Entry: Weekend Story Sunday, February 19, 2006



Kantor, Minggu malam, biasanya sepi-sepi aja. Dan emang, udah dari tadi kedengerannya sepi, damai. Mungkin karena aku sekarang nggak duduk di deket para golden boys itu ya, yang suka heboh-heboh sendiri dengan pembicaraan telepon yang tak henti-hentinya dengan para ketua lembaga negara atau setidaknya anggota lembaga negara.

Deretan mejaku dulu sekarang udah jadi deretan meja orang-orang serem, euy. Meja orang-orang terpilih, murid-murid pilihan; hmm, kok jadi aromanya seperti Perjamuan Kudus?

Tiba-tiba ada rame-rame di dekat deretan itu, dan terdengar tawa khas seorang tua , ups..matang mungkin tepatnya, membahana. Sang PU,  Legenda Hidup, favorit beberapa perempuan muda angkatan Agustus, ternyata memang sedang memunculkan diri. Berjalan mondar-mandir di lorong panjang, yang sekarang baru aku sadar dan curiga... kok kayak catwalk sih? Apa memang dibentuk seperti itu?

Anyhow, komputerku udah nge-hang dua kali. Sebelumnya sempet mbaca-mbaca artikelnya Kompas Sabtu kemarin, tentang BLBI yang dikupas tuntas. Lha, kalau gitu, apa lagi dong yang mau kita bahas sekarang? Mau ngelanjutin kerja, tapi udah kehilangan semangat gara-gara komputer hang itu.

Sayangnya, komputer nge-hang itu bukan karena masalah kerjaan, tapi karena di antara kerjaan, aku lagi pengen goofing off, dan nge-Google orang yang baru aku ketemu Sabtu kemarin.

Weekend story yang lumayan...yah, ada warnanya dari sekedar jalan-jalan ke mal. Sabtu siang, pergi ke sebuah perpustakaan di tengah kota, karena ada diskusi tentang penulisan kreatif. Acara jam 1, berangkat dari rumah jam 1 kurang 5. Parah.

Sampe di lokasi 1.45, dan ternyata acaranya baru mulai. Hahahah.

Yang dateng ternyata sedikit. Dan para penulisnya, ceritanya itu buku diterbitin borongan ama 3 orang penulisnya, cuma satu orang yang cukup lancar berbicara tentang penulisan kreatif. Padahal moderator, dibantu beberapa orang di sekitarnya, udah memancing reaksi dengan berbagai cara. Gawatnya, yang nulis paling banyak malah yang kurang komunikatif.

Tapi, tidak bersedia untuk membiarkan siang itu tanpa makna, akhirnya setelah diskusi selesai nanya-nanya lebih jauh ama salah seorang pembicara de facto yang cukup articulate.  Namanya sih udah pernah denger sebelumnya, udah pernah liat buku yang ditulisnya di Gramedia juga, tapi baru tau..."Oh, ini to yang namanya..."

Akhirnya nanya-nanyalah aku tentang cara membaca yang baik, mengapresiasi bacaan, apa ada yang salah dengan caraku selama ini, etc, etc. Ada beberapa nama yang disebutnya terus-terusan, dan saat dia membaca semacam check-list apa yang udah aku baca dan belum.

Dia membaca Steinbeck, tapi tidak menyukai caranya bercerita, karena terlalu banyak tentang detil eksterior alam, tapi kurang pada psikologis para tokoh. Lalu dia menyebut Octavio Paz, dia menyukainya untuk suatu alasan, aku lupa apa...tapi tidak menyukai ke-asosial-an Paz. Lalu dia menyebut Neruda, tapi aku curiga...mungkin dia menyukai Neruda untuk Canto General dan 'the struggle for the social justice' daripada Neruda yang menulis sajak-sajak cinta. Dia mengaku belajar tentang alegori dari Marquez. ("Siapa?" tanyaku, karena dia menyebutnya Mark West.. Baru setelah dia bilang, "Gabriel Garcia.." aku baru meng-ooh, dan menjawab iya sudah mbaca kok.)

(Abah waktu aku ceritain tentang percakapan ini bilang, "Ih, aneh ya. Kenalan bisa sampe menyeluruh gitu." Aku: "Lha, kan emang sengaja apa yang harus dibaca, terus dia yang kayak ngecek gitu, apa aja yang udah aku baca..")

Nah, sehubungan dengan dia nanya apa yang udah aku baca, it was quite pathetic, man. Di kepalaku cuman keinget, Salinger ama Umar Kayam sebagai penulis favorit. Pas dia nanya, "Iwan Simatupang?" aku langsung teringat sama 'Ziarah' yang baru dibeli sekitar akhir November, awal Desember lalu pas ada jualan buku 50% di Perpus Diknas, dan sampai sekarang masih kebungkus rapi, gara-gara aku masih milih mbaca yang lain. Oh ya, tiga cerita pendek di 'Tegak Lurus Dengan Langit' pinjeman dari si ex, yang akhirnya harus cepet-cepet dibalikin karena hubungannya berakhir, bisa diitung nggak sih? Dan aku kok ya lupa pas itu...

Dan ada penulis-penulis lain yang nggak aku sebutin pas dia nanya. Huks, jadi ngerasa kecil. Padahal kan preferences-nya aja yang emang beda. Oke, oke, aku emang harus ngebut mbaca, tapi ada kan yang udah aku baca dan yang lain belum...

Anyway, browsing-browsing di Google (yang akibatnya nge-hang dua kali), ngeliat tulisannya si sosok yang ternyata juga kerja sebagai wartawan budaya di sebuah harian sore, dan kelihatan banget..apa yang dia baca tercermin di tulisannya. Dari tema, gaya penulisan, warna-warnanya; sedikit Steinbeck, sejumput Marquez, beberapa tetes Neruda.

Dia sempat menanyakan kabar dua orang temannya yang bekerja di kantorku. Dan ini, aku tidak bisa tidak membandingkan dia dan salah seorang temannya di kantorku. Orang ini, cukup simpatik. Santun dalam berbicara, tidak menimbulkan kesan ingin membuat orang terkesan dengan siapa dia, berbeda dengan...ah, well.

Karyanya juga cukup aksesibel, berbicara dengan orangnya juga nggak aneh-aneh. Sosok menyenangkan untuk berdiskusi singkat di Sabtu siang. 

Dari situ, terus ke daerah Jakarta Timur, ada rockumentary; sempet nonton dua, yang pertama tentang Bob Dylan (fake! Corporate sellout!), dan Flaming Lips (ah, nggak pernah ngecewain mereka... my favorite...)

Arrgh, jam 10. Anteran udah mo berangkat. Weekend almost oveeerr!!!

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments