Entry: Pertemuan khas Jakarta Sunday, June 07, 2009



Jumat kemarin, inilah kalimat-kalimat Kerouac yang membuatku tertusuk. Waktu di M19 dan membaca 'Lonesome Traveler'. Babnya 'Big Trip to Europe', dan Kerouac sudah tiba di Paris.

 

"I stopped at a cafe, ordered Cinzano, and realized the racket of going-to-work was the same here as in Houston or in Boston and no better--but I felt a vast promise, endless streets, streets, girls, places, meanings, and I could understand why Americans stayed here, some for lifetimes."

 

Selanjutnya adalah sebuah paragraf. Aku mulai dari titik terdekat dari bagian akhir. "Then I sat in a little park in Place Paul-Painleve and dreamily watched a curving row of beautiful rosy tulips rigid and swaying fat shaggy sparrows, beautiful-short haired mademoiselles strolling by. It's not that French girls are beautiful, it's their cute mouths and the sweet way they talk French (their mouths pout rosily), the way they've perfected the short haircut and the way they amble slowly when they walk, with great sophistication, and of course their chic way of dressing and undressing.

 

Paris, a stab in the heart finally."

 

* * *

 

Jumat seharusnya hari libur, tapi pada jam 10 malam sebelumnya aku baru ingat ada sebuah diskusi kelompok fokus di kantor yang harus aku tunggui dan liput. Dan itu tidak bisa dialihkan karena aku jadi semacam salah satu project officer dalam rangkaian acara itu.

 

Karena lupa acara itu, aku sudah membuat janji wawancara paginya di sebuah tempat dekat kantor dengan seorang konselor yang pada akhirnya malah memberi pesan-pesan tidak terlalu tersembunyi soal perilaku.

 

Aku menyebut sesuatu soal hilangnya sopan santun atau pembuka dan penutup yang jelas dalam interaksi sosial, sehingga fungsi sosial jadi kabur. Ibu konselor menyebut soal orang yang tidak biasa menerima ucapan terima kasih atau dihargai, dan ketika menerimanya, jadi memberi reaksi yang 'aneh'. Aku lupa apa yang terus membuat dia menyebut-nyebut soal "kalau misalnya kamu pacaran, terus kamu nggak pernah bilang sayang, jangan heran dong kalau pacar kamu terus pengen sama orang lain. Memilih orang yang...afeksinya lebih nyata."

 

Hmm, my mother said something of the like once. Menurut dia, rasa afeksiku kurang nyata, dalam urusan romansa salah satunya. Well, mom,maybe it's because I don't see anything or any signs that makes it worthwhile to not be ja-im?

 

"Padahal kita sukanya udah menggebu-gebu, tapi kalau nggak dibilangin, ya percuma aja. Masalahnya kan cuma diterima atau ditolak. Kalau ditolak, ya udah, jadi kamu bisa bebas mencari yang lain. Jangan terus kita sibuk sendiri sama asumsi yang sudah sampai wuiihhh...padahal kita yang rugi sendiri."

 

Itu dari ibu konselor. Sengaja aku tuliskan agar menjadi encouragement buat para pembaca, hehehe.

 

Seselesainya wawancara, dan sekeluarnya dari tempat itu, aku mencari ojek untuk ke kantor. Pangkalannya kosong.

 

Lalu ada sopir bajaj yang sibuk membenahi bajajnya. Aku dekati dan aku tanya, "Narik, Pak?"

 

Bibir si sopir masih menjepit sebatang rokok. Dan dia berkonsentrasi pada kemudinya seperti tidak mendengar pertanyaanku. "Pak. Narik, Pak?"

 

Baru dia menoleh, "Ya iya, neng."

 

Aku naik, menyebutkan tujuan, si abang menyebut harga, mesin dinyalakan dan bajaj diputar.

 

"Mbak. Mbak kerja di xxxTV ya?"

 

Untuk gampangnya, aku jawab iya. Setidaknya kita bekerja di kompleks yang sama.

 

"Mbak, biasanya yang kerja di sana pinter-pinter kan? Mbaknya pasti pinter kan?"

 

"He? Emang kenapa, Pak?"

 

"Kalau ada soal 'x pangkat 3 tambah y pangkat 4 sama dengan 5 tiga perempat pangkat 4' itu gimana mbak? Saya minta tolong ini, mbak. Tolooongg sekali. Masih inget nggak, mbak?"

 

"Wah, enggak pak."

 

"Saya minta tolong ini, mbak. Benar-benar minta tolong."

 

"Tapi saya lupa, Pak." (Dan pada saat diajarkan pun, aku tidak yakin pernah mengerti konsep itu dengan tepat)

 

"Biasanya kan mbak, kalau cuma x pangkat 3 tambah y pangkat 4 terus ada hasilnya, saya juga bisa. Lha wong saya dulu juga sekolah kok. Sampai SMA lho. Tapi ini udah per-per-an, dipangkat lagi. Wah saya ya bingung."

 

"Iya, pak, saya juga bingung."

 

"Seinget saya dulu itu pangkatnya harus disamain, tapi wuah, sampai pusing saya mbak. Saya bawa bolpen ke mana-mana. Nanya penumpang di jalan. Mbak itu orang keempat yang saya tanyai."

 

"Emang buat apa pak?"

 

Lalu berceritalah si sopir bajaj soal ceritanya. Anaknya sudah pada usia masuk kuliah dan dia sedang mendaftar untuk beasiswa. Pak sopir bajaj mendaftarkan segala urusan administrasi si anak, dan aku tidak mengonfirmasi bagian ini, melihat soal-soal tes masuk. Salah satunya itu tadi.

 

Bentuk beasiswanya adalah keringanan biaya per semester. Dari yang Rp 9 juta per semester, jadi Rp 3 juta per semester. Si sopir bajaj masih meragukan kualitas universitas yang memberi anaknya beasiswa.

 

"Bagus nggak mbak?"

 

"Lumayan kan, pak?"

 

"Jadi yang bener yang mana?

 

"Maksudnya?"

 

"Sebelum mbak, ada tiga orang lain yang bilang kurang bagus."

 

"Bandingannya apa pak?"

 

Ia lalu menyebut nama sebuah universitas lain. "Yaaa, kalo dibandingin itu, lebih bagus yang tempat anak bapak ngelamar kali."

 

Tapi lalu dia kembali pada hal yang paling mencemaskannya, ujian tes masuk. Dia mengucapkan kata-kata yang sudah lama tidak aku dengar, 'pembilang', 'penyebut', lalu anaknya yang mengambil SMK daripada SMA, dan bagaimana dia khawatir itu dapat mengurangi kesempatan anaknya untuk mampu menjawab soal ujian masuk.

 

Sampai di tujuan, depan gerbang kantor, aku turun, dan si abang masih meneruskan percakapan. "Lha saya kan cuman sopir bajaj, mbak."

 

Aku langsung berasa menjadi Cut Mini karena ingin bilang, "Biar bapaknya sopir bajaj, anaknya harus sarjana," atau sesuatu seperti itulah. Tapi ternyata si bapak sudah punya seorang anak sulung yang sedang praktek kerja lapangan di suatu tempat di Kalimantan karena perkuliahannya di IKIP (dia masih menyebutnya itu). Si anak sempat mampir ke Jakarta, tapi tak sempat bertemu ayahnya karena mesin bajaj yang rusak, dan si ayah baru bisa sampai rumah jam 1 malam.

 

Si sulung membawa tas ransel dan menitip pesan pada adiknya, "Salam aja buat Bapak."

 

"Kakak itu duitnya banyak, Pak. Aku diajak ke supermarket. Dibeliin permen, dikasih uang 4 ribu, terus dibeliin sepatu," si bapak meniru kata-kata anaknya. "Tapi kenapa ya mbak, sudah saya kirim itu telponnya (mungkin sms), dia nggak pernah nerima? Apa ilang telponnya?"

 

Selanjutnya ada cerita juga soal sawah yang ia dapat sebagai warisan dari orangtuanya 15 tahun lalu, lalu ia gadaikan untuk biaya kuliah si sulung. Sekarang, ia punya Rp 8 juta untuk biaya kuliah si adik. Berbalik dari cerita sebelumnya, ternyata si adik itu sebenarnya sudah diterima di universitas yang memberi beasiswa itu. Belum puas tapi, dan soal rumit itu ternyata untuk mendaftar di Universitas Indonesia.

 

"Sama teman-teman, tetangga-tetangganya, dia itu sering dibilang 'kelas berat'. Temennya aja yang bermobil segen ama dia. Maaf ya, mbak, kalau saya ngambil waktu mbak buat cerita."

 

* * *

 

Aku yakin akan terlambat buat janji ketemuan makan malam dan bertukar cerita di Grand Indonesia. Jam 6.30 aku baru berangkat dari kantor karena narasumber ini sulit ditemukan celah menghentikannya.

 

Turun metromini di daerah Kemanggisan, berharap dapat ojek dari situ, ternyata kosong. Mungkin karena ini Jumat malam. Taksi juga, duitnya mepet. Jadi oke, di depan pasti ada ojek.

 

Berjalan sekitar lima menit dan jam sudah tinggal 15 menit menuju 19.30, lalu dari belakang ada seruan, "Ojek, neng?"

 

Aku menyebut tujuan, si abang meminta harga 45 ribu, yang aku tawar langsung jadi 20 ribu. Dia minta 30, aku berkukuh di 25. Dia setuju.

 

Helm yang dia tawarkan dan aku pakai ternyata…."Bang, ini helm apa, kok kopong sih?"

 

"Ya abis orang sering bilang kotor, jadi busanya saya copot."

 

Waktu dipakai, aku jadi merasa seperti hiasan anjing angguk-angguk di dasbor mobil. Helm kopong itu jadi kepala anjing yang terus mengangguk-angguk sendiri. Ada gema setiap kali aku bicara.

 

Di daerah Kebon Kacang, abang ojeknya sempat melawan arus terus belok kanan dan mengambil arah ke Teluk Betung. Aku minta turun di pintu masuk dekat Coffee Bean.

 

"Ada lima ribu, bang?"

 

"Ada."

 

Terus si bapak ojek ini senyum ngelihat aku. "Kalau diliat dari muka, kamu itu pasti masih muda sekali ya?"

 

"Hah? Kok bisaaaa?" aku bilang, sambil masih mengaduk-aduk lembar 10 ribuan yang tersisa. "Emang mudanya berapa pak?" Ini ditanyakan, murni untuk alasan vanity, walaupun agak berjudi.

 

"17 tahun," kata si bapak, straight-faced.

 

Nah, dari anjing dasbor aku langsung merasa jadi Manohara. Cewek-cewek di sekitarku sering bilang, "Manohara tuh umur berapa siiihhh? 17 tapi kok udah kayak…29, 30?" Ternyata efek itu bisa dilihat sebaliknya, perempuan usia 26 seperti aku sekarang bisa dikira 17 tahun karena faktor M.

 

Mbak Octopus yang jadi teman makan malam Jumat itu sudah duduk menunggu di depan lift. ATM, kamar mandi, pilih tempat makan, akhirnya duduklah di sebuah restoran Asia.

 

"Jadi, gimana Eropa?"

 

Hihihi. Di sini identitasku berubah lagi. Aku pikir cuma Sofia Coppola atau Kirsten Dunst atau Claire Danes atau Natalie Portman yang bisa mengajukan pernyataan, "I've just been back from Europe" atau diajukan pertanyaan "So, how's Europe?" oleh teman-teman dekatnya, dan bercerita seolah mereka mendapat pencerahan yang semakin memperdalam sudut pandang estetis mereka. It turns out, I can do that too.

 

I talked a lot that night, I think. Dari soal mekanisme doa, meet cute, meresensi dadakan, lukisan, teori soal Paris yang menurutku tidak tepat jadi tempat tujuan bulan madu. Satu ingatan favorit adalah Amsterdam yang tidak berubah, seperti aku habis pergi satu bulan terakhir, dan kembali ke sana dan mendapati semuanya tetap sama. Orang-orang punya selera berpakaian yang berbeda, memang. Selain itu, semuanya tetap sama. Bahkan aroma panggangan pastry di supermarket Albertheijn.

 

Beberapa orang sempat bertanya, "You must be really excited to be back here."

 

Jawabanku adalah "maybe" yang cukup kabur. "Fakta itu belum terbenam di otakku. Atau mungkin karena saking overwhelmingnya ya." Atau mungkin lagi, karena aku berada di sana seharusnya menjadi satu keniscayaan. Jadi ketika ada di sana ya, business as usual saja.

 

Selesai itu kami mencari yogurt, dan hanya ada Sour Sally, yang aku sudah swear to never buy again. Dan akhirnya beli gelato di Gelato Bar. Aku pilih rasa white chocolate, dan ada cerita lanjutan soal Paris dan es krim Berthillon.

 

Aku dan mbak Octopus berjalan menuju tempat perhentian bis masing-masing. Keluar pada jam 10, tepat saat toko-toko tutup, dan jalanan menjadi penuh dengan pekerja toko, para penjemputnya, tukang ojek mencari penumpang dan mobil-mobil mewah yang keluar dari pusat pertokoan.

 

Di jembatan kami melihat seorang bapak bertubuh kerdil sedang tidur telungkup, hanya memakai celana panjang, sambil salah satu tangannya memegang lembaran uang. Mbak Octopus mengucapkan sesuatu soal kasihan melihat. Dan saat menuruni tangga, kami sedang membicarakan tentang…membeli rumah? Aku tidak ingat lagi.

 

Kaki menjejak di depan hotel Nikko, berbelok ke kiri dan di depanku ada wajah yang butuh beberapa detik untuk dikenali. "Lho?" (seingatku aku bilang begitu, tapi mulutnya sepertinya juga menggesturkan ucapan ini. Aku lupa apa suaranya dia keluar atau tidak)

 

"Apa kabar?" (ini aku, dengan penekanan soal pentingnya pembuka dan penutup resmi dalam interaksi sosial)

 

Aku lupa jawabannya apa. Tangan yang ia ajukan untuk dijabat terasa dingin dan setengah lembab. Jabat tangan sekenanya.

 

"Oh," aku ingat ini selanjutnya yang dia bilang. Gestur jarinya terlalu tidak jelas sebenarnya untuk menyuruh menunggu tetapi ia membuka ritsleting tas. Dia mengaduk dan mencari sesuatu di dalamnya, dengan satu tangan masih menggenggam bungkus Sampoerna A Mild yang penyok-penyok di bagian dasarnya. Aku melihat kaleng bir di dalam tasnya. Dalam hati aku berkomentar, 'persediaan'. Hampir aku lontarkan, tapi memilih tidak. Apa ada sekilas aroma sabun? Nggak ingat. But he's usually clean shaven, this time I saw blackish stubs above his lips.

 

Sesuatu dia tarik dari tasnya, dia berikan tepat di depan wajahku. A Short History of Tractors in Ukrainian, lalu lambang penerbit Gramedia di pojok kanan atas. "Ini berarti rejekimu," kata dia, terus langsung menaiki tangga jembatan penyeberangan.

 

"Hah? Makasih."

 

Tanpa menoleh ke bawah atau ke samping, bergerak dan berjalan semakin cepat, dia melambaikan tangan kirinya.

 

"Meet cute, Nar." Ini dari Mbak Octopus yang (hah sopan santunku ke manaaaa?) tidak aku kenalkan pada hantu pemberi buku barusan.

 

Dalam hati aku bilang, enggak, ini meet strange.

 

Kalau ini adalah sebuah film, setelah mbak Octopus bilang "Meet cute, Nar," aku akan membalas deadpan dengan "Bukan, ini meet strange." Terus jeda satu detik, dan menggelegarlah "Hello, hello, hello, goodbyeeeee," dst dst dari "Hello, Goodbye"-nya The Beatles.

 

Yah, pertemuan-pertemuan khas Jakarta bertumpuk dalam satu hari. Semuanya lebih ajaib dari yang berikutnya.   

   7 comments

zenis
March 10, 2011   01:18 PM PST
 
nice story. thx
kim
July 6, 2010   12:31 PM PDT
 
menarik
beartje
November 22, 2009   07:26 PM PST
 
you should have you own column!
When will you visit me in Edinburgh!!!
gin
July 2, 2009   01:20 AM PDT
 
keren...gw suka...salam kenal!
didut
June 16, 2009   03:25 PM PDT
 
hmm....bisa gak yah membuat postingan dengan kata kata sepanjang ini :D

Salam kenal
lambekobong
June 15, 2009   03:03 AM PDT
 
nariiii, been ages since last time reading ur writing againnnn >_<. hmm..., do i know this miss octopus, i wonder... :P
tamhitam
June 12, 2009   10:48 PM PDT
 
hihi alo P-nari. kenalan ya:P

kalo para desainer n illustrator paling seneng kalo logo/gambar/hasil karya mereka dibilang 'so stunning' justru gue malah stunned pisan dengan cerita lo ini hihi seruuuuuuuu. gue amazed ban-get hihihi.

ke-vanity-an lo akan "17 tahun"(kata bpk ojeg) masi berasa dungs sampe sekarang hahaha pisss... V'' pipis :P salam ya buat rekan2 blu collar :D

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments