Entry: Cerita Kecil Tentang Kesepian Tuesday, February 14, 2006



Sabtu pagi, sekitar pukul 06.45, aku keluar dari kantor. Aku baru saja menghabiskan Jumat malamku di kantor, menyelesaikan tulisan untuk pekerjaan kantor. Sepertinya dari situ semua berasal. Sabtu pagi itu.

 

Aku tidak sendiri. Seorang teman yang juga harus menyelesaikan tulisan untk akhir pekan itu juga ikut menginap. Tapi pagi itu, sambil menonton sekilas lima menit terakhir salah satu episode Friends di televisi ruang kantor, di lantai dasar, ada sesuatu yang terasa absen. Tidak ada di tempat yang seharusnya.

 

"Nggak mau ke kamar mandi dulu, cuci muka atau gimana?" tanya si teman. Aku cuma mengiyakan. Dan segera bergerak ke kamar mandi, mencuci muka, berkumur. Aku hanya tertidur satu jam tadi pagi.

 

Aku membereskan barang-barang, memakai jaket, dan berjalan bersama keluar. Pagi yang aneh. Atau mungkin cuma perasaanku saja yang aneh; aku tidak pernah berada di kantor pukul 06.45 di pagi hari.

 

"Aneh," kataku, "nggak pernah lho, ada di kantor jam segini."

"Aku nggak pernah di luar rumah jam segini," balas si teman. "Mau nyari sarapan?"

 

Sebenarnya malas, tapi mungkin makanan dapat membantuku merasa lebih baik. Hanya saja, aku terlalu lelah mengunyah. Tapi aku mengiyakan, ketika memikirkan kemungkinan adanya bubur ayam.

 

Kantin menyiapkan mie ayam pagi itu; dan kami berdua terus berjalan menuju gerbang. "Kalau bubur mungkin mau," cetus si teman. Aku mengiyakan saja dalam hati. Sekarang yang ada di pikiranku hanya ibuku, dan betapa aku ingin memeluknya.

 

Aku mengamati semuanya dalam perjalanan pulang. Kehidupan yang berjalan di sekitarku; yang bukan menjadi bagianku. Sinar matahari yang hangat. Sudah lama aku tidak merasakan sinar matahari pagi.

 

Aku memilih duduk di dekat jendela. Mencoba mendinginkan dan membuat nyaman badan. Aku bisa saja melepas jaketku, tapi aku sedang tidak ingin.

 

Ketika bis sampai di perempatan Tomang, aku menyalakan musik, mencoba memilih lagu yang tepat untuk mengisi kekosongan, tapi juga sesuatu yang tak terlalu mengalihkan aku dari suasana pagi hari yang jarang aku lewati di luar rumah.

 

Tetapi aku tidak ingat berada di mana, saat aku mencoba untuk menutup mata, mencoba keras untuk menikmati sinar matahari di wajah, dan angin dari jendela bis. Mencoba keras, karena aku ingin merasakan sesuatu yang berbeda. Dan ini adalah pagi yang berbeda. Jadi logisnya, aku harus merasakan dan mengingat semua yang terjadi.

 

Tapi ketika aku menutup mata itulah, aku mulai teringat bahwa ini hari Sabtu pagi. Delapan bulan yang lalu, aku akan kebingungan memilih tempat yang akan kita kunjungi. Aku tiba-tiba teringat akan teleponmu.

 

"Kamu libur hari apa, mbak?"

"Sabtu."

"Weiss, mantap. Besok kita ke mana?"

 

Dan mulai pagi hari, pikiranku terus tertuju padamu. Tentang bagaimana aku harus mengatakan pada orangtuaku bahwa aku akan pergi, dan bagaimana aku terus ketakutan mereka akan mencurigai aku pergi dengan siapa, dan tentang waktu yang tidak akan pernah cukup, dan aku yang tidak benar-benar bebas.

 

Sekarang, aku teringat pada helm kecil berwarna ungu tua di motormu. Helm kedua. Untuk siapakah kau siapkan helm itu? Kamu bukan seseorang yang menyiapkan helm kedua di motormu. Kamu tidak membiarkan orang masuk dalam hidupmu. Tapi sekarang, siapakah yang kau biarkan masuk? Akan pergi kemanakah kalian Sabtu pagi ini? Apakah kau menanyakan padanya untuk memilihkan tempat yang akan kalian kunjungi hari ini?

 

Cawang.

 

Aku berganti ke M19.

Aku hanya ingin sampai di rumah dan tidur.

Ini hanya karena tidak tidur semalaman.

 

Pagar terbuka ketika aku sampai di rumah, dan aku membuka pintu depan dengan kunciku. Di ruang tengah tidak ada siapa-siapa. Melepas jam tangan, kacamata, dan melihat sebuah paket yang pastinya berisi buku yang kupesan beberapa hari sebelumnya. Lalu aku berganti baju, mencuci tangan, dan membuka bungkusan berisi buku itu. Ada segelas jus jambu di gelas tinggi di atas meja makan. Aku baru mengangkat tutup gelasnya yang berwarna hijau, ketika ibuku keluar dari kamar.

 

"Haloo," katanya hangat. "Baru sampai ya?"

"Iya."

 

Aku mencari gula rendah kalori, membuka sachetnya, menuangkan isinya ke jus jambu di gelas tinggi, dan mengaduknya dengan sendok bertangkai panjang. Aku meminumnya sampai habis dengan beberapa teguk, tanpa menurunkannya. Aku mengelap mulutku, mengambil buku yang sudah terbuka dari bungkusnya, dan berjalan menuju kamar ibuku.

 

"Sampai jam berapa tadi?"

"Setengah sembilan."

 

Aku mengambil remote control, merebahkan badan, dan menyalakan TV, lalu memindah-mindah saluran. Aku geletakkan buku-buku yang kubeli di sebelahku. Ibuku lalu masuk membawa telepon genggamnya di tangan, yang lalu ia tunjukkan padaku.

 

Layarnya mati. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang ingin ia tunjukkan padaku, tapi aku membiarkannya melakukan itu. Aku hanya melihat bayangan mata kananku, sesekali berkedip. Ibuku mengelus dan mencium lengan kananku. Kemudian ia melihat kea rah telepon genggamnya.

 

"Kok mati, gimana sih, nggak ngomong-ngomong?"

"Lho, aku pikir…" Aku tidak meneruskan.

 

Ia menunjukkan sebuah pesan pendek, tentang acara ulang tahun sepupunya, pamanku, Sabtu depan nanti.

 

"Datang aja, mbak. Sepertinya menarik."

"Oom itu sudah 60?"

"Iya."

 

Diam.

 

"Mama nanti harus ke Berlan. Menemani eyangmu. Bibimu mau pergi ke Suralaya hari ini, ngambil obat."

 

Aku hanya diam saja.

 

"Ma, aku lagi sedih. Ma, aku lagi sedih. Ma, aku patah hati," kataku dalam hati.

 

Tapi kemudian ia bercerita tentang seorang kerabat yang mengalami masalah keuangan, dan bagaimana ia terbebani dan cemas menghadapi permasalahan si kerabat.

 

"Apalah masalahku dibandingkan kegalauannya," kataku, "aku tidak bisa bercerita tentang masalahku."

 

Kedua buku yang aku letakkan di sampingku aku ambil, dan sisipkan di bawah bantal. Ibuku akhirnya selesai bercerita. Lalu aku membalikkan badan.

 

"Kenapa, mbak? Kamu lagi sedih kenapa?" tanyanya.

 

Aku masih tetap diam.

 

"Ayo cerita aja," katanya lagi. Aku merasakan dagunya di punggungku.

 

Aku memutuskan untuk tetap diam, walaupun dalam otakku, mulutku mengulang-ngulang cerita kesedihan. Yang keluar, aku hanya bisa mengatakan, "nggak" berulang-ulang.

"Kenapa? Kamu…kecewa, sedih, takut? Kecewa tentang…pekerjaan? Kenapa tentang pekerjaan?" ia mencoba menebak-nebak dan menganalisa.

 

Cerita itu sudah ada di ujung lidahku, Ma. Tapi kalau aku bercerita, aku tahu kau pasti akan marah; karena aku berhubungan dengan seseorang yang tidak kau izinkan. Dan aku akan merasa malu, karena Sabtu pagi ini, yang aku rasakan sebenarnya cuma kesepian, dan cemburu.

 

Aku mulai kesulitan bernafas. Dan ketika aku menarik nafas, ada sesuatu yang menghalangi jalur pernafasanku. Ibuku kini tahu aku sudah mulai menangis.

 

"Ayo cerita. Mama jadi ngganjel nih. Kamu sedih kenapa, kok sampai nangis?"

 

Aku ingin, Ma, tapi aku tidak bisa.

 

"Nggak apa-apa. Bukan sesuatu yang penting. Remeh banget, makanya aku nggak mau cerita."

"Tapi masak kamu sampai nangis?" ia kini mengusap rambut dan melepaskan jepit rambut di belakang telinga, penahan anak rambutku.

 

Tapi aku bangun, mengambil dua buku dari bawah bantal, dan keluar dari kamarnya.

 

"Kamu selalu gitu sih, nggak pernah mau share."

 

Ma, aku men-share terlalu banyak. Dan aku tahu, Mama tidak akan menjadi lega mendengar cerita ini.

 

Aku pindah ke kamarku sendiri, tertidur sekitar pukul sembilan. Saat terbangun, aku melihat jam sekitar pukul 12.30. ibuku sudah tidak ada, lalu aku pindah ke kamarnya. Aku sempat mendengar adikku dan ayahku datang. Kami sempat berbicara saat aku setengah tertidur. Mereka mengajakku pergi, aku menjawab tidak. Dan kemudian melanjutkan tidur. Dan saat terbangun, jam menunjukkan pukul 17.30. Aku sudah tertidur sembilan jam.

 

Malam itu, menjelang tidur, aku merasakan kekosongan itu kembali. Merasakan kehidupanku terbuang begitu saja, tak ada manusia, kehidupan yang berarti. A life of no importance.

 

Seorang sahabat sempat menelepon, setelah aku mengiriminya pesan pendek. Ketika dia menanyakan, "tapi kamu baik-baik aja kan?", awalnya akan menjawab tidak, tapi aku tidak tahu lagi bagaimana harus bercerita padanya bahwa aku tidak baik-baik saja.

 

Aku berubah pikiran, dan tidak jadi bercerita padanya.

 

Aku tertidur pukul 00.00 malam itu, dan terbangun dengan berkeringat. Ketika aku keluar kamar dan melihat jam di atas meja makan, pukul 12.00. Ini semakin parah.

Sambil meminum segelas air dingin, aku mencoba mengingat-ingat, kenapa aku terbangun masih dengan rasa kosong itu. Sesuatu yang berhubungan dengan mimpi tadi malam.

 

Oh, aku bermimpi tentang sebuah pernikahan. Pernikahanku. Tidak, tidak denganmu. Aku tidak pernah memimpikan itu tentangmu, tidak dalam dunia nyata, dan tidak dalam tidur.

 

Ceritanya, aku bertemu seseorang di toko buku, entah bagaimana aku dan lelaki itu hanya bertukar beberapa kata, tapi aku merasa dekat dengannya, dan kami bertukar nomor telepon. Entah bagaimana, dia menelepon dan berkata, ayo kita menikah, atau sesuatu seperti itu. Aku dan lelaki itu hanya bertemu satu kali di toko buku, dan aku tidak melihatnya lagi sampai akhir mimpi.

 

Tapi ada kesibukan yang luar biasa terjadi di sekitarku, dalam mimpi itu. The idea ada seseorang yang akan menikah denganku, dan the idea aku tidak akan kesepian lagi, membuat aku terus bahagia di mimpi itu.

 

Sampai pada hari-H-nya, semua orang di keluargaku sudah siap, dan entah kenapa, mereka memutuskan untuk memakai baju berwarna hitam-putih. Aku bahkan melihat ayah dari ayahku, memakai baju hitam panjang, seperti baju seorang pastur yang berbentuk gaun terusan berwarna hitam. Semua orang sudah siap untuk pergi ke tempat si mempelai pria (kenapa keluargaku yang harus datang ke sana? Atau kami akan pergi ke tempat resepsi?), dan hanya aku yang belum bersiap-siap. Aku belum mandi, dan aku belum keramas. Dan untuk mandi dan mencuci rambut, aku butuh waktu yang lama. Dan semua rasa bahagia yang sebelumnya ada, menjadi hilang, berganti dengan kegelisahan akan keterlambatanku, dan ketakutan akan orang yang tadinya akan menikahiku berubah pikiran, karena aku bersiap-siap terlalu lama. Lalu aku terbangun. Masih dengan rasa gelisah dan ketakutan itu. dan sekarang terasa lebih parah, karena aku tahu, kegelisahan dan ketakutan itu bukan hanya dari mimpi, tapi sedang kualami dalam kehidupan nyata. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.

 

Aku masuk ke kamar ibuku, dan merebahkan diri lagi di situ.

 

Ayahku pulang sekitar satu jam kemudian, melihatku tertidur di tempat tidurnya, dan bertanya pada adikku, "Mbak-mu sakit ya?"

 

Aku mendengar pertanyaannya setengah sadar, dan dalam hati, aku mengiyakan 

   1 comments

dee
March 22, 2010   01:40 PM PDT
 
huhuh bagus bgt ini mbak ..

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments