Entry: Di Sela Kabuki Monday, February 11, 2008



Minggu sore kemarin, aku ikut liputannya Ccr ke GKJ, nonton kabuki dan ada lektur singkat tentang kesenian itu dan beragam tekniknya. Datang agak terlambat karena makan siang dulu sama si Bapak Mall, tapi akhirnya sampai dan pas cari-cari tempat duduk dalam gelap, lha kok langsung ketemu Ccr.

Anyway, sempat ada beberapa kali istirahat antara tarian pertama, lektur, terus mau mulai tarian ke dua. Di depanku ada tiga orang duduk, satu mbak-mbak muda, dan sepasang pria wanita paruh baya yang aku tebak sebagai orangtua si mbak ini.

Pola interaksi, cara mereka menghabiskan waktu bersama, dan cara berkomunikasi mereka sih agak mengingatkanku sama diriku sendiri dan orangtua (sejak jadi anak tunggal yang masih tetap single, aku jadi stuck menghabiskan weekendku di bioskop sama mereka...*menghela nafas). Cuma si mbak lebih kelihatan santai dibanding aku. "Ayahnya' agak-agak berwajah blasteran Jepang, pakai kemeja garis-garis yang formal tapi santai, bahunya juga tegap, usianya 50an akhir. Ibunya, tampilannya tidak jauh berbeda dengan nyonya-nyonya petinggi penerbitan majalah-majalah perempuan, tipikal Jakarta-ish, atau mungkin Miranda Gultom-ish.

Mereka sering berbicara dan mengapresiasi *dengan suara rendah khas orang sophisticated yang menghadiri pertunjukan*, ketawa, kasih komentar-komentar yang tidak aku dengar, sampai pada salah satu break, si mbak bercerita tentang sesuatu dan 'mengakhirinya' dengan komentar:

"I still don't know if he's actually gay or really jaim. I hope he's gay cause then there's a lot of women...."

Bagian akhirnya sih aku nggak denger lagi, tapi aku nggak bisa berhenti-berhenti senyum waktu denger itu, karena, 'Hah, ternyata itu masalah yang jamak to...'

Aku nggak mencatat adanya kepahitan atau derajat keasaman tertentu dari nada suara si mbak itu sih, tapi yang aku tangkap adalah sebuah keheranan.

Dari ekspresinya juga, benar-benar kelihatan kaya orang yang heran dan nggak habis pikir. Yang agaknya sedang aku alami juga sih. Tapi ya sudahlah.

Anyway, ramalan Tarot ibu Ani-ku hari Minggu kemarin:

Cinta: Cobalah lebih berseni dalam menjalin hubungan dengan mengurangi pikiran-pikiran intelektual secara berlebihan. (Touche, touche. Ccr: *mata membelalak* Hah! Ih ini baru, gue nggak pernah denger yang kayak gitu) Sebaiknya bukalah hati anda untuk lebih saling mengerti. Karena cinta adalah masalah batin, bukan penalaran semata.

(Sylvia Plath emang menemukan keseimbangan intelektual, malah mungkin sosok kuat intelektualitas, lewat Ted Hughes. Tapi perilaku Hughes pasti punya andil ke bunuh dirinya Plath kan?)

(Walaupun mungkin masalahnya bukan sekedar memilih hitam putih antara keseimbangan intelektualitas dan batin ya--kenapa omonganku jadi cheesy banget gini ya?--tapi ya a little bit of both bukan?)

Sudahlah, Nari. Sekarang yang penting kan "menyeberangi entah berapa sungai, mendaki entah berapa gunung, menuruni entah berapa lembah...sebagai sebuah perjalanan menuju pencerahan."

"Tanggalkan semua beban, lepaskan semua kepemilikan dan bebaskan diri dari kepalsuan dan keterkucilan."

(Mengenai keterkucilan,
Ccr: Nah kalau itu bener.
Me: Hah, gue kan nggak mengucilkan diri.
Ccr: Apa rencanamu akhir minggu ini?
Me: Nggak ke mana-mana, di rumah.
Ccr: Nah kan.)

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments