|
Ini cerita soal 'uncharacteristic' weekend yang ketiga. Sekarang setelah dilihat kok...jadi biasa saja ya? Dan kalau dipikir-pikir, hampir semua taksiran SMA-ku juga jadi tidak se-mempesona dulu. Jadi, kalau misalnya aku punya anak perempuan nanti, dan dia bilang: I never wanted anything/anyone this much. Aku bisa menjawab: Trust me, you'll want something/someone else even more. It's endless. atau, Selain itu, ada apa lagi ya? Oh, ini, seperti biasa sih, soal materi. Bukan iri tepatnya, cuma aku jadi teringat lagi sama...aku kan juga punya mimpi-mimpi apartemen, atau kebingungan mengisi SPT dengan harta yang dimiliki, atau punya properti, dst. Nah, aku pernah berpikir, aku 'harus' tinggal seberapa jauh lagi dari pusat kota kalau orangtuaku saja sudah tinggal di kawasan pinggiran? Tapi ada teman yang ternyata bertetangga dengan orangtuaku. Padahal aku pikir aku nggak bakal sanggup beli apa pun di dekat-dekat tempat tinggalku sekarang. Sisanya, ya, pada berapartemen-apartemen. Ada juga sih yang tinggal di Depok dan menjalani kehidupan KRL itu. Tapi, ya itu, aku kan juga punya mimpi-mimpi apartemen ituuu. Kenapa aku belum bisa bergerak? Ada sedikit post-script juga. Dari dua jari berderet di tangan kanan Ms Highschool Prom Queen, ada sepasang cincin yang gemerlapnya benar-benar waaoooowww. Besar tapi dirancang seperti cincin vintage tahun 1920an gitu. Jadi cukup tasteful. Dan pas aku datang, aku melihat ada mobil BMW dari tipe yang kemarin-kemarin sempat dikomentari ayahku, "Kalau orang punya mobil kayak gini, duitnya itu berapa ya?" "Ya 1,5 M-an gitu lah." Beneran lho, pas di dalam mobil itu, aku langsung merasa bosan dan lelah sama semua kaleng-kaleng kerupuk kota penuh virus penyakit yang setiap hari aku naiki, dan pengamen-pengamennya, dan emisinya yang setiap hari aku hirup dari bangku belakang ojek. Dia tinggal di daerah Pejaten. Pas aku tanya kenapa memilih di sana, dia bilang, "Asalnya di Cinere, tapi sekarang yang di sana dikontrakin. Terus ada tanah juga di Kemang (haaahhh?--ini dari penulis), tapi karena lagi krisis, yaa sekarang baru mbangun, yang nggak tahu selesainya kapan. Jadi ya ada temennya bapak mertua yang maksa-maksa beli." Maksudnya, aku nggak punya mimpi-mimpi BMW sih. Aku cukup puas dengan busway dan taksi, tapi punya bioskop kecil dengan desain art-deco atau tinggal di rumah yang desainnya masih gaya Jakarta 1950an, hehehe. Tapi, aku jadi bosaaaan dan muak sama semua moda transportasi yang aku gunakan di Jakarta selama ini. Di balik semua 'keirian' materi itu, aku ternyata lebih merasa tersentuh sama her most-prized possession, her 10-month old son. Ini bayi dengan the most agreeable disposition I've seen. Nggak rewel, nggak nangisan, penuh rasa ingin tahu, ramah dan kayaknya sih, pengen kenal juga sama aku. Bahunya yang mungil, punggungnya yang masih lunak. Yang kalau aku sentuh punggung dan bahunya, dia terus menjengking-jengking ke belakang, makin nempel ke tanganku, sambil noleh ke aku dan ketawa-ketawa senang. Dia ini yang benar-benar membuat sesuatu pada bagian tubuh internal saya jadi bergetar dan mencair. Bayi-bayi sepertinya dibekali kemampuan itu ya. |
| yusi August 31, 2009 12:05 AM PDT ..apartemen...bmw..rumah di pejaten..tanah di kemang..cincin bergemerlap..no! no! nari you wont need it anyway..or you wont need it all, hohoho.. memang ada kalanya kita harus terus melihat ke bawah untuk mencapai mimpi..cheers! | ||
| isyana March 25, 2009 07:32 PM PDT hehehe, yoi. tapi aku mikir juga, kalau aku punya anak sekarang, terus sakit, masak mau dibawa pake p6 atau ama tukang ojek? hiks hiks...nggak tega | ||
| always ratna March 25, 2009 12:29 PM PDT aih, terharu baca endingnya, tetep ya Mbak, dibanding gemerlap di jari tangan, atau nyamannya tebengan, si bayi itu adalah yg paling bikin longing :) | ||
| Leave a Comment: |