Entry: Happy Couples are My Enemy Sunday, December 25, 2005



Aku selalu merasa marah, kesal, dan berlaku tidak ramah pada teman-temanku yang sedang memiliki pasangan. Dan aku dulu merasa, itu adalah bagian dari sebuah fase menjadi dewasa. Pasti, aku nanti akan menertawai sosok aku yang selalu iri melihat kasih sayang antara dua kekasih.

Tapi sekarang aku yakin, aku tidak akan menjadi sosok yang lebih baik, di masa depan, ketika melihat seorang teman memiliki pasangan, sementara aku single.

Nggak peduli, seberapa keras aku berusaha untuk tetap ramah, tersenyum, ikut berbahagia (dan percaya deh, semua itu benar-benar atas dasar ketulusan), akan ada titik-titik saat aku merasa iri dengan kasih sayang yang ter-ping-pong dari dua arah itu.

Dan ya mungkin memang harus diterima aja, kalau aku tidak akan menjadi teman yang baik untuk mereka yang sedang berpasangan. Teman baik untuk nonton, untuk nemenin ke toko buku, main bowling, curhat tentang cowok-cowok bajingan, berbohong pada ortumu, tidak menilai seleramu atas segala sesuatunya atau apapun tindakanmu, hold your hand when you terminate a pregnancy, hayuhlah.

Tapi ketika aku mendengar sweet talks, sweet dates, dan melihat sweet gestures... Maafkan. Tapi aku yakin, aku tidak akan menjadi seorang teman yang baik. Aku tidak mampu untuk 'bersikap normal'.

Sindiran tajam, tatapan mata penuh rasa iri, reaksi berlebih, perilaku kasar; yang jatuh-jatuhnya akan membuat orang sakit hati, pasti akan ada yang terlontar, walaupun dijaga seminim mungkin.

Jadi sudahlah.
Entah aku mengatakan ini pada siapa.
Tapi sepertinya lebih untuk diriku sendiri.

That I'm not a good person when it comes to my friend being couple.
Dan, aku juga malas untuk 'deal with it'.

Apa yang harus di-deal with?

Ada teman yang cocok untuk ngrokok di bawah, tapi bukan untuk percakapan panjang tentang hidup. Ada yang cocok untuk bertanya tentang cara menulis, tapi tidak untuk teman muter-muter nggak jelas keliling kota. (Dan ada yang cuma cocok buat kissing-buddy, tapi nggak buat pacar, heheh).

Mungkin ini sih yang lebih harus di-deal with:

Apakah kesadaranku 'diizinkan' untuk tidak merasa bersalah ketika mendengar tawa bahagia seseorang, terus kepala dan hati jadi merasa terbelah saking sakitnya, dan akhirnya pengen meredam sumber suara dengan melempar layar komputer?

No, honey. I don't hate you.
Mungkin kamu tidak percaya, tapi I'm happy for you. I really do.
It's just that my genes, they are not made to stand seeing people who are in love.

Akhirnya, ya, cari aku untuk sesuatu yang lain. Tapi I'm not good at respecting the coupling part.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments