Entry: Gramedia Phobia Tuesday, February 07, 2006



Gramedia Matraman sudah tidak lagi menjadi sebuah tempat yang membuatku merasa nyaman. Dua kunjungan terakhir membuktikannya.

Biasanya, toko-toko yang mengizinkan aku menyusuri deretan lemari bukunya sampai 4-5 jam tanpa gangguan 'Ada yang bisa saya bantu' tiap lima menit sekali sudah cukup membuat aku merasa nyaman. Belum lagi judul-judul buku yang ditampung tempat itu; mungkin setiap kata di KBBI sudah dipakai jadi judul buku yang terdaftar di katalognya kali.(Eh, gimana sih? Kok jadi mbulet?)

Jadi, Gramedia, mana pun, bisa memunculkan rasa nyaman. Tapi karena yang paling dekat rumah dan ternyata paling lengkap ada di Matraman, dan karena tempat yang paling sering didatangi itu menimbulkan rasa familiar dan rasa familiar menimbulkan rasa nyaman, kesimpulannya...Gramedia Matramanlah Gramedia yang paling membuat aku merasa nyaman.

Tapi, sekali lagi, dua kunjungan terakhir membuat aku...gelisah.

Aku lupa kunjungan sebelum terakhir kapan, sepertinya dua minggu yang lalu. Tapi kunjunganku yang terakhir itu Senin kemarin; waktu kantorku officially libur, tapi paginya aku tetep harus ke BPOM di Percetakan Negara.

"Horee, I'm free for the afternoon. Nggak harus ke kantor. Jalan ke mana ya?"

Dari rumah sih sebenernya pengen ke kawasan Sarinah Thamrin, lunch di Bakmi GM, ke QB, duduk menikmati sore, atau apalah. Tapi kok pengen ke Gramedia Matraman dulu, pengen nyari bolpen mini yang aku ngeliat iklannya di sebuah majalah cewek.

Asalnya nggak mau jalan ke bagian buku, tapi...sudah terlanjur basah rasanya pas cuma liat-liat alat tulis, ya udah 'natural course'-nya lah, naik ke lantai dua, ke bagian buku-buku.

Tapi gila, man. Tumpukan buku-buku yang biasanya membuat aku ngerasa nyaman itu jadi membuat gelisah, poll. Ceritanya, ngeliat tumpukan buku itu aku jadi keingat sama tumpukan buku di rumah, yang belum kebaca. Terus masih ada lagi, buku-buku yang numpuk di rumah nunggu giliran dibaca itu sepertinya berasal dari kategori "yang salah", yang kayaknya masih ada buku-buku yang lebih penting untuk dibaca. Tapi untuk beli lagi buku-buku yang 'penting' itu juga nggak bisa, karena ada buku-buku yang masih belum selesai dibaca itu.

Oke, untuk meredakan kegelisahan, ya penyelesaiannya.. baca aja buku-buku yang belum dibaca itu. Tapi muncul kegelisahan yang lain, aduh..kenapa ya aku mbacanya nggak bisa cepet? Dan kayaknya aku tidak mengapresiasinya dengan cara yang 'tepat' deh, setidaknya aku belum bisa mencerna terus mengambil sesuatu dari situ, sebagai pelajaran lah.

Dan kepalaku terus langsung merekam betapa buanyaknya judul-judul buku yang masih harus dibaca itu, baik yang udah dibeli, ataupun yang masih numpuk di Gramedia. "Gilaaa, kapan aku bakal selesai dengan semua itu?" Dan aku nggak tau, apakah itu otakku atau hatiku yang berteriak.

Dan no matter how hard I tried, pasti pasti pasti aku bakal tergoda beli sesuatu. Argh, pemborosan uang dan ruang yang sebenarnya bisa dihindarkan dengan akal sehat. Tapi, it's the panic talking, honey.

Anyway, itu baru dari satu aspek; aku sebagai pembaca. Belum lagi aku sebagai...orang yang belajar menulis-lah, biar aman. Naive as it may sound, aku punya mimpi; to write something, publish it, and  for people to enjoy it. Dan ngeliat tumpukan buku di Gramedia itu, aku cuma tersadar: the competition is fierce!

Competition, my ass. Ladang pembantaian itu sebenernya.

Dan kekhawatiran itu punya alasan, kayak:
1. Hmm, aku nggak bisa nemuin 'shelves' that I want to belong in. (Sombong nggak sih?) Well, intinya nggak di bagian 'sastra', karena aku nggak bakal sampai ke level itu. Tapi juga nggak pengen berada di bagian chicklit.

2. Aduh, orang-orang yang kemampuannya udah nggak butuh pengakuan, karena udah jelas-jelas keliatan, hasil karya kerja kerasnya cuman numpuk gitu aja. Dalam tumpukan yang kayaknya tiap aku datang nggak pernah...berkurang. Mungkin persediaan stock roomnya aja sih yang banyak, tapi ada kemungkinan juga kan nggak kebeli?

Akhirnya, daripada ngerasa santai, atau terinspirasi, atau energi-energi positif lainnya yang biasanya aku dapetin dari berkunjung ke toko buku, sekarang.. malah dapetnya pusing karena overload informasi, bingung, dan...wes, pusing, pokoke.

Jadi kayaknya aku harus jauh-jauh dulu dari toko buku nih.

Dan good thing juga sih, mengingat duit di tabungan yang langsung... tipiiis banget, padahal ini baru tanggal berapa nih...

   1 comments

Aann
February 8, 2006   11:39 AM PST
 
Hee...kantornya di dkt rumahku ya. Di percetakan negara. Eh..kmrn yang abis ada ledakan itu ya? Dah gitu rajin ke gramed lagi...

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments