Entry: How to Read Good Friday, December 23, 2005



Sampai sekarang, aku masih belum tahu caranya membaca buku dengan benar.  Benar, dalam artian tidak hanya membaca yang tersurat. tapi juga yang tersirat. Duh, bahasanya itu...

Pengisahan yang baik itu kan yang menunjukkan, bukan yang menceritakan (show, not tell). Jadi, bisa saja ada pesan yang tersembunyi ketika seorang karakter lelaki, pada kekasihnya, mengatakan: "Baby, you look super fine in that dress."

(Pesan tersembunyi seperti, mungkin, "We haven't had sex in six months!")

Nah, aku pengen bisa lebih jeli membaca pesan tersembunyi itu.

Lalu, membaca dengan benar juga berarti mengambil suatu manfaat dari bacaan itu. Apresiasi akan gaya penceritaan, alasan kenapa si penulis memilih kata-kata itu dan bukan yang lainnya, cara si penulis menggambarkan karakter, pilihan kejadian yang dituliskannya untuk para karakter itu, dan kenapa ia memilih penyelesaian cerita dengan gaya seperti itu; untuk menyebut beberapa contoh.

Hal-hal tersebut, masih cukup dangkal aku apresiasi.
Dan pastinya masih banyak hal-hal lain juga yang luput aku 'baca'.

Anyway, pas kemaren malam lagi duduk di teras, sipping coffee dan menghembuskan asap rokok menthol, sesuatu yang terkesan seperti sebuah jawaban terlintas di kepala.

Di 'Finding Forrester', tokoh William Forrester (Sean Connery) menasehati seorang penulis muda: menulislah pertama kali dengan hati, lalu menulislah dengan otak.

Draft pertama, ya biarkan aja mengalir. Baru dibaca ulang, dan diedit dengan otak.

Jika menulis adalah hasil 'pembuangan' dari apa yang sudah kita makan, yaitu bacaan, maka cara kita membaca harusnya plus minus sama dengan cara kita menulis kan?

Pertama membaca dengan hati, dirasakan dulu, suka atau tidak, kenapa suka, kenapa tidak. Baru setelah itu membaca dengan otak; kenapa si karakter melakukan ini, kenapa si penulis memilih bercerita seperti itu, apa sebenarnya yang coba disampaikan.

Bener nggak? Sama kayak nonton film favorit aja berkali-kali, setiap kali nonton lagi ada sesuatu yang sebelumnya kelewatan dan semakin menguatkan (atau malah menurunkan) rasa suka kan?

Sounds making sense, setidaknya untuk aku.
Tapi, ini berarti aku harus membaca ulang lagi buku-buku atau cerpen-cerpen yang udah aku baca ya?

*Sigh*

Apresiasi yang sempurna itu emang butuh banyak kerja keras.
(Dan makanya aku iri sama orang-orang yang punya kemampuan mengapresiasi dashyat dengan begitu otomatisnya...)

   1 comments

Konni
January 22, 2006   04:34 AM PST
 
Wonderful site. I have recently discovered my personal interest in the theremin. Now I am discovering all the information available to me. Thank you for having such a great and informative site, and taking time to share the knowledge. Most appreciated. Konni http://buy-viagra-cheap.vidanal.com

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments