Entry: Uncharacteristic Saturday, March 14, 2009



I have been having two uncharacteristic weekends. Dan aku rasa hampir untuk yang ketiga.

Ini berawal dari tiga pekan lalu. Tiba-tiba kok akhir pekanku jadi uncharacteristically unalone, penuh dengan teman-teman dan orang-orang. Padahal saat itu aku mengharapkan kesendirian untuk menyelesaikan hal-hal pada to-do list.

Jumat malamnya ketemuan sama teman-teman mantan MI Siang. Well, tiga masih di kantor yang sama, tapi dua lagi, Xat dan Nachtwey Kecil yang sudah lama nggak ketemu, which is fun.

Hari Minggunya ada ketemuan dengan Ms Know It All, Ms Kawaai, Ms High Society dan Little Miss Graphic Designer untuk bebek, terus pindah ke Sour Sally, dan (minus Little Miss Graphic Designer) for some coffee di Aksara Pacific Place.

Yang paling menonjol dari ketemuan hari Minggu itu sih cerita absurd dari Ms Know It All. Kita janjian jam 12.00 di restoran bebek di bilangan Senopati. Dari jam 11.30 dia sudah menelepon nanya aku di mana. "I'll be on my way. Naik taksi kok," aku bilang.

Jam 12 pas bisa sampai.

"Lho kok cepet banget sih datangnya?" aku tanya ke dia.
"Iya, aku tadi abis dimintain mbak-mbak kos nganterin dia."
"Hah, kok minta anter kamu?"
"Dia mau ke..., jadi gini ceritanya, kemarin Jumat itu di depan kos-kosanku ada yang abis mbuang bayi."
"Haaahhh?"

Bayinya masih berusia dua mingguan, dibuang dalam kondisi hidup dan sehat. Pelakunya siapa belum diketahui dan tampaknya susah diketahui. Soalnya, satpam kos, para tukang ojek yang ramai nongkrong di depan kos, penjaga warung, dll, lagi pada Jumatan. Penemuan itu sudah dilaporkan ke polisi, tapi sama polisinya diminta para penghuni kos yang merawat.

"Jadi kemarin kita udah pada chip in for the baby. Aku abis beli popok ama susu," kata Ms Know It All.
"Hah? Kenapa nggak bilang aku? Aku lagi pengen punya anak cowok nih. Emang bayinya apa?"
"Cowok."

Well, entah kenapa I had an emotional-maternal discharge beberapa minggu lalu, membayangkan, kayaknya lucu ya punya anak cowok yang bisa diajak nonton film lucu terus ketawa-ketawa, happy ngelihat dia ketawa-ketawa kegelian. My little Atticus Finch. Of course, he would not be named Atticus Finch. Holden, maybe? Hehehe.

Nah, uncharacteristic weekend kedua terjadi pekan lalu. Tiba-tiba kok my weekend is uncharacteristically filled with stages and live music. Kamis tepatnya, aku nonton The S.I.G.I.T dan band bluegrass The Student Loan dan White Shoes dan aku merasa, sudah terlalu lama sepertinya tidak menonton sebuah pertunjukan musik live seperti ini.

Pulang dari situ, di taksi, dapat pesan pendek dari Sha yang bilang Eva punya beberapa tiket gratis Java Jazz dan mengajak-ajak ke sana. Oke, jadi Jumat aku ke Java Jazz. Sempat nonton satu vokalis perempuan kulit hitam yang tidak aku tangkap namanya, terus ke Dianne Reeves yang beberapa kali sepanjang pertunjukan aku sampai pada kesimpulan she's really really good, bukan jazz-jazz-an gitu. Terus kembali ke Plennary buat Matt Bianco.

Melihat banyaknya orang ke sana, aku jadi bertanya, should I go there? Maksudnya, sengaja merencanakan dan beli tiket untuk ke sana walaupun aku nggak tahu banyak soal jazz. Aku merasa hampir ketinggalan sesuatu saat berada di sana, yang untungnya 'terselamatkan' oleh tiket gratis. Jadi aku mulai bertanya-tanya, tahun depan, haruskah ke sana?

Btw, it's also filled with orang dewasa tanggung, anak-anak usia 19, 20, 23-an yang hampir semuanya menenteng Blackberry like it's a piece of brick.

Nah akhir pekan ini nih yang hampir uncharacteristic. Ada liputan Sabtu malam di Taman Menteng dan Minggu pagi sampai siang di beberapa lokasi buat Peta Hijau. Dan...

Beberapa hari lalu, di Facebook ada pesan soal reunian teman-teman SMA di rumah salah satu teman. Reaksi pertama, wow, kayaknya bakal asik.

Lambat-lambat, keraguan mulai masuk. Sampai akhirnya aku menelepon seseorang yang bisa disebut Mr Perenially Cool. Ini teman SMA juga, dan sort of teman kuliah walau beda kota.

Nggak diangkat.
Tapi terus aku ditelpon balik oleh sebuah nomor tak dikenal.
"Kenapa, Nar?" kata Mr Perenially Cool.
"Eh kamu tahu kan ada undangan dari xxx soal reunian, etc etc etc."
"Iya, semuanya diundang kok."
"Aku juga dapet, cuman...siapa aja yang dateng sih?"

Mr Perenially Cool mendaftar teman-teman yang akan datang terus bertanya, "Kenapa?"

"Aku agak-agak nervous mau datang."
"Ini kan cuman teman-teman SMA, Nar, yang masih dengan guyonan-guyonan bapuk waktu kita SMA."
"Yes, tapi mereka kan udah jadi stranger. Dan aku udah lama nggak ada di lingkungan yang penuh orang asing dan harus bercakap-cakap. Aku kan nggak tau gimana memulai percakapan. Atau, gimana kalau nggak ada yang ngomong ama akuuu?"

Aku sambil ketawa-ketawa sih di telepon, but it's my biggest fear for this weekend. Telapak tanganku sampai basah.

"Tenang," kata dia lagi, "kan ada Bitchiest Straight Guy I Know."
"YES. But he has his much cooler friends than me."

Yang membuat aku cemas, Mr Perenially Cool masih di area abu-abu soal datang atau tidak. "Aku ada acara kantor, tapi aku mungkin datang mepet," dia bilang. Nah, liputanku itu memasukkan unsur berjalan-jalan dan keringetan dan nggak fresh, yang bakal membuatku nggak wangi. Huks, huks.

Well, okay. Let's see tomorrow how my nerves serve me.

   2 comments

Niken
March 16, 2009   08:49 AM PDT
 
Nariiii....jumat aku juga di Java Jazz...dan nonton Matt Bianco juga. Kok ga ketemu ya?? *ya iyalah, lautan manusia gitu*
rani
March 14, 2009   11:02 PM PDT
 
eh salaam dung sm mr. perenially cool *wink "apakabarnya mas?"

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments