Entry: I Don't Need No Education? Tuesday, February 21, 2006



Sesiangan dan sesorean berusaha menghubungi seorang pengacara kondang tanpa hasil. Terakhir, katanya, dia masih belum selesai meeting dan tidak menjanjikan waktu yang jelas untuk dihubungi kembali...

Argh. Kerjaan sendiri juga masih belum beres.
Duh, mengutip katanya teman, serasa ingin menjadi burung unta yang bisa memasukkan kepalanya ke gundukan pasir, dan menyembunyikan diri dari dunia dan tanggung jawab. Atau, naik ke tempat tidur, berbungkus selimut, krukupan, dan tidak melakukan apa-apa.

Di tengah-tengah ketidakberdayaan, akhirnya browsing-browsing lebih lanjut tentang sebuah ide yang baru aku dengar dari seorang senior tadi malam. Tentang kembali ke kampus.

Harus aku akui, ide yang sangat menarik. Apalagi karena biaya yang harus dikeluarkan ternyata tidak semahal seperti yang aku bayangkan sebelumnya. "Asal bukan magister manajemen atau accounting aja sih, lumayan murahlah," kata bapakku tadi pagi. Masalah biaya itu yang sebenarnya membuat aku semakin tertarik.

Dan untuk bidang yang aku minati pula.

Beberapa waktu yang lalu, aku sempat kehilangan minat buat S2, terutama karena biayanya itu. Dan karena aku juga jadi nggak tertarik lagi untuk belajar 'Manajemen Pemasaran' atau topik-topik yang berhubungan dengan manajemen dan/atau bisnis.
Oke, aku masih ada minat sih sebenarnya untuk ngejar S2, tapi beasiswa, heheh. Tapi kalau nggak dapat itu? Masa balik ke belajar manajemen bisnis?

Lalu, out of nowhere, si senior ini bercerita, dia mau mengikuti ujian masuk untuk S2 Kajian Wilayah Amerika. Selanjutnya, browsing-browsing, eh ternyata ada S2 Sastra dengan salah satu pilihan pengkhususannya pada Cultural Studies.

Mbaca kurikulumnya, kok menarik ya?
Harganya juga...sesuai kantong lah.
Dan mengingat kompartemenku sekarang, hmm...kayaknya bisa nih disambi.

Alternatif lain juga ada; S2 Filsafat, di sekolah lain, yang biaya per semesternya setengah yang pertama. Sekolah ini ternyata juga punya program kursus semesteran dan kuliahnya seminggu sekali. Harganya? 200 ribu per semester!

Sesaat, aku merasakan euforia. Tapi yang ini, euforia yang membumi; karena apa yang aku inginkan ini, masih dalam jangkauan kemampuan, tenaga dan finansial.

Tapi, sekarang pertanyaannya, apa ini benar-benar yang aku inginkan dan butuhkan? Inginkan? Iya, pasti. Butuhkan? Hmm...yang ini sepertinya butuh pemikiran lebih matang.

Si senior mungkin sudah waktunya lagi, sesuai perputaran siklus hidup, untuk kembali mengasah dirinya di dunia akademis. Memberi stimulasi dari dunia yang berbeda pada otak, mengisi kembali batere-batere pengetahuan, memperluas perspektif untuk menghasilkan tulisan yang kaya. Sementara aku? Tidak sampai dua tahun yang lalu aku selesai (sementara) dengan dunia itu. Jangan-jangan ini cuma sekedar klangenan baru, cara untuk melarikan diri dari tanggung jawab dunia nyata. Dan cuma gara-gara ikut-ikutan.

Nggak tahu ini sekedar pembenaran atau sebuah argumen yang makes sense...aku merasa ketinggalan jauh dalam masalah kekayaan perspektif, dan perspektif yang kaya itu dibutuhkan dalam menjalani pekerjaanku, dan pendidikan adalah salah satu jalan untuk memperkaya perspektif itu kan?

Selain itu, meyakinkan orangtuaku adalah suatu 'pekerjaan' lain lagi. It's my money, I know. Tapi mereka tidak bisa tidak akan mengajukan pertanyaan tentang apa yang mau aku lakukan dengan uang itu, dan tidak membuangnya secara sembarangan.

Aku sendiri masih belum bisa menjawab pertanyaan: apa benar, aku benar-benar butuh pendidikan itu sekarang?

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments