Entry: Sekilas Wednesday, April 23, 2008



April dimulai secara ambisius dengan tiga nama. Olenka, Tristram Shandy dan Lolita.  Yang pertama ketemu nggak sengaja (ah, I wish my luck with meeting boys are like my luck with meeting books. Well then I still have the 'unlucky' part of finishing them. Buku-buku, maksudnya.), yang kedua dan ketiga pinjam di Perpus Diknas.

(Sebentar, hah, itu buku kayaknya udah telat dibalikin...Oh, oh)

Tapi akhirnya masih belum lepas dari halaman-halaman pertama. Olenkanya sih lumayan, sekitar halaman 50an gitu...dan ternyata nggak butuh waktu lama untuk mencernanya.

Adegan-adegan dalam lift-nya Budi Darma kok selalu membuatku merinding ya? Merinding karena mengantisipasi adanya kejadian yang membuatku ketakutan. Pokoknya agak mengingatkan sama pas nonton The Shining deh.

Tapi lalu ada imajinasi tentang peta yang cukup mengasyikkan itu, haha.

Tristram Shandy-nya malah belum aku buka sama sekali. Lolita-nya..baru halaman berapa ya?

Dan oh, berhasil melewati batas halaman 100 Mansfield Park. Akhirnya aku tahu apa yang 'salah' dengan Fanny Price. Dia seperti teman yang mengesalkan karena nggak pernah mau diajak melakukan sesuatu yang nakal. Seperti dia berpegang terlalu keras pada norma-norma kebaikan dan kesopanan yang ia yakini dan ia harapkan dari society. Mungkin pada akhirnya dia mendapatkan hadiahnya, tapi tetap saja...aku lebih suka ide tentang perempuan-perempuan sok tahu dan sok berani dengan standar nilainya sendiri sebelum akhirnya menerima pelajarannya. Yah, Elizabeth Bennett, Emma, Marianne Dashwood. Kalau Anne Elliott sih memang cuman tentang romance.

Night and Day-nya Virginia Woolf ternyata asyik juga. Maksudnya, aku nggak nyangka Virginia Woolf bisa segitu readable. Dan menyenangkan. Penuh dengan manusia yang sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri sih memang, cuma terus mereka juga berinteraksi sama manusia lain.

Ternyata ya, pada satu masa, manusia-manusianya Virginia Woolf itu bisa 'sederhana'. Di kepala mereka ada sentimen-sentimen romantis yang mendasar tapi terus disamarkan (oleh si karakter) jadi sesuatu yang lebih intelek sedikit. Manusia-manusia yang jaim gitu. Dan mungkin malah terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai nggak melakukan sesuatu yang bermakna, dari segi romantis maksudnya. Cuma berandai-andai saja.

Tunggu. Jangan-jangan aku melakukan hal yang sama?

Dan, oh, ada versi komiknya Proust. Tapi itu mungkin bisa jadi cerita lain lagi.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments