Entry: Reuni Monday, March 23, 2009



Ini cerita soal 'uncharacteristic' weekend yang ketiga.

Jadi, ya, setelah liputan berpanas-panas, jalan-jalan seputar Senayan dan naik busway ke Museum Prasasti untuk peluncuran peta hijau Jakarta, aku memilih naik taksi untuk ke sebuah kompleks lumayan terkenal di pusat kota.

Setelah menelepon pemilik rumah menanyakan nomor dan jalan tepatnya, dia memberikan arahan yang mudah diikuti dari sekitaran SCBD. Sampailah di sebuah rumah yang...lho kok, kosong?

Tanya ke penjaga rumah bersafari, "Ini rumahnya si xxx?"
"Iya," dia menjawab, tanpa muka angker.

Dan, emang nih, sisa-sisa kumpul di musholla atau rumah teman untuk pengajian, masih kelihatan betapa membekasnya perilaku dan kebiasaan Yogya yang tersisa. Sandal-sandal, yang hanya tiga pasang, sudah dilepas di awaaaaaal banget sebelum masuk rumah. Padahal jalan dari 'awal' lantai marmer sampai area inti itu masih lumayan panjang. Dan dingin karena marmer.

Hey, yang melegakan, Mr. Perenially Cool sudah melambai-lambaikan tangan dari jauh. Or so I thought it was him, terlihat dari siluet jambulnya. Selain tuan rumah, ternyata baru ada tiga tamu. Salah satu tamu, Ms. Highschool Prom Queen (because she is, in all possible fittingly stereotypical of that category), membawa  bayi laki-laki berusia 10 bulan dan pengasuhnya.

Kita datang satu-satu, memesan makanan, menunggu datang sambil cemal-cemil dan bertukar cerita soal pekerjaan dan ayah teman yang baru meninggal atau sudah meninggal dan belum sempat melayat. Soal yang sudah menikah atau berganti agama. Yang baru akan menikah dengan sebelumnya proses pergantian agama juga.

Semuanya ternyata, baru disadari, berasal dari SMP yang sama, kecuali aku. Lalu mereka juga berasal dari kolam yang kurang lebih sama. Yang pada waktu nanti ayah-ayah mereka meninggal sepertinya  'berhak' ditulis obituarinya di koran. Yang akrab memanggil petinggi birokrat republik ini dengan Oom atau Pakde. Baru sekarang aku sadar, oh, ternyata I was once in an Indonesian version of Ivy Leaguer, to?

No wonder my mother has been soooo hopeful. Unfortunately, aku tidak punya kegigihan dan ketangguhan seorang Becky Sharp.

So, okay, salah satu agenda yang sempat dibahas adalah reuni angkatan kita tahun depan. Kenapa tahun depan? Karena momentumnya adalah sepuluh tahun setelah kita lulus.

Oh, oh. Aku dan Bitchiest Straight Guy I Know (karena memang aku nggak pernah ketemu sama pria straight lain yang bicaranya se-bitchy dia) lihat-lihatan dengan tipe kecemasan yang sama di mata kami. Sumber kecemasanku sih: Hah, ini kan such a cheesy John Mayer song. "Run through the halls of my highschool, there's no such thing as the real world, ten years reunion, bust down the double door, you'll know what all those time are for." Nah masalahnya buat aku, semua waktu itu, buat apa?

Aku nggak bisa membaca sih apa sumber kecemasan Mr Bitchiest itu. Tapi ketika selanjutnya yang disebut adalah: "Rencananya sekalian sama family gathering juga." Bola mataku sudah hampir mencelat, dan Bitchiest langsung tegas-tegas bilang, "Kalau itu gue nggak setuju."

Ada hal lain juga yang aku pelajari di situ. Dua dari 10 orang yang datang membawa anak masing-masing, dua-duanya perempuan. Plus ada satu lagi yang sudah punya anak, tapi ini cowok. Yang cowok, dulu sih pas SMA, pernah ditaksir diam-diam sama teman baik masa SMA. Lama-kelamaan, aku jadi mengakui, yeah, he's kinda cool lah.

Sekarang setelah dilihat kok...jadi biasa saja ya?

Dan kalau dipikir-pikir, hampir semua taksiran SMA-ku juga jadi tidak se-mempesona dulu. Jadi, kalau misalnya aku punya anak perempuan nanti, dan dia bilang: I never wanted anything/anyone this much. Aku bisa menjawab: Trust me, you'll want something/someone else even more. It's endless.

Nah, anyway. Mereka yang punya anak-anak ini, bayi-bayi tepatnya, saling bertanya seperti:
"Udah digundulin?"
"Belum, aku nggak tega. Ini masih rambut lahir."

atau,
"Biasanya dia anteng/cerewet/suka senyum. Nggak tahu nih kenapa kok dia sekarang jadi rewel terus, marah gitu lho. Malem suka nggak tidur."
"Oh kalau gitu biasanya dia mau pinter sesuatu. Sama kayak kita, kan suka excited sampai nggak bisa tidur, nah kayak gitu juga biasanya. Si xxx waktu itu juga kayak gitu, eh besoknya dia bisa tengkurap sendiri."

Hmm, aku mencatat ini semua dalam kepalaku. Percakapan basa-basi yang aku belum bisa terlibat di dalamnya.

Selain itu, ada apa lagi ya?

Oh, ini, seperti biasa sih, soal materi.

Bukan iri tepatnya, cuma aku jadi teringat lagi sama...aku kan juga punya mimpi-mimpi apartemen, atau kebingungan mengisi SPT dengan harta yang dimiliki, atau punya properti, dst.

Nah, aku pernah berpikir, aku 'harus' tinggal seberapa jauh lagi dari pusat kota kalau orangtuaku saja sudah tinggal di kawasan pinggiran? Tapi ada teman yang ternyata bertetangga dengan orangtuaku. Padahal aku pikir aku nggak bakal sanggup beli apa pun di dekat-dekat tempat tinggalku sekarang.

Sisanya, ya, pada berapartemen-apartemen. Ada juga sih yang tinggal di Depok dan menjalani kehidupan KRL itu. Tapi, ya itu, aku kan juga punya mimpi-mimpi apartemen ituuu. Kenapa aku belum bisa bergerak?

Ada sedikit post-script juga.

Dari dua jari berderet di tangan kanan Ms Highschool Prom Queen, ada sepasang cincin yang gemerlapnya benar-benar waaoooowww. Besar tapi dirancang seperti cincin vintage tahun 1920an gitu. Jadi cukup tasteful.

Dan pas aku datang, aku melihat ada mobil BMW dari tipe yang kemarin-kemarin sempat dikomentari ayahku, "Kalau orang punya mobil kayak gini, duitnya itu berapa ya?"

Karena aku menganggap semua BMW itu nggak berbeda satu sama lainnya, jadi aku bilang, "Emang yang tipe ini berapa?"

"Ya 1,5 M-an gitu lah."

Aku pikir itu punya tuan rumah, tapi ternyata itu punya Ms Highschool Prom Queen. Aku sempat numpang mobilnya itu karena dia nggak tahu arah dan jalannya agak searah.

Beneran lho, pas di dalam mobil itu, aku langsung merasa bosan dan lelah sama semua kaleng-kaleng kerupuk kota penuh virus penyakit yang setiap hari aku naiki, dan pengamen-pengamennya, dan emisinya yang setiap hari aku hirup dari bangku belakang ojek.

Dia tinggal di daerah Pejaten. Pas aku tanya kenapa memilih di sana, dia bilang, "Asalnya di Cinere, tapi sekarang yang di sana dikontrakin. Terus ada tanah juga di Kemang (haaahhh?--ini dari penulis), tapi karena lagi krisis, yaa sekarang baru mbangun, yang nggak tahu selesainya kapan. Jadi ya ada temennya bapak mertua yang maksa-maksa beli."

Maksudnya, aku nggak punya mimpi-mimpi BMW sih. Aku cukup puas dengan busway dan taksi, tapi punya bioskop kecil dengan desain art-deco atau tinggal di rumah yang desainnya masih gaya Jakarta 1950an, hehehe. Tapi, aku jadi bosaaaan dan muak sama semua moda transportasi yang aku gunakan di Jakarta selama ini.

Di balik semua 'keirian' materi itu, aku ternyata lebih merasa tersentuh sama her most-prized possession, her 10-month old son. Ini bayi dengan the most agreeable disposition I've seen. Nggak rewel, nggak nangisan, penuh rasa ingin tahu, ramah dan kayaknya sih, pengen kenal juga sama aku. Bahunya yang mungil, punggungnya yang masih lunak. Yang kalau aku sentuh punggung dan bahunya, dia terus menjengking-jengking ke belakang, makin nempel ke tanganku, sambil noleh ke aku dan ketawa-ketawa senang.  

Dia ini yang benar-benar membuat sesuatu pada bagian tubuh internal saya jadi bergetar dan mencair. Bayi-bayi sepertinya dibekali kemampuan itu ya.

   3 comments

yusi
August 31, 2009   12:05 AM PDT
 
..apartemen...bmw..rumah di pejaten..tanah di kemang..cincin bergemerlap..no! no! nari you wont need it anyway..or you wont need it all, hohoho..
memang ada kalanya kita harus terus melihat ke bawah untuk mencapai mimpi..cheers!
isyana
March 25, 2009   07:32 PM PDT
 
hehehe, yoi. tapi aku mikir juga, kalau aku punya anak sekarang, terus sakit, masak mau dibawa pake p6 atau ama tukang ojek? hiks hiks...nggak tega
always ratna
March 25, 2009   12:29 PM PDT
 
aih, terharu baca endingnya, tetep ya Mbak, dibanding gemerlap di jari tangan, atau nyamannya tebengan, si bayi itu adalah yg paling bikin longing :)

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments