Entry: "A Brand Called You" Saturday, April 25, 2009



(Rasanya aneh mulai mengetik untuk sebuah tulisan blog yang agak panjang (baca= lebih dari 140 karakter) karena ternyata kalimat-kalimat pendek yang membatasi itu malah lebih bisa membebaskan)

(Ketuk-ketuk kuku di meja kayu)

(Aduk-aduk bandrek instan)

(Seruput. Browsing-browsing dulu)

I think I don't care much for the world that I live in, where visibility is much appreciated than ability. And facts are not as important as the perception of it. But okay, I'll play along to these sayings by marketing gurus.

Rencananya, Jumat malam kemarin itu aku mau datang ke fX buat menonton komedi-komedi romantis dari Perancis. Sebuah jadwal events di FB mengalihkan tujuan pertama. Jadi aku datang dulu ke sebuah career coaching soal membangun personal brand.

Sepertinya sih ada beberapa orang yang aku kenal, hanya saja aku lupa membawa kacamata dan aku malas mengonfirmasi, hihihi. Ada orang yang ternyata juga sudah senyum-senyum sama aku. Nah ini seingatku sempat aku senyumin balik.

It's the initial moments of networking, the smile.

Karena tempat kerjaku yang bukan 'kantor' berorientasi keuntungan bisnis (walaupun keuntungan dari segi politis mungkin jadi lebih tepat, dibungkus dengan pretext sebagai produk edukasi), maka semua pembicaraan yang ada soal merencanakan karir, karir tidak sama dengan pekerjaan, zona nyaman, dan tips-tips karir itu jadi terdengar sangat asing. Maksudnya, aku tidak tahu bahwa 'perencanaan karir' itu adalah sebuah konsep yang dilakukan semua orang. Pertanyaan yang sering diajukan malam itu adalah, who doesn't plan their career?

Dari situ aku baru sadar, apa yang terjadi selama ini padaku, jobwise, sepertinya lebih karena keberuntungan. Jadi kalau misalnya sekarang aku sudah ada di satu tempat, itu bukan atas sebuah perencanaan. Hanya sekadar pure dumb luck.

Setelah melihat sebuah grafik karir yang dipampang di salah satu slide, apa yang aku alami itu terpetakan sempurna. Dengan pure luck itu juga pergerakanku setia mengikuti grafik, walaupun apa yang terjadi sesudahnya, itu yang masih harus dipetakan sendiri.

What are your hobbies, dreams, passions, even fetish? Because you can sell everything nowadays. 

Ah, jadi ini yang waktu itu dibilang oleh motivatar(ot) Oom Jimmy dan aku harus duduk diam mulai memikirkan konsep diri. Yeah, I haven't actually done that other than...I want to be Umar Kayam, a guy who knows everything, I think, about cultural references.

Tahu nggak, salah satu tip untuk jadi visible itu apa? If you're young, be loud. Come up with as many ideas as possible. Even when you fail, they'll see that you've tried. 

Loud, loud, hmm. Mungkin ini juga yang menyebabkan orang jadi menggunakan dan me-manage gosip mereka biar jadi 'tampak' dan dibicarakan. Selain tentu saja loud dengan ide-ide mereka.

Yang penting kan top of mind bukan, mbak dari Nielsen?

Sepertinya aku barusan mengalami pengeboran sudut pandang pemikiran. Ada hal-hal yang masih aku tanggapi sinis, tapi ketika dihadapkan pada pernyataan: having knowledge doesn't mean you like what you're doing, untuk sepersekian detik, ada sesuatu dari aku yang melayang dan ketika kembali lagi, melihat semuanya dengan sudut pandang baru. Mempertanyakan ulang dan merancang tujuan.

The Last Shadow Puppets bilang ini Age of Understatement, tapi aku yakin, when it comes to people, they are claiming and piling one statement of self over another.

Don't be afraid to re-invent yourself berkali-kali. 

Okay people, let's make 'me'.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments