Entry: Tete a tete Thursday, June 12, 2008



Tepat seminggu yang lalu aku ketemuan sama Ms Know-It-All buat tete-a-tete makan siang. Kita jadi ladies who lunch, ceritanya. Dan karena aku butuh ketemu sama orang lain, tanya-tanya kabar, denger cerita yang tidak aku familiari. Sesuatu yang baru lah intinya.

Memilih ketemuan di Oakwood--biar habis itu bisa mampir ke Ambassador, hehe--terus mau milih tempat pas sudah di sana. Akhirnya ke Loewy lah.

Itu restoran interiornya keren banget. Berasa di New York (halah). Interiornya sih gaya-gaya art deco, temboknya bata dicat putih. Terus mereka punya tempat-tempat duduk yang agak mirip kompartemen itu, kursinya sofa, dan terlindung. Ada pembatas di bagian belakang kepala.

Lain-lainnya, meja kayu segi empat sederhana. Tapi kaki mejanya bekas kaki mesin jahit Singer model kuno. Kursi kayu sederhana juga. Di atas mejanya ada botol Coca cola lama, diisi air sama satu tangkai bunga daisy, asli, yang kelopaknya besar. Warnanya ungu muda lembuuut banget.

Ada kipas angin juga yang berputar pelan. Sangat New York 1920an deh. Nggak kaget kalau tiba-tiba Dorothy Parker masuk dan pesan martini. (Btw, itu tempat menjual martini dengan berbagai rasa. Selain yang standar with a twist atau olive, ada juga White Chocolate, Raspberry Cheesecake [!], ah pokoknya menu cocktailnya lengkap banget deh. Plus wine, rose, dst, dst)

Makanan yang kita pesan sih rasanya biasa saja. Ada yang lebih istimewa dengan harga yang lebih murah. Tapi suatu hari nanti, mungkin enak kalau buat nyantai sore-sore sambil menyisip martini, hehe.

Sesi tanya-jawab kabar masing-masing pun berjalan.

Ms Know-It-All lagi merasa banyak hal yang lumayan going good dalam hidupnya, nggak seperti tahun lalu. Tapi merasa perlu untuk menambahkan, "Nih Nar. Buat orang-orang kayak kita, yang lahir tahun 83, 2009 is going to be a good year karena celestial..."

Aku lupa terakhirnya apa. Tapi intinya tatanan perbintangan deh yang jadi alasannya.

"So, how's life?"
"Emmm. Good. Polos, lagi nggak ada apa-apa yang terjadi. Dan ternyata aku nggak kenapa-napa dengan hidup yang kosong-kosong itu."

Mungkin karena tempatnya yang nyaman, yang silir semilir, atau karena kenyang juga, aku nggak menyangka bisa jadi seoptimis itu.

Jadi ingat kutipannya Audrey Hepburn di buku foto yang baru dikasih mbak ShaSha itu. Katanya, tentang uang, kebahagiaan itu nggak bersumber atau disebabkan oleh uang. "But money can enhance my sense of security. Therefore it increases my chance to be happy."

Dan aku merasa optimisme dan kebahagiaan itu muncul karena aku lagi berada di tempat yang indah. Yang butuh biaya untuk diakses. Dan tempat itu bisa memberi rasa nyaman dan pada akhirnya memberi kesempatan lebih besar untuk merasa bahagia, seperti katanya Audrey Hepburn itu.

"Are you involved with someone? Verliefd? Getrouwd?"
"Enggak. Sama sekali enggak. Aku pikir aku naksir orang, tapi ternyata enggak."

As much as I like being in love or having a crush, ternyata nggak ada yang lebih melegakan daripada menyadari bahwa 'penaksiranku' nggak berdasar. Cuma keinginan yang besar saja, tapi nggak cukup kuat atau cukup berdasar untuk menjadikannya bertahan.

Mungkin 'perubahan-perubahan' ini akibat nge-gym. Tapi aku belum selama itu kembali ke gym kayaknya sampai bisa memunculkan perbaikan dari segi hormonal atau emosional, dst.

Biasanya makan siang sama Ms Know-It-All jadi membawa bahan pikiran atau pembelajaran dari segi karier atau keuangan. Kemarin sih, nggak ada hal-hal sepert i itu yang kita perbincangkan. Lebih banyak hal pribadi yang ringan atau tentang teman-teman sekitar. Tapi aku keluar dari situ dengan merasa enteng dan bahagia.

"I wish I can be as optimistic as Rhonda Byrne," kata Ms Know-It-All. Sedikit berharap, tapi sepertinya nggak sepengen itu.
"Siapa tuh?" Aku dan keacuhan terhadap hal-hal yang berbau self-help ya.
"Itu lho. Law of attraction. The Secret."
"Oooh yaa. Aku lagi berpikir untuk mulai membacanya."
"You should. It's the pinnacle of self-help books."
"Jadi kalau udah mbaca itu, nggak perlu mbaca yang lain-lainnya ya?"

Oke, ini kejadian sudah seminggu yang lalu. Dan moodku juga tidak selalu seringan itu. Tapi yang tetap adalah keinginan untuk meringankan hati, untuk jadi lebih bahagia, dan riang, dan lebih sering tertawa.

Masih ada momen-momen yang membuat hati terasa sesak. Iri dan sakit hati terutama. Tapi pas lagi di gym, aku berusaha bukan sekadar membakar kalori tapi juga membakar rasa marah.

Atau setidaknya dengan membakar kalori sebanyak-banyaknya dan setahan-tahannya, aku jadi nggak lagi punya energi untuk merasa kesal atau sedih atau sakit hati lagi.

Dan ini yang tadi aku baru kepikiran di gym. Kenapa dulu waktu patah hati itu, nggak kepikiran untuk ngedaftar gym ya? Maksudnya, bakal tetap bisa nangis dan tenggelam dalam pikiran sendiri, tapi setidaknya bisa sambil beraktivitas kan?

Jadi, aku akan menyebutnya nasihat terbaik buat orang yang habis patah hati. Get a gym membership.

(Ugh, aku kangen yoga nih. Tapi nggak pernah bisa ikut kelasnya)

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments