yang bisa saya 'laporkan' pada Ayn Rand? Fuck that. Apa yang bisa saya katakan pada hati dan kesadaran saya?)

***
PESAN BURUK DARI PAPUA

SETIAP hari bangsa Indonesia mengirim pesan buruk kepada dunia tentang siapa kita. Kedutaan negara lain dirusak, perusahaan asing diduduki, orang asing dirampok, ditipu, dan banyak lagi.

Lebih celaka lagi, kita bangga dengan perilaku itu. Kita mengatakan kepada dunia bahwa seluruh aksi itu adalah bagian dari kesadaran mempertahankan harga diri.

Dalam konteks global apa yang sedang digemari manusia Indonesia itu sama dengan menyiram kebun dengan lahar gunung berapi. Kita sedang melakukan aksi bunuh diri dengan bangga.

Pesan buruk terbaru tentang diri sendiri yang disiarkan ke seantero jagat datang dari Papua. Sekitar 300 warga memblokade jalan masuk ke kompleks PT Freeport. Mereka bersenjata parang dan anak panah.

Akibatnya perusahaan tembaga asal Amerika Serikat itu menghentikan operasi untuk waktu yang tidak ditentukan. Kerugiannya bisa dihitung. Indonesia kehilangan tidak kurang US$3 juta/hari. Ribuan tenaga kerja kehilangan pendapatan. Kalau berlarut-larut, mereka bisa diberhentikan.

Tentu, penutupan jalan oleh warga itu ada sebabnya. Sebelumnya, sejumlah warga yang disebut sebagai penambang liar diminta tidak mendulang di daerah aliran sungai dan bekas pertambangan karena sangat berbahaya. Salah satu bahaya yang diwaspadai adalah potensi longsor akibat curah hujan yang tinggi akhir-akhir ini.

Tetapi permintaan itu malah menimbulkan bentrokan yang mencederai para penambang liar maupun aparat keamanan. Bentrokan itulah yang kemudian berdampak pada kemarahan kolektif dan berkembang liar pula menjadi pemblokadean.

Sebagai usaha pertambangan sekaliber Freeport, dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan pasti ada. Terutama kerusakan pada permukaan tanah akibat eksplorasi dan limbah. Akan tetapi, yang tidak kalah penting adalah komitmen sebuah usaha tambang untuk merenovasi lingkungan setelah pertambangan berhenti di kemudian hari.

Freeport bukan perusahaan yang baru kemarin beroperasi di Papua. Pemerintah, LSM, dan dunia pun amat peduli pada standar-standar global tentang pemeliharaan lingkungan. Jadi, kalau Freeport sudah beroperasi sejak 1976 dan sudah diperpanjang untuk beberapa puluh tahun lagi, berarti ada kesepakatan tentang risiko dan keuntungan.

Masih banyak cara untuk mempertemukan perbedaan kepentingan dan keinginan. Salah satu cara terhormat adalah berdialog. Mob seperti yang dilakukan warga yang menutup jalan ke Freeport adalah contoh buruk. Selama konflik kepentingan penduduk dengan pabrik dan unit-unit ekonomi diselesaikan melalui kekerasan, kita mengirim pesan buruk kepada dunia agar tidak membawa modalnya ke negeri ini.

Dalam dunia yang begitu terbuka dan tidak lagi berjarak, persepsi global tentang peradaban sebuah bangsa amat menentukan.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments