Entry: Paspor Saturday, July 26, 2008



Pertanyaan, berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang wartawan untuk membuat paspor?

Jawabannya, satu jam.

(Dan satu hari untuk mengambilnya sih)

Jadi, Kamis kemarin aku, akhirnya, memaksakan diri untuk meluangkan waktu membuat paspor. Sehari sebelumnya sudah minta surat keterangan dari kantor biar lebih mantap urusannya. Plus minta nomor telepon orang Imigrasi yang biasa membantu proses pembuatan paspor orang-orang kantor, hehe.

Baru sampai rumah jam 6.30 pagi dan berencana bangun jam 7.30an. Tapi akhirnya bangun jam 11, itu pun dipaksa-paksa. Telpon orangnya, dan baru sampai di Mampang jam duaan. Tambah dua puluh menitan buat fotokopi-fotokopi, terus ketemu deh. "Haduh, mbak. Kok datangnya sore banget sih?"

Lha saya baru kerja kayak satpam, Pak. (Ini cuma dalam hati)

Akhirnya cepat-cepat beli formulir, isi, melengkapi dokumen, dan diserahkan ke bapak yang membantu itu. Langsung dibawa ke balik pintu permohonan berkas. Eh sebelumnya sempat suruh fotokopi kartu pers dulu, terus dicepret deh di bagian depan penahan dokumen.

Lima sampai sepuluh menit duduk, bahuku dicolek-colek. Ternyata si bapak yang membantu itu. Singkatnya mungkin kita panggil Pak Kumis saja.

"Mbak, dipanggil Pak *** tuh. Dia nggak percaya mbaknya wartawan."

Ternyata si bapak yang pengen memastikan statusku itu cuma mau bilang, "Mbak, maklum ya kalau selesainya nggak bisa cepat. Dan harus berlanjut sampai minggu depan. Soalnya kita mau ada pembaruan sistem. Tapi mbaknya butuh cepat?"

Aku yang tadi cuma ngangguk-ngangguk terus menjawab, "Emm, iya sih. Butuhnya agak cepat."

"Ya ini saya cuma ngasih tau aja. Jadi kalau nanti nggak cepat selesai biar mbaknya nggak marah-marah, 'Gimana sih, kok nggak selesai hari ini'."

Dalam hati aku agak berseri-seri, 'Hah, masa sih mau selesai hari ini? Yang bener aja?' Di sisi lain, aku jadi berpikir, hmm, padahal aku sudah menggunakan nama institusi dan status pekerjaan untuk mendapat kemudahan, tapi si bapak ini sampai harus mengingatkan biar aku nggak marah-marah kalau dia nggak bisa memberikan kemudahan. Kemudahan yang sebenarnya...seharusnya tidak ada, mungkin.

Akhirnya nunggu di luar lagi sekitar 10 sampai 15 menitan. Pak Kumis ternyata sudah keluar dengan formulir-formulirku sudah ditandatangani dan disuruh membayar ke atas. Waktu lagi ngantre di kassa, ada petugas dari belakangku yang bilang, "Mau mbayar, mbak?"
"Iya."
"Sini, sini."

Mapku terus diambil dan dia masukkan ke loket. "Tunggu dipanggil namanya ya."

Lima sampai sepuluh menit dan namaku dipanggil. "Media Indonesia."

Hahaha.

Sudah deh, dari situ langsung foto dan pencatatan sidik jari. Selesai, wawancara, yang ternyata cuma ketemu Pak Kumis dan dia melengkapi bagian formulir yang belum lengkap. Katanya, "Besok ya ngambilnya. Siangan. Lepas jam 2."

Dan aku keluar dari gedung itu jam 3.30.

Ck, ck, ck. 

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments