Entry: Shattered Glass Monday, November 21, 2005



Saya baru seminggu yang lalu menonton film ini. Terlambat sebenarnya, karena dvd bajakannya sudah terlalu sering saya lihat bertebaran di Ambassador sejak setahun yang lalu, tapi saya tak kunjung membelinya. Akhirnya, Sabtu malam minggu lalu saya menontonnya. And it was okay. Film yang rapi, menurut saya. Rapi dalam penyutradaraan, timing, dialog, akurat dan realistis sehubungan dengan dunia yang ditampilkan, enjoyable lah.

Mungkin karena didasarkan dari kisah nyata, jadi para pembuat filmnya punya dasar untuk mengembangkan setting waktu, tempat, dan karakter orang-orang yang terlibat. Dan jika ini bisa dikategorikan sebagai akting yang bagus; Hayden Christensen dapat membuat Stephen Glass sebagai sosok menyebalkan untuk seorang pembohong patologis. Atau mungkin karena saya akan selalu membenci sosok seperti Stephen Glass di dunia nyata. Bagaimana ia bisa populer di kalangan peers-nya, kemampuan menulisnya (harus diakui, tulisannya setidaknya memenuhi standar kualitas tertentu untuk masuk di TNR, The New Republic, bukan Tempo News Room :D) yang juga membuat iri peersnya. Lalu, bagaimana Glass bisa menjadi favorit para editor, bukan hanya majalahnya sendiri, tapi juga di George, Harper's, atau RollingStone.

Ada satu adegan yang membuat saya tertawa. Bukan karena adegan itu lucu, tapi karena it hits home, saya merasa terwakili di situ. Salah satu kolega Stephen, Amy Brand (Melanie Lynskey) , meminta Caitlin Avey (Chloe Sevigny) untuk memeriksa tulisannya.

"What do you think?" tanya Amy penuh harap. Saya lupa jawaban tepatnya, tapi intinya Caitlin memberi tanggapan negatif. "Kenapa kamu mau beralih dari keahlianmu dan menulis sesuatu seperti ini?" Caitlin balik bertanya. "Kamu bagus menulis tentang kebijakan, bukan tentang sesuatu yang lucu. You don't write funny," tegas Caitlin.

Lalu, Amy, perempuan dengan pipi tembam itu mengatakan, "Tapi para editor itu tidak mau lagi tulisan seperti ini.Mereka ingin tulisan yang lucu."

"Jadi itu alasannya? Kamu mau menulis seperti Stephen?"

--dan ini saya kutip langsung dari imdb.com--

Amy: "Have you noticed the way Steve's phone has been ringing lately? Did you see all those editors at the correspondence dinner? The way they were circling him?

Caitlin: "Is that what you want, Amy? To get a bunch of smoke blown up your ass by a pack of editors?"

Amy Brand: "Yes. Yes it is."

--end quote--

Amy mengingatkan saya pada diri saya sendiri. Ia menginginkan apa yang saya inginkan; get a bunch of smoke blown up my ass by a pack of editors.

Tak usahlah TNR, yang katanya the snobbiest rag in the business, in flight magazine di Air Force One, di tempat saya juga ada seorang Stephen Glass. Sayangnya, atau untungnya, tergantung dari sisi mana melihatnya, Stephen Glass ini tidak mengarang beritanya. Favorit para redaktur, dikagumi teman-teman sejawatnya, atau setidaknya diakui kemampuannya oleh peers-nya, dan orang ini tahu bahwa dia is that good.

Sekali, saya pernah mencoba peruntungan dan bertanya ke seorang teman, kenapa tulisan 'Stephen Glass' itu bagus?

Jawaban si teman, "dia itu diksinya kuat, vocabnya banyak, dan punya banyak referensi." Dan saya, seperti jawaban karakter Chuck Lane setelah Glass mempresentasikan idenya, hanya bisa mengatakan, "Wow, a tough act to follow." Dan ini terjadi sebelum saya menonton filmnya.

Ternyata, di kantor, banyak juga Stephen Glass-Stephen Glass yang lain, masing-masing dengan kemampuan yang beragam. Dan mereka-mereka yang ada di pikiran saya ini memiliki banyak hal secara bersamanaan; kekuatan diksi, referensi yang luas, apresiasi yang dashyat, imajinasi tanpa batas, kepekaan menakjubkan pada detil, dan perlukah disebutkan kemampuan merangkainya menjadi satu tulisan?

Jika semua itu adalah hasil kerja keras, dan bukan bakat, seberapa keraskah mereka bekerja? Saya bergidik membayangkannya.

Tapi saya juga merasa menjadi bayi besar, karena tidak bisa mengakui keunggulan mereka.

Oke, oke, saya pernah bertanya pada seorang senior, apa sih bagusnya tulisan saya? "Kamu kuat di gaya bertutur," jawabnya. What the hell was that? Itu belum cukuplah. That's nothing.

Tapi oke, mencoba berhenti menjadi bayi dan produktif, selain menambah referensi, apa lagi sih yang harus dilakukan agar menjadi bagus? Adakah manual, seperti judul bukunya Nick Hornby, tentang how to be good?

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments