Entry: Percakapan Saturday, August 22, 2009



Pada sebuah detik, aku mendapati kekangenan ini.

 

Akan percakapan yang baik, yang mampu menggerakkan respons dan indera bukan hanya pada permukaan. Aku akan tahu jika sedang berada dalam sebuah percakapan yang aku anggap 'baik' itu. Otakku akan berdenyut, mengingat, mencerna, lalu mulai menuliskan sesuatu di sini. Sering potongan-potongan percakapan 'baik' itu masih akan aku ingat sampai waktu lama.

 

Dengan analogi tersebut, aman diasumsikan bahwa sejak 7 Juni 2009, atau masukan terakhir dalam blog ini, aku tidak lagi mengalami percakapan-percakapan yang masuk kategori 'baik' itu.

 

Setidaknya, tidak ada sesuatu dari semua percakapan itu yang kemudian aku ingat lalu menjadi makanan buat otak, untuk kemudian bisa dimunculkan atau dirasai di sini.

 

Terlepas dari banyaknya waktu yang aku habiskan di Twitter, upaya-upaya percakapan yang dibangun, aku tidak menganggap serius semua itu. Hanya sekadar basa-basi antara sesama orang asing yang jika di dunia nyata akan dilakukan di antrian anjungan tunai, halte bus, atau sekadar sebuah bentuk maya dari, "Permisi, sekarang jam berapa ya?"

 

Aku tidak percaya ada percakapan baik yang bisa terjadi dalam batasan 140 karakter.

 

Salah satu sumber keyakinan itu adalah bab pertama dari "Rafilus"-nya Budi Darma. "Dalam kebosanan pun kadang-kadang kita masih berdebar, karena selamanya kita masih mempunyai harapan, betapa kecil pun harapan itu. Memperoleh rejeki, berjumpa dengan sahabat terkasih, lulus ujian kesehatan, dan lain-lain adalah riak-riak kecil yang dapat memberi kenikmatan."

 

Aku cukup percaya ini adalah kutipan yang baik. Dan aku hampir saja mengetikkan dan mengirimkannya di Twitter. Kemudian yang terbayang adalah berapa tweet yang harus dikirim untuk menyampaikan sesuatu yang sederhana tapi indah seperti itu. Proses mekanis pengiriman kutipan itu kok terancam menghilangkan efek dahsyat dari kumpulan kata 'debaran', 'harapan', atau 'riak kecil'. Contoh-contoh peristiwa hidup yang disebut Budi Darma di kalimat-kalimat di atas pun sebenarnya sesuatu yang trivial, tapi tak menjadikan pemahamannya sebagai sesuatu yang klise.

 

Lainnya lagi, kalimat-kalimat Budi Darma itu diberi kesempatan bernafas. Ada struktur yang dipatuhi. Ia membangun klimaks/antiklimaks dengan penyusunannya. Hal-hal yang belum aku temukan dalam sistem reply, retweet, pertukaran atau pengumuman tautan, atau lontaran pemikiran yang langsung diekspresikan tanpa mungkin sempat dicerna lama.

 

Sepertinya kita sedang berputar-putar, tetapi penyadaran yang waktu itu aku alami terjadi lumayan cepat. Sehingga aku sampai pada kesimpulan, jika kamu menginginkan sesuatu yang bermakna lebih, jangan mencari itu dalam batasan 140 karakter. Mungkin bisa saja kamu akan menemukannya, tapi jangan terlalu berharap akan peluangmu. Kesalahanku adalah menganggap Twitter sebagai sebentuk blog mini.

 

***

 

"Yang gue khawatirin dari puasa, nggak bisa ngelamun jorok siang-siang gitu lho. Padahal itu kan aktivitas yang biasa dilakuin kalo siang-siang lagi nggak ada kerjaan."

 

"Bisa kok. Tapi harus dibawa ke arah yang positif," kata Nona Larutan Buffer alias Ccr. Semua dengan pandangan positif dan optimis, sementara aku masih berpikir: gimana caranya ngelamun jorok bisa dibawa ke arah yang positif? "Eh tapi, ini sesuatu yang bisa disiasati nggak sih? Hehehehe," tambah dia dengan mata membesar.  

 

"Jadi gini, siang-siang, lo ceritanya ketemu di masjid."

 

Ealah, positifnya itu maksudnya cuma karena lokasinya masjid?

 

"Nah terus pisah dulu. Lanjut lagi sore-sore, ketemu di gang-gang kecil yang banyak toko buku di Paris. Baru deh, pas udah maghrib, nanti bisa lo puaskan imajinasi itu dengan…ya gue nggak bisa membayangkan pakai apa ya. Hahahaha." Menjelang tawa di akhir itu, Ccr mulai ngangkat mug kaca dengan tangan kirinya, sejengkal di atas meja. Gestur yang memberi kesan dia menyarankan aku melakukannya dengan mug kaca itu. Tangan kanannya menutup pelipis dan mata kanannya.

 

"Jadi lo buat aja ceritanya panjang, Nar. Terus bisa dikirim buat lomba cerpen Femina. Hadiahnya Rp 4,5 juta lho. Kalau lo bisa buat ceritanya panjang banget, hadiahnya malah Rp 10 juta. Itu kan yang dilakukan orang-orang jaman dulu? Atau enggak?"

 

***

 

Gestur, suara tawa manusia—jenis yang dihasilkan jika tertawa dilakukan dengan seluruh bagian tubuh, bukan sekadar ketikan 'Hahahaha' dari jari—keabsurdan ide dan arah percakapan, serta yang terpenting, sensasi keterhubungan itu. Himpunan semua itu sepertinya yang aku kangeni dari sebuah percakapan.

 

   7 comments

cctv karachi
October 24, 2011   05:49 PM PDT
 
If you want to see the mind blowing article with real facts and figures, this has really tremendous impacts on readers.
Study in UK
May 10, 2011   06:12 PM PDT
 
If you want to see the mind blowing article with real facts and figures, this has really tremendous impacts on readers.
zenis
March 10, 2011   12:04 PM PST
 
nice blog. thx
binar
July 6, 2010   12:30 PM PDT
 
nice post
good writing
setia
November 15, 2009   01:36 PM PST
 
sulitnya mencari sahabat yang obrolannya nyambung n tulus di dunia nyata. ^^
Den Mas
September 10, 2009   01:46 AM PDT
 
Hari ini sebuah percakapan kecil dengan temanku menyadarkan, tentang makna kehidupan nyata. Kalau kita mati, adakah bagian terkecil dari dunia maya itu peduli?
morishige
August 28, 2009   08:22 PM PDT
 
pada akhirnya semua orang akan menyadari bahwa percakapan sebenarnya... adalah obrolan yang terjadi di dunia nyata.
:mrgreen:

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments