Entry: Sabun Friday, June 27, 2008



Aku baru melihat bagaimana konstruksi kecantikan tengah bekerja beberapa waktu lalu. Saat Watson's Citraland lagi mengadakan sale.

Watson's, buat yang butuh terjemahan, itu sejenis Kruidvat atau Etos. Kalau dibandingkan sama Guardian atau sejenisnya, kok aku belum pernah melihat yang ukurannya selega ini ya? Gang-gangnya lebih lebar, leluasa, terus penataan barangnya juga menggoda. Ada gang khusus kosmetikanya juga.

Selesai nge-gym, tapi masih 'kepagian' datang ke kantor. Akhirnya mampir dulu di situ. Habis penasaran sih, kenapa kok ramai banget. Ternyata itu lagi hari terakhir sale.

Yang dipotong harganya sebenarnya cuma beberapa produk. Dan setelah pengurangan pun masih terasa tidak jauh beda. Paling cuma berkurang Rp6 ribu sampai Rp8 ribuan, tapi tetap saja, ramai.

Entah kenapa, pemandangan yang dominan kok pasangan suami-istri muda tanpa anak. Suami-suami dengan wajah kegelian nggak habis pikir melihat istrinya sibuk memilih krim creambath toples besar yang harganya jadi Rp 30 ribuan dari yang asalnya Rp 40 ribuan (seingatku). Pokoknya itu produk yang paling laris.

Ada juga suami berwajah tidak sabaran, tapi si istrinya masih ragu-ragu, beli nggak ya, beli nggak ya. Akhirnya, "Ya udah. Kalau jadi, ayo," terlontar juga. Sementara aku, selain meragukan keefektifan produk bermerek sama seperti nama tokonya, juga nggak menangkap apa asyiknya creambath di rumah sendiri? Bukankah esensinya creambath itu kepala dipijat-pijat dan kamu (membayar untuk) 'dirawat' orang lain?

Tapi aku juga skeptis pada keefektifan banyak produk kecantikan, sepertinya. Setiap sabun, sampo, lotion, masker, bedak, parfum, perona pipi, lipstik, lipgloss, menurutku adalah sebuah alat bantu subyek pemakainya untuk menjadi sosok baru, setiap kali. Ini bukan pandangan nyinyir, karena aku pernah, sedang dan masih mengalaminya, maka aku bisa berpendapat seperti itu.

Yang asalnya aku kebal, tapi jadi luluh ketika melihat sabun cair Lux berdesain botol baru. Ada yang baunya enak, namanya Magic Spell. Katanya, "For Soft and Fragranced Skin." Tapi ada wangi lain yang namanya Sweet Kisses. Tertarik karena katanya ada aroma peachnya. Khasiatnya, "For Soft and Kissable Skin."

Nah ini. Yang mana yang aku pilih ya? Soft and fragranced atau soft and kissable?

Terpaksalah membayangkan skenario-skenario imajinasi yang melibatkan....(enaknya siapa ya?) Channing Tatum? Clive Owen? (waktu ini belum teringat sama Eric Bana). Pokoknya obyek afeksi lah.

Padahal ini kan cuma sabun. Kenapa pula aku harus mengasosiasikannya dengan skenario romantis atau fantasi atau, bahkan, siapa aku sebagai seorang manusia? Toh, seperti sudah dialami berkali-kali sebelumnya, wanginya paling lama tahan sampai lima menit saja. Tidak akan cukup kuat sampai membuat si obyek afeksi berpaling seperti di iklan-iklan itu bukan?

Sementara, salah satu eyangku suka membeli sabun Pears yang oranye bening itu buat mukanya. Selain faktor kebiasaan dari dulu, beliau suka sabun itu karena tidak ada baunya. Yang penting buat dia adalah fungsi.

Baru dari sinilah aku sadar. Oh iya, ini to maksudnya konstruksi kecantikan, ketika sabun tidak berarti jadi sekadar sabun. Tapi jadi 'alat' untuk memperbarui, merubah dan memperbaiki diri.

Akhirnya aku memilih Magic Kisses atas pertimbangan, kulit berbau harum dulu baru bisa kissable, haha.

Setelah itu pun masih ditambah lotionnya Dewi Sri Spa yang, walaupun didiskon, masih lumayan membuat kantong langsung kosong. Tapi aku sudah jatuh cinta sama baunya yang campuran teh dan mawar itu. Dan sekarang, baru seminggu dipakai kok ya sudah tidak sampai setengah botol ya?

Ya, ya, ini bukan cerita tentang aku yang menyadari kekuatan rekayasa nilai kecantikan lalu berpaling, tapi menyadari bahwa sistem itu ternyata sudah inheren dalam otak.

Antara itu atau aku jatuh cinta pada wangi.

Oalah, fantasi, fantasi.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments