Entry: Maskulin Austen Tuesday, April 29, 2008



Jane Austen, dengan segala lapisannya, buatku masih predominantly area perempuan. Bukannya bermaksud 'membatasi' penikmat karya Austen tapi sampai sekarang aku masih belum tahu apa yang didapat pembaca laki-laki dari karya Jane Austen.

Makanya agak kaget pas kemarin lagi membaca-baca profil dari press kit sebuah band, ada tuh anggotanya yang mendaftar Jane Austen sebagai salah satu penulis favoritnya. Dan ini seorang pria.

Penulis lain yang disebut sih ada Elmore Leonard, George Orwell, Solzhenitsyin. Dan kemunculan Austen di situ jadi agak membuat bertanya-tanya. Kenapa ya?

Aku pikir unsur-unsur desperation, longing dan romansa itu cewek banget. Well, Austen is a lot of things as well. Social realism, perbedaan kelas, studi karakter manusia, motivasi yang menggerakkan tindakan juga melakukan yang sebaliknya. Tapi ya itu, dengan bungkusan kisah cinta. Yang aku pikir masih predominantly female. (Mungkin ini yang jadi alasan aku nggak pernah, secara sengaja, mendorong orang membaca Austen. Yah, setidaknya dibanding aku mendorong orang untuk membaca Salinger gitu...Ok, sekarang aku sudah agak tahu bahwa itu bukan hal yang tepat, 'mengarahkan selera' orang, hehe.)

Oke, hal termudah yang bisa dilakukan adalah mengirimi email ke orang ini dan menanyakannya. Tapi ini terlalu kayak pick up nggak sih?

Di topik yang berbeda, Miss Austen Regrets ternyata bagus. Aku sempat merasa agak Austen Overload sih, tapi ternyata BBC itu nama yang cukup bisa diandalkan untuk produksi dramanya.

Dan Austen-nya Olivia Williams benar-benar memenuhi pengharapanku akan seorang Jane Austen. Sampai ke pandangan mata, intonasi kalimat-kalimatnya, plus caranya berkomunikasi verbal.

Ada sisi yang membuatku mengerti kenapa ada yang bilang dia itu silliest husband hunting butterfly. Dan ada masanya bagaimana dia bisa jadi bibi yang manis, tapi juga bisa sinis. Katanya, satu-satunya cara bisa ketemu sama seorang kaya Mr Darcy ya dengan menuliskannya.

Atau,
"Well done, Fanny. Now you know the reason why I never got married."
"What? You couldn't find one handsome enough?"
"No. It's that I never found one worth giving up flirting for."

Haha.

Very well done.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments