Entry: Mahluk-mahluk itu... Saturday, February 14, 2009



Sudah menjelang jam pulang, eh ada berita yang harus dikejar. Ya sudah, menunggu dulu. Sambil menunggu laporan, aku jadi ingat sesuatu.

Berita soal kebakaran Victoria yang meluas itu kan sampai memakan korban keragaman genetik beberapa spesies di Australia. Di MI edisi kemarin (13/2) ada kalimat yang membuatku sampai ingin menangis deh. "Bencana kebakaran tersebut sudah memakan korban lebih dari 180 orang. Jumlah yang lebih besar lagi diperkirakan terjadi pada para hewan yang tidak bisa menyelamatkan diri, seperti kanguru, koala, wombat, dan berbagai jenis reptil."

Dan dengan fotonya si koala Sam yang jadi korban kebakaran itu, tangan dan kakinya semua dibebat perban, hiks, benar-benar mengiris hati. Ceritanya Sam sekarang punya rekan sepenanggungan korban kebakaran. Namanya Bob.

Dalam berita yang sama ditulis, "Bob terus memeluk dan menenangkan Sam. Mereka terlihat sangat bersahabat," tutur Jenny Shaw, petugas kantor perlindungan hewan liar di Rawson, Victoria, kepada AFP, kemarin."

Mataku sampai berair membayangkannya. Apalagi membayangkan Sam bisa sampai menghabiskan dua botol air mineral saking kehausannya karena terjebak di hutan kebakaran (ada video YouTube-nya di suatu tempat, pasti mudah dicari kok).

Pas kemarin berangkat ke Pacific Place, di depan mobil kita ada tiga truk berjejer. Masing-masing truk isinya tiga atau empat ekor sapi. Tidak diikat pakai tiang bambu dan tali-temali. Pokoknya berdiri saja.

Satu kali, truk yang di depan kami berhenti mendadak. Sapi-sapinya di dalam kaget dan oleng berdirinya sampai hampir jatuh. Duh, nggak tega gitu melihat mata-mata bulat itu memandang ke arah kita.

Apalagi selepas pintu tol, ada tanjakan cukup tinggi dan turunan untuk masuk ke tol dalam kota. Waaa, aku langsung tutup mata, nggak berani membayangkan atau melihat. Ada untungnya juga pengemudi dari kantor bergegas (dengan berbahaya) menyalip truk-truk sapi itu.

Nah, selanjutnya, tadi barusan nih. Di Trans 7 ada acara judulnya "Petualangan Liar" (no pun intended) kalau nggak salah. Atau "Petualangan Alam Liar", atau sebangsanya.

Ceritanya nggak jelas di mana, tapi ada seekor tapir yang terperosok ke lubang penuh lumpur. Nggak tahu di dalam lubang itu ada apa, cuma kaki si tapir itu sampai luka besar. Hiks. Hiks. Mataku jadi kembali berair.

Ternyata bukan cuma aku lho. Si mas-mas tim Petualangan yang ikut menyelamatkan saja terlihat menghapus air mata, walaupun agak sembunyi-sembunyi gesturnya. Sampai dua jam, kata si pembawa acara, mereka berusaha mengeluarkan tapir itu dari lubang lumpur.

Kembali ke meja dan membaca Detik.com, ada paus yang terdampar di Parang Kusumo dan sudah mati.

*ffiuuh*

Yang lebih strike a personal chord sih sebenarnya terjadi beberapa hari lalu. Sudah di rumah, sudah jajan sekoteng di malam yang dingin dan berangin kencang, lagi sibuk mengagumi Eric Bana dan Brad Pitt di Troy, terus kedengaran suara motor lewat.

Selanjutnya, ada kaingkaingkaingkainggauwgauwkgauwkgauwkkaiiiiiiiiinnnggggauwk yang membuatku dengan hati deg-degan, cemas, takut, kaget, berlari ke luar. Apa ketabrak atau dipukul orang.

Ternyata mahluk yang dimaksud lagi ada di taman dengan dua tangan menancap di kasa-kasa kawat, berusaha melepaskan diri. Aku  berusaha keluar, tapi ternyata pintu 'sangkar burung' itu sudah dikunci. Balik lagi ke pintu sebelumnya, mencabut kunci, baru membuka.

Mendekati si mahluk yang masih teriak-teriak sekeras-kerasnya, berusaha melepaskan dia. Aku pegang punggungnya, dan dia yang kesakitan berusaha menggigit. Si putih ikut-ikutan naik ke punggungnya si mahluk konyol itu, dan ibuku yang sudah ikut keluar membantu dari dalam, menarik kawat itu ke dalam, biar tangannya tidak tertancap lagi.

Hah, akhirnya bisa.

Baru setelah lepas, dan si bodoh itu diam, aku merasa lututku lemas.

Yang terjadi berikutnya adalah kita saling bertanya, "Gimana bisa? Emang dia ada di mana? Kok bisa keluar? Sebenernya dia kenapa?"

Kalau soal sebenarnya kenapa, kayaknya sih dia berusaha keluar lewat kisi-kisi pagar atau berusaha masuk tapi tangannya tersangkut di kawat kasa dan nggak tahu cara melepaskan diri. Dan panik, dan kesakitan, dan lupa menarik tangannya, atau sesuatu seperti itu.

Aku lupa apa si konyol itu sempat ikut ke luar waktu kita membayar Bapak Sekoteng  terus lupa dimasukkan lagi. Bagian itu yang paling aku nggak ingat. But anyway, it happens. And it's over. Tidak ada yang terluka berdarah atau semacamnya.

Setelah kita saling membahas sih pangkalnya sepertinya adalah kebodohan si mahluk. Sebenarnya bukan problem yang 'sulit' untuk dia bisa melepaskan diri sendiri, tapi ya...kecerdasan yang terbatas membuat dia berteriak-teriak panik.

"Duh, sampai tetangga-tetangga pada keluar. Ma pikir dia tuh dipukulin orang lho," kata ibuku.

"Aku malah mikir dia ditabrak motor. Abis tadi kedengeran bunyi motor lewat, baru dia teriak-teriak."

Hati dan perut kita sudah pada berjatuhan ke tanah, lutut sudah pada lemas semua, eh ternyata cuman tangan yang terselip di kawat.

Huaaaaaaaa, jadi ingin cepat pulang dan mengelus-elus.

(Jadi teringat cerita dari Ms.Know-It-All yang pernah bilang soal alasannya lebih memilih terlibat dalam animal cause daripada human cause. Save the whale, dolphins, orangutans, gorilla, panda, dia jadi daftar penyumbangnya, daripada soal homeless atau anak-anak putus sekolah atau soal riset HIV/AIDS. Alasannya, "because animals can't help themselves". Oh, oh, Sam...)

   1 comments

rani
February 15, 2009   07:57 PM PST
 
uuuggghhh...huks.. km membuatku mellow isyana!!
pgn ngelus2 areng.. T_T

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments