Entry: Indera 2 Saturday, April 25, 2009



My eyes have been causing quite a few problems.

Dari keengganan memakai kacamata (karena kata Dorothy Parker: Men won't make passes at girls who wear glasses dan seorang teman yang juga enggan memakai kacamata karena alasan: "Nanti gue kelihatan pinter dong. Padahal 'jualan' gue kan bukan pinter". Yeah, yeah, super shallow, I know), aku beralih ke lensa kontak. 

Nah, di sini nih masalahnya berawal. 

Pada suatu hari tahun lalu, aku berusaha mencabut-cabut lensa kontak itu dan nggak bisa dapat apa-apa. Aku pikir, karena aktivitas naik ojek dan sebagainya, itu lensa sudah terbang ketiup angin. Keesokannya aku ganti yang baru.

Anehnya kok mataku nggak bisa fokus, dan meraaaah banget. Dicopot, dipakai lagi, tetap nggak bisa fokus. Bahkan, pada satu waktu, ada masa perjalanan naik P6 dari Cawang sampai MPR, mataku nggak bisa dibuka saking sakitnya.

Ternyata, lensa yang awalnya aku pikir sudah terbang dan nggak bisa dicabut, masih tetap terpasang. Penyebab mataku nggak bisa fokus adalah aku menumpuk dua lensa. Lensa yang awalnya tidak kunjung bisa dicopot sudah terpasang nonstop dua sampai tiga mingguan.

Dari situ aku masih tetap memakai lensa kontak.

Bahkan sampai dibawa ke perjalanan Vietnam-Kamboja. Baru menjelang akhir perjalanan di Kamboja yang berdebu menggunakan tuk-tuk terekspos udara terbuka itu, aku menemukan satu tips di Lonely Planet's Southeast Asia on a Shoestring Budget. "Cambodia is very dusty. So pack your glasses instead of your contacts. Afraid to look like an old lady you say? You'll be drooling on the plane anyway, so what's a drool compared to a couple of old lady glasses?"

Perbandingan yang aneh sih, tapi aku paham apa yang disampaikan. Aku segera menggunakan kacamata. Walaupun itu terlambat, sempat ada beberapa hari yang aku sampai nggak bisa membuka mata waktu di sana. Yang ohmyGodohmyGodohmygod, kalau aku sampai nggak bisa lihat Angkor Wat kan kacau banget. Bayarnya udah mahal lagi. Untungnya, crisis averted. 

Kembali ke Jakarta, gejala-gejala serupa datang dan pergi. Sampai akhirnya aku benar-benar nggak tahan melihat cahaya. Mataku secara alami tertutup begitu menginjak luar ruangan. So I went to the doctor, dapat obat yang cukup mahal dan vitamin, dan sembuh.

But I never went back to my remaining sets of contact lenses. Instead, I bring (not wear) my glasses with an old prescription. Dikeluarkan pada momen penting, seperti untuk nonton film atau nunggu bis gelap-gelap di pintu tol, tapi seringnya tetap tersimpan di tas.

***

Masalah pertama terjadi sebuah Selasa, empat hari setelah Situ Gintung jebol.

Datang ke kantor, say hi-hi kanan kiri ke Reporter Pop (ahem, hem) terus bergerak ke akuarium ruang membaca. Berseberangan dengan meja kerja Reporter Pop, ada seorang pria, muda aku rasa, mengenakan sweater bertudung.

Walaupun di dalam ruangan, tudungnya ditarik ke atas menutupi kepala dan setengah muka. Aku sempat memicingkan mata tapi tidak bisa mengenali. Bersamaan dengan aku berbalik badan, tudungnya diturunkan dan si pria muda ini melihat ke arahku. Tapi aku sudah keburu jalan ke akuarium.

Beberapa langkah, barulah komputer di kepalaku memunculkan tanda: MATCH! Lha itu kan tadi si xxx, aku pikir. Aku tetap berjalan terus karena sebuah unpleasant incident melibatkan Facebook yang terjadi Sabtu lalu antara aku dan dia membuat aku kesal.

Sekembalinya ke meja kerja, aku log in di Facebook dan melihat ada perubahan status dari si xxx. "Badan segede gini, tetep nggak ngeliat. Buta apa tuh orang?"

Ouw ouw. Dan for the record, yes, I'm half blind.

Insiden Sabtu yang melibatkan Facebook juga serupa seperti ini. Cuma aku yakin tidak memprovokasinya seperti sekarang. Dan itulah untuk pertama kalinya aku menggunakan fitur "Hide Newsfeed" untuk telegram-telegram yang aku terima di beranda Facebook.

***

Yang kedua terjadi Jumat malam, karena aku pulang sendiri dari kantor.

Waktu melewati parkiran, ada sebuah mobil tipe sedan yang lampunya nyala. Si pemilik sepertinya sedang bersiap meninggalkan parkiran. Lalu terdengar sebuah sahutan keras, "Nari!"

Datangnya dari mobil yang siap pergi itu.

"Kamu mau ke mana?"

"Pulang. Siapa sih?"

"Ke mana? Pintu tol? Bareng gue aja."

"Oke, oke. Tapi, siapa sih? Nggak kelihatan."

"Masak nggak kelihatan. Suaranya? Masak nggak ngenalin?"

Menyalakan komputer di otak kepala, berusaha mencari kesamaan dengan sampel suara yang baru aku dengar. Hasilnya, sayangnya, negatif. Nama "Nari" memang jadi sering disebut-sebut in vain (seperti nama Tuhan, hahaha), cuma aku rasa ini orang punya semacam keakraban tertentu sama aku. Tapi siapa? Siapa? Siapa?

"Enggak. Siapa sih? Aku lupa."

Akhirnya si pemilik mobil menyalakan lampu.

"YA AMPUUUUNNNNN. KANG XXXX."

"Masak sih kamu nggak bisa ngelihat?" Orang ini bertanya nggak percaya.

"Iya, Kang. Aku lagi nggak pake kacamata."

Benar-benar ya. Out of sight itu out of mind. Padahal ini orang, selama empat bulan itu tak lelah menyemangati, mengajak ngobrol, bertukar pikiran, memberi ide, memudahkan (walaupun kadang juga menyulitkan) kami di MI Siang. Singkatnya, dia pemimpin favoritku dalam semua proses itu.

Pas aku naik ke mobilnya, dia menerima telepon. "Sorry, sebentar ya, Nar." Oh, how polite.

***

Jer tahu soal cerita pertama. Terus dia ada waktu aku cerita ke Ccr soal kekonyolan pertemuan dengan Kang xxxx itu. Ccr juga habis bertemu sama si Kang xxxx itu, jadi aku berbagi cerita juga soal pertemuan konyolku.

Jer bilang, "Mata lo tuh emang udah mbuat masalah, Nar. Lo bener-bener nggak inget sama Kang xxxx gitu?"

"Beneran, nggak. Apa karena waktu itu malem, terus dia kan item juga. Jadi beneran nggak keliatan."

"Keterlaluan lo, Nar," ini Ccr ikut manas-manasin. "Jangan-jangan status lo enggak berubah-berubah cuman gara-gara kacamata."

Tapi kalau pakai malah men won't make passes.

Sial.

   7 comments

cara daftar buat akun
April 3, 2016   04:31 AM PDT
 
Thanks for your greeting. i have see your profile blog, i very like with your page. but i need much more about your article smile
because your article is so so nice.
LiL Lia
August 20, 2009   05:57 PM PDT
 
justru gak pakai kacamata bikin men make passes at us, karena kita udah jalan lurus ke depan duluan, gak liat-liat 'pemandangan' kanan kiri :D

i do have the same habit too. coz when i put my glasses on, feels like am an older...scary woman.
Name
July 2, 2009   03:39 AM PDT
 
i link this blog to mine, just if u don't mind. if any, leave a comment to mine, i'll remove it. nice blog, luv it :)
modjo
May 15, 2009   05:39 PM PDT
 
nar,
kalo di indo aku selalu having lotsa problems sama kontak lens. Aku pake lens sejak aku smp, dan bisa bayangin lah sampe skrng sudah makan garam sama penyakit mata. Nah, anehnya nih aku selalu punya masalah sama soft lens merk indo, tidak semua lens di indo bisa masuk ke mataku. Nah solusinya kalo pake oft lens disana, lebih sering ganti lebih bagus buat mata nar. Jadi kalo km bisa make soft lens yg ganti tiap hari pake yg itu aja.
Aku sejak di sini dan pake soft lens dari pearle ga pernah dapet iritasi. Dan semoga nanti di indo nemu soft lens yg cocok...
F
April 28, 2009   04:17 PM PDT
 
@lambekobong: amen to that! long live the four-eyed kind!
lambekobong
April 27, 2009   03:40 AM PDT
 
heh?? gak salah ta??
lads and/or lasses with glasses r hott!! :p
nadya
April 26, 2009   10:20 AM PDT
 
hahaha ... mbak, coba aja pake kacamata yang bentuknya unik2 gitu, men do make passes at girls who wear stylist glasses, coz those girls look kinda fashionable and cute :-P

hehehehe

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments