Entry: Curhat dan Semua Implikasinya Sunday, April 05, 2009



Selagi aku memikirkan ulang apa yang terjadi, mencoba membuatnya runut dalam pikiran untuk kemudian diketik sebagai (lagi-lagi) sebuah pelajaran, kesimpulan yang aku capai itu adalah, hmm aku sepertinya membuka pintu terlalu lebar buat orang lain menilai apa yang aku lakukan deh.

Dan ini bukan pertama kalinya. Maksudnya, aku sudah pernah sampai pada kesimpulan serupa untuk kasus yang berbeda. Cuma ya itu, kesimpulannya sebenarnya tetap sama.

So the story goes like this. Sebuah siang menjelang sore dan aku bergegas ke meja Ccr (haiyyah) untuk menyampaikan suatu kesimpulan yang aku yakini. Aku bilang ke dia, "Aku kayaknya nggak bakal cerita lagi ke xxx soal urusan hati deh."

"Kenapa?"

"Jadi gini, waktu itu kita sempat chat di YM, ngobrol, ngobrol, ngobrol, terus akhirnya dia menanyakan soal gimana kehidupan sosial gue sekarang. Dan gue bilang sesuatu lah ama dia. Tapi terus terputus karena emang internetnya mati. Sebelumnya dia sempat mendesak-desak untuk nanya, nyelidik, cerita, gitu deh. Nah terus internetnya mati kan. Eh terus dia sms, bilang gini, 'Yah, kok lu nggak online lagi. Padahal gosipannya pas lagi hot-hotnya. Kalau lu mau curhat, Nar, I'll be here." Pokoknya sebelum itu dia bilang, cewek-cewek juga pada percaya ama dia dan dia nggak bakal ember gitu deh.

"Nah terus, gue melakukan sesuatu yang membuat gue gundah lah intinya. Terus gue butuh second opinion. Gue tanyalah ama ini orang. Lewat telepon pula. Yang ternyata...tanggapannya malah membuat gue ngerasa sakit hati. Intinya dia menyesalkan dan membuat gue merasa such a slut. Walaupun, aku yakin banget nggak melakukan sesuatu yang salah. Aku percaya pada rasionalitasku dan nilai-nilai yang aku pegang dan caraku mengassess sebuah situasi, dan who is he to tell me stuff like that?"

"Okay dia temen sih. Tapi kan kita udah lama nggak ketemu juga. Dia nggak bisa menilai semuanya karena toh yang aku ceritain sama dia juga cuma setengahnya. Dan yang ngeselinnya, selama ini aku nggak pernah menghitung dia sebagai tempat bertanya. Like, he has one successful experience and he can preach to me about it?"

Nah ini baru bagian Ccr, yang mendapat cerita yang kurang lebih serupa dari orang lain, sebuah pengungkapan pendapat/penilaian orang lain yang membuat sakit hati penerimanya.

"Mungkin Nar, dari dua kasus ini, dia merasa bisa menyampaikan apa yang ada di kepalanya karena dia sudah merasa temen deket elu. Jadi dia bisa jujur aja."

"Dan well, yah, aku memberi dia izin sih untuk menyampaikan pemikiran itu," aku bilang. "Pokoknya dari situ aku jadi berkesimpulan untuk nggak ngomong soal apa-apa lagi yang esensial ke dia deh. Tahu kan ada orang yang cocok elu tanyain soal hal-hal ngawang, atau hal-hal praktis, nah ini sih cuman buat didenger ceritanya aja dan percakapan basa-basi. Itu aja cukup aku rasa."

Dari situ terus aku beralih.

"Tapi gue ngerasa ada sesuatu yang aneh di sini. Aku melihat sekitarku dan merasa curhat hal-hal yang berhubungan dengan hati itu terus jadi alat untuk membangun kedekatan, ya personal dan profesional. Gue jadi kehilangan arah itu di sini, seharusnya kan...kedekatan-kedekatan itu bersifat profesional bukan? Yang elu dikenal dari kompetensi elu? Tapi aku ngerasa curhat urusan hati itu jadi berpengaruh untuk ngerebut perhatian sampai akhirnya itu berbuah jadi...elu lebih dikenal dan dianggap gitu. Jadi gue berpikir, apa aku harus mulai mencurhatkan masalah pribadi di kantor, just to get ahead?"

"Enggak, Nar. Jangan ngikutin pola-pola kayak gitu lagi. Ya mungkin emang ada orang-orang yang bisa didekati dengan cara kayak gitu..."

"Tapi siapa ya? Dan maksudnya, aku juga nggak segitu pedenya nganggep orang-orang yang aku curhatin to get ahead itu, bakal peduli ama masalahku, hahaha." 

"Nggak, nggak. Gini, Nar. Kalau pas gue lagi nggak produktif banget, males banget deh pokoknya, Silver Fox itu walaupun lewat-lewat depan sini, nggak mau nyapa. Ndiemin aja. Tapi pas gue ngerasa kerjaan gue lagi maksimal, bagus, dia bakal dateng, ngajak ngobrol soal hal-hal lain. Itu kan bentuk perhatiannya dia. Dia nggak muji sih, itu bukan cara dia. Tapi elu bakal dilibatkan ke sesuatu, didatengin ke meja, dan dia ngobrol secara khusus. Iya kan?" 

Iya juga sih, aku jadi teringat sama beberapa kali didatangi Silver Fox dan baru saja dilibatkan untuk sebuah pertemuan dan proyek dengan pihak eksternal.

"Masak dari halaman-halaman POP elo yang maksimal itu, elo nggak merasa dia memperhatikan? Dan sebenarnya, di sini, perhatian dia kan yang seharusnya elo dapetin? Bukan yang lain-lain? Biarkan pekerjaan lo aja yang menunjukkan siapa elo sebenarnya. Bukan cerita-cerita pribadi elo," ujar Ccr lagi.

Aku cuma manggut-manggut.

Dan setelah gue menyampaikan pertanyaan yang sama pada Jer (haiyyah, sharing teruuss), soal memang tidak patut menceritakan soal-soal pribadi ke para atasan, tapi kok itu jadi lazim dilakukan untuk get ahead? Ternyata selagi aku mengungkapkannya, aku baru sadar inti masalahnya, ini cuma bersumber pada beberapa subjek saja, yang kemudian metodenya terasa jadi hegemoni.

Dan setelah dipilah-pilah, para atasan itu juga punya cara tersendiri untuk menilai kompetensi. Yang bisa didekati dengan pendekatan pribadi, mungkin hanya satu. Lainnya, ya memang hanya bisa dibuat terkesan lewat pekerjaan. "Dan iya ya Jer, aku lebih berharap bisa membuat terkesan yang ini daripada yang itu," aku bilang.

"Naaaahhhh kan."

"Karena dia diem aja gitu, maksudnya lempeng aja gitu mukanya. Jadi it would count as something gitu kalau aku bisa membuat dia terkesan. Iya nggak?"

"Iya kan? Dan dia tuh orang yang menyenangkan juga buat bertukar pikiran. Bisa memotivasi buat urusan-urusan profesional."

Ini semuanya sepertinya seperti pemahaman remeh, yang sering diulang-ulang di halaman karir berbagai majalah perempuan. Tapi sampai aku mengalaminya sendiri, ternyata nasihat-nasihat itu cuma sekadar pengulangan tanpa makna.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments