Entry: Tentang Lupa dan Nama Panggilan Wednesday, May 14, 2008



Hari Senin kemarin aku sempat tanya kanan-kiri, pada berumur berapa sih waktu Mei 1998 terjadi?

Yang membuatku agak terusik gara-garanya, pas pulang menantang sinar matahari di daerah Permata Hijau itu hari Senin, di radio ada mahasiswa Trisakti yang melaporkan bahwa mereka akan turun ke jalan hari itu untuk peringatan satu dekade Reformasi.

Dengan kesadaran yang masih setengah, dengan mata yang tertutup handuk penghalau sinar matahari, aku iseng-iseng menghitung. Kalau mahasiswa itu rata-rata usianya antara 18 sampai 22 atau 23, berarti 10 tahun lalu mereka umurnya 8 sampai 12 atau 13 tahun.

Apa yang bisa mereka ingat ya tentang masa itu?

Getir juga sih waktu sadar, ternyata nggak banyak juga yang bisa aku ingat dari masa itu. Selain masih kelas 1 SMA sih.

Aku nonton TV iya, sadar apa yang terjadi, iya. Tapi ya sudah, cuma sampai situ saja.

Dan jangan-jangan banyak juga yang sudah mulai lupa. Apa ya yang bisa dilakukan untuk melawan lupa?

Eh, ternyata (salah satu) jawabannya datang besoknya.

Ada pemutaran perdana kompilasi film pendek seputar Mei 1998 di Kineforum. Namanya 9808.

Penuh banget pas pemutarannya, sampai ada beberapa yang harus duduk di lantai. Repertoarnya sih lumayan menarik. Ada yang dokumenter, ada yang film feature pendek, tapi buatku yang menarik ada dua, Sugiharti Halim sama Sekolah Kami, Hidup Kami.

Sugiharti Halim, sebuah film feature pendek, berisi narasi seorang Sugiharti Halim yang merasa tidak cocok dengan namanya. Nama yang diberikan orangtuanya karena kewajiban memberi nama Indonesia untuk orang-orang etnis Tionghoa. "Karena pengen curhat massal tentang ke-Cina-an gue," kata Ariani Darmawan, sutradaranya.

Cerdas, tajam, komedik, tapi ada sisa getirnya. Naratornya ngomong langsung ke kamera, ke penonton. Tapi dalam film 'disamarkan' seakan ia sedang berbicara dengan teman-teman kencan yang lebih memilih membenamkan diri dalam makanan daripada mendengarkan ocehannya.

Ujungnya sih, yang aku tangkap, Sugiharti berproses menuju penerimaan tentang namanya itu.

Tapi ada satu bagian yang terasa familiar.

Pernah nggak ketemu orang, terus kenalan, dan kamu menyebut namamu. Terus pertanyaan selanjutnya adalah, "Panggilannya siapa?"

Dalam hati aku selalu menjawab, bukannya tadi aku sudah menyebut namaku?

Tapi yang keluar, "Isyana aja."

"Kok panjang banget sih? Nggak ada pendeknya?"

(Dalam hati: Nggak sepanjang itu kok. Cuma tiga suku kata. Aku nggak menyebut Robert Allen Zimmerman kan? Atau Rumpelstiltskin? Tiga suku kata nggak panjang lah. Oke, iya, ada nama panggilan lain yang lebih pendek. Tapi kita kan baru kenal. Kamu tidak datang dari masa laluku, so please, tetap Isyana.)

(Tapi ya kalau terlanjur tahu, ya sudahlah.)

Kadang yang masih keukeuh mencoba-coba, "Is? Yana? Nana?"

"Enggak, Isyana aja."

Karena, antara Is atau Yana atau Nana, walaupun penggalan dari nama 'panjangku' bukanlah aku.

Dan ini lumayan sering kejadian waktu jaman-jamannya aku masih sering ketemu orang-orang baru waktu liputan.

Nah, di Sugiharti Halim, momen itu ada juga. Ditanya panggilannya siapa. Harti?

Ada yang juga sering mengalami hal sama?

Terus ada kutipan bagus sih dari Sugiharti, tentang betapa tidak masuk akalnya mencoba memenggal nama gitu, tapi aku lupa tepatnya apa kutipan itu.

Film kedua yang aku favoritin sih diputar di bagian akhir.

Sekolah Kami, Hidup Kami itu bercerita tentang anak-anak SMA 3 Surakarta yang berusaha membongkar penyelewengan penggunaan dana di sekolahnya. Pelakunya? Kepala Sekolah dan guru-guru lainnya.

Tapi mereka itu beneran deh. Hebat banget. Anak-anak yang di tim Save Our School itu, maksudnya (Beneran deh nama tim investigasinya itu). Mereka kerja dibagi dalam tim informan, bukti, publikasi, dan media massa (Gila, sadar pengaruh media juga mereka).

Mengharukan dan membuat semangat di saat bersamaan.

Agak absurd tapi juga salut melihat cara mereka meminta klarifikasi dan berdebat dengan guru-guru mereka. Di satu sisi mereka 'mengadili'. Di sisi lain, mereka tidak lupa dengan tata krama. Para guru yang asalnya berdiri kikuk di panggung, lalu disediakan kursi.

Di tengah gugatan dan semangat mereka pun, mereka tetap remaja. Yang punya handphone berkamera dan sibuk mengabadikan momen itu.

Antusiasme mereka sih, sejauh yang tertangkap kamera ya, tulus. Nggak tahu lagi waktu kameranya mati.

Tapi ini tentang semangat aktivisme yang semakin memuda, yang membuat optimis, yang memberi harapan.

Oh ya, salah satu cacatku adalah tak bisa memisahkan emosi ketika menulis. Jadi, don't take it from me, ini hanya sebuah opini.

   2 comments

proyek. payung@gmail.com
May 17, 2008   07:01 PM PDT
 
hai,
kami dari proyek payung yang menyiapkan "9808", boleh kah postingan ini kami muat di bagian opini di website kami?

kami tunggu kabarnya ya.

salam.
ex-rekan kerja
May 14, 2008   09:24 AM PDT
 
Gw juga sempat berpikir seperti elo Nar ketika melihat mahasiswa2 itu demo. Mereka sebenarnya tahu nggak ya apa yg terjadi 10 tahun lalu itu? Atau mereka skrg cuma sekedar ikut euforia demo2 doang? Soalnya 10 tahun lalu saat peristiwa itu terjadi, gw juga masih sma (dan bisa dikatakan di usia itu kita udah sadar apa yang terjadi di dunia), tapi tetep aja sekarang peristiwa itu cuma ada samar2 di kepala gw.

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments