Entry: Starstruck(?) Thursday, June 26, 2008



Seharusnya, pada saat ini, saya mulai mengetik tentang liputan tadi siang, tentang Chairil dan Kota. Karena merasa kepala lagi terlalu penuh, ya sudah, mampir curhat sebentar di sini.

Entah kebetulan atau tidak, kok sepertinya  'doa-doa' saya itu terwujud lewat membaca berulang-ulang ya? Padahal saya tidak menyadarinya, atau memaksudkannya, sebagai sebuah 'doa'.

Contohnya ini, karena otak menulis yang tidak kunjung cair, maka untuk melumerkan, saya membaca ulang teks tertentu yang saya anggap sempurna. Eh, keesokannya, ternyata saya dapat pesan pendek dari si penulis teks.

Kemarin-kemarin, baru Selasa lalu, sambil menunggu tersambungnya panggilan telepon ke seorang narasumber, saya membolak-balik majalah Tempo edisi 27 April 2008. Hanya karena kebiasaan, saya membuka mulai dari halaman belakang.

Sudah lama sekali saya tidak membaca Caping untuk alasan yang bermacam-macam. Tapi yang ini kalimat pertamanya langsung sebuah kutipan, "...Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam."

Ya, ya, karena jam kerja sekarang, saya jadi sensitif mendengar kata malam. Kutipan itu ternyata dari puisinya Chairil. Judulnya "Perjurit Jaga Malam." Ada sesuatu yang bangkit dalam hati saya ketika pada kalimat-kalimat selanjutnya tertulis, "Bagian penting dari 27 tahun dalam hidupnya intens, bergairah, gemuruh, dan khaotis."

Pada bagian selanjutnya, juga ada catatan dari Chairil: ...wijsheid + inzicht tidak cukup, musti stimulerende kracht + enthousiasme. (kebijaksanaan dan insight tidak cukup, musti (punya) kekuatan yang menstimulir + antusiasme)

Mungkin karena itu, atau karena subyeknya, atau karena saya ingin mengetahui sebuah cara menjalani hidup, maka saya membaca "Hoppla!"--judul esai itu--sampai selesai.

Lalu ulang lagi dari atas. Selesai.
Ulang lagi dari atas. Selesai.
Sampai tiga atau empat kali, saya lupa tepatnya, saya ulangi membaca esai itu. Dari yang memahami sepenuhnya, jadi malah tidak memahami sama sekali, lalu seperempat memahami, dan terakhir, lupa apa yang saya pahami.

Dan doa yang terwujud?

Karena hari ini, untuk pertama kalinya, saya bertemu dengan--atau tepatnya, menonton--si penulis esai. Dan dia berbicara tentang Chairil.

Apa yang dia lakukan adalah murni penampilan. Caranya menjawab pertanyaan, terutama. Apalagi saat jawabannya menjelang berakhir, ada kesan finalitas yang khas sebuah pertunjukan. Bahkan sering pertunjukan yang benar-benar diniatkan sebagai pertunjukan dalam artian 'konvensional' pun tak menunjukkan finale setegas (dan sedramatis) itu. Dia membuatnya sebagai sesuatu yang alamiah ketika kita, penontonnya, bertepuk tangan di bagian akhir.

Baru akhir pekan yang lalu saya menonton Elegy dengan Ben Kingsley dan Penelope Cruz. Film yang menarik karena beberapa unsurnya. Pertama, diangkat dari novelnya Philip Roth.

Roth--dan saya rentan salah di sini--sering mendapat reputasi sebagai penulis egosentris yang misoginis. Tapi seperti katanya karakter Philip di Puccini for Beginners, "I dare you to say something not cliche about Philip Roth."

Selain itu, sutradaranya Elegy adalah Isabel Coixet yang juga membuat My Life Without Me, salah satu film favorit saya. Lalu ada juga faktor pengembangan cerita dan kesimpulan yang bisa membuat saya menulis satu posting lagi.

Tapi, waktu itu saya mau mempertanyakan, ada apa sih dengan perempuan-perempuan muda yang tertarik sama profesor-profesor kritikus budaya/penulis seperti di Starting Out in the Evening atau Elegy?

Di Elegy, karakter David Kepesh, si profesor itu--yang saya curigai adalah alter egonya Roth--diperankan oleh Ben Kingsley dengan bungkusan elegan untuk muslihatnya yang berstrategi.

Selama si eseis berbicara dan menjawab pertanyaan, yang saya bayangkan cuma David Kepesh-nya Ben Kingsley. Jangan-jangan Kingsley berguru pada si eseis untuk menampilkan profesor Kepesh. Atau ada 'tongkrongan' standar untuk kritikus budaya ketika mereka mencapai usia tertentu?

Setelah diskusinya bubar pun, orang-orang pada mengerumuninya. Dari mulai mengajaknya bicara tentang FPI sampai sekadar menjabat tangan seolah si penjabat berterimakasih atas hidup yang diberikan sosok ini padanya.

Sang Junjungan--sebutannya dalam diskusi itu--sedang memegang rokok di antara telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ketika seseorang datang dan memanggil namanya. Tangannya diulurkan, seolah akan memberi sesuatu. Tangan Sang Junjungan sudah terbuka, seakan siap menerima sesuatu, entah uang receh atau kunci mobil. Tapi si pengulur tangan itu cuma menjabat saja dan bilang, "Terima kasih."

Untuk?

Dari nadanya sih seperti "terima kasih untuk datang dan berbicara hari ini dan memberikan pencerahan bermakna pencarian ribuan tahun pada saya".Tapi ini interpretasi (dramatis) saya.

Mungkin itu ya rasanya berada di posisi dia. Ketika seseorang yang datang dan mengucapkan terima kasih hanya untuk dia eksis itu bukan hanya satu, dua.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments