Entry: Bangkit Wednesday, May 21, 2008



Katanya (iklan), ada berbagai macam cara memaknai kebangkitan. Ada reporter metropolitan yang berorasi kebudayaan tapi di akhir acara malah kaya Ketua RT lagi menutup halal bihalal (kata itu ada nggak sih sebenarnya dalam khazanah bahasa Indonesia? Kalau ada, gimana menulisnya?).

Aku, mungkin balik ke gym kali ya. Biar kalau ada kebutuhan mendadak untuk tampil dengan two-piece bathing suit selalu siap. Hehehe.

Belum serius sih, baru kemarin aja sekali, mumpung acara liputan Kebangkitan yang lain dekat situ.

Pertamanya di alat...apa ya itu namanya, pokoknya gerakannya mirip mengayuh, tapi sambil berdiri, setengah jam. Dan rasanya bahagia.

Terus pindah ke treadmill, setengah jam juga.

Mau pindah ke cross-trainer, eh ada mbak-mbak kayak Kelinci Energizer yang make lamaaa banget. Akhirnya balik lagi ke treadmill.

Tapi, oh, ada sisa-sisa dari acara kumpul-kumpul RT reporter metropolitan (lengkap dengan potong tumpengnya).

Di sana ketemu mantan atasan yang, masih teteup aja, ingin diakui tapi dengan upaya seminim mungkin. Nggak lewat tulisan, nggak lewat kemampuan verbal. Dan nggak bisa lihat orang sekadar main-main tanpa arah, menganggap serius acara yang sebenarnya...biasa-biasa aja.

Ini aku dengan jubah penilaian ya. Jadinya, pas lihat spanduk peringatan kebangkitan di acaranya si reporter metropolitan, kok ya ucapannya nggak jauh beda sama spanduk-spanduk dari instansi pemerintah atau kepolisian.

Yang jayus, kosong, berusaha terkesan gagah tapi sekadar retorika. Dan terakhir, si reporter metropolitan bilang: Terima kasih ya atas dukungannya.

Kita nggak seserius itu kok, cuma butuh variasi tujuan. Biar ada yang bisa diomongin selain urusan kantor. Karena nggak bisa lagi tidur malam hari.

Pas acara selesai jam 11.30 pun, aku merasa, lha kok udahan? Kayaknya masih jam 10 aja.

Yang sial sih, karena penuh, jadi duduk di bagian depan. Paling depan. Lampu juga pas nyorot ke kita. Tapi ketawa kemekelan pas ada bapak-bapak dari perusahaan sponsor (dua lho sponsornya! Dari bidang usaha yang sama pula!) dengan postur nggak jauh beda sama orang DPR membaca, "Namaku bayi dalam gendongan."

Cuma bisa tertegun.

Ketawanya baru meledak waktu dia bilang, "Ibu, ibu, aku butuh susu, ibu."

Sejak dari situ, apa pun yang dia omongin nggak bisa dianggap serius. Tambah geli karena saling lihat-lihatan. Mana pada sampe berkaca-kaca semua matanya. Jadi pada kebingungan menyembunyikan geli.

Oke, itu puisi bukan main-main. Tapi gara-gara cara membaca si bapak ini, ketawa jadi seperti nggak kehabisan stok.

Yah, mungkin memang cuma bisa memaknai acara kebangkitan si reporter metropolitan cuma sampai segitu.

Bangkit? Apa ya. Mengecek ulang daftar tahun ini sepertinya.

   3 comments

suci
May 23, 2008   08:22 AM PDT
 
gak tau juga, ucapan2 gitu, gak dapet feel nya gw
isyana
May 23, 2008   01:49 AM PDT
 
lebaran deeehh. pasti aku udah size 0.
rani
May 22, 2008   11:50 AM PDT
 
ayoo kita sama2 bangkit.. dan dulu2an siapa yang bisa size 0. hehe

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments