Entry: Coffee Overdrive dan Pernyataan Cinta (halah!) Friday, February 08, 2008



Pas tadi naik ojek, aku tiba-tiba jadi ingat kemarin, pas naik ojek juga. Secara kumulatif, mungkin waktu yang aku habiskan dengan tukang-tukang ojek itu setara dengan 50 kencan kali...

Oke, terus.

Di sekitar pintu tol Kebon Jeruk, aku tiba-tiba berpikir tentang, gimana ya bentuknya pernyataan cintaku itu, kalau aku berani mengatakannya. Tapi aku lupa, apa ya yang membuatku berpikir sampai ke situ. Pemutar mp3ku masih menyala memang. Tapi apa yang diputar saat itu?

Terakhir kali, waktu di Kemanggisan, aku ingat mendengar lagu 'Hands'-nya The Raconteurs. Aku ingat waktu itu sempat berpikir, 1) ah, The Raconteurs ternyata nggak sedashyat White Stripes. Nggak ada yang nandingin 'Seven Nation Army' atau 'Hardest Button to Button' deh, 2) mungkin asyik kali ya kalau ada yang nyanyiin lagu ini ke aku,  sebelum akhirnya pikiran itu sampai di sebuah acara reuni super kecil dengan seorang bekas teman sekolah beberapa minggu lalu. Dan tentang nasihat-nasihat yang diberikannya.

"Gue nggak setuju/sebel banget kalo ada cewek yang bilang, 'Ya, aku kan cewek, I'm not supposed to say anything first, etc'," katanya.

"Aku juga nggak setuju. I don't believe in things like that," aku bilang.

"Well, why don't you say something then?"

"Nggak tahu. Kenapa ya? Karena aku mikirnya masih punya waktu panjang dan masih bisa jadi lebih dekat?"

"Nari, you're like me kan. Kita easily fall for people, gampang naksir orang, gampang carried away, kita suka ber-what if, what if. Aku kalau naksir orang juga I text them, I text them, I text them again, sampai gue ngerasa, aduh pelacur banget sih ngirim sms terus..."

"What, you feel that way too? I thought only girls have the privilege to feel like that. I mean that's the whole point of feminism, keadilan gender, bla, bla, bla..."

"Enggak kok. Jadi sebelum terbawa terlalu jauh, mending kamu tanya deh. Are you thinking of me, considering me? Because I'm considering you."

"But how? I'm that love dense."

"Ya gue nggak tau sih kalian sedekat apa, tapi coba ..... (ini bagian yang case-specific). Tapi, Nari, we grow up watching Ally McBeal, Party of Five, pasti you can come up with something..."

Dalam hati aku menambahkan, "Dan Grey's Anatomy, Before Sunrise/Sunset, Gilmore Girls, Sex and the City, dan novel-novel Jane Austen, pokoknya semua-mua yang berhubungan dengan urusan hati. Seharusnya aku bisa muncul dengan sesuatu kan?"

Jadi, kalau aku punya cukup keberanian, dan rasa suka itu belum jadi basi ya, aku jadi mencorat-coret, kira-kira gimana ya 'pidato' 'Are you considering me, because I'm considering you' itu...

Pertama, mungkin. Aku suka lho sama kamu. Beneran, aku naksiiir banget ama kamu. Tapi itu dulu. Eh, sekarang masih nggak ya? Kok jadi ragu sih? Kayaknya sih masih. Tapi kamu juga nggak bisa becanda ya. Cakep sih, cuman nggak bisa becanda, nggak ngerti waktu sebuah joke sedang diumpankan, padahal banyak orang lain yang ngerti kalau itu cuma sebuah joke. Plus opini-opini kamu juga klise...

Eh, kayaknya aku berjalan ke arah yang salah deh.

Oke, stop, stop, stop.

*Tarik nafas, tahan, buang*

Ini sih nggak ada manis-manisnya. Nggak kok, aku nggak lagi mengeluarkan bisa, cuma sekedar merasionalisasi aja. Benarkah aku naksir? Masih naksir? Pernah naksir?

Ah, aku jadi heran kenapa kemarin bisa sesendu itu.

Mungkin karena ketemu sama orang yang mirip sama si taksiran, cuma rambutnya panjang tanggung shaggy gitu, dan kelihatan lebih muda, dengan ekspresi yang lebih droopy dan lebih tidak self-conscious. Terus jadi berasa kangen.

Padahal kalau mau dirasionalisasi lagi, kangen akan apa? Lha wong selama ini juga nggak ada yang sifatnya pribadi yang membuat kamu terkesan kan? Yang membuat kamu merasa ada seribu kunang-kunang, eh, kupu-kupu di perut. It was one impersonal matter piled up against another impersonal matter. Tiny impersonal matter pula.

Hmm, ini aneh. Pada pertanyaan, 'jadi kamu kecewa?' yang diajukan oleh dua sosok ibu, yang biologis dan Ccr, pun aku nggak bisa memberikan sebuah jawaban pasti. Mungkin iya, mungkin enggak.

Kalau pun kecewa, untuk menghibur diri, aku selalu punya 'kartu orientasi' yang bisa dimainkan. "Tuh kan, selama ini aku agak ragu, jangan-jangan dia nggak tertarik sama cewek. I mean, all the signs are there gitu lho..."

   4 comments

mutia
March 10, 2008   08:14 PM PDT
 
intinya sebenernya.. bagaimana bisa ngungkapin perasaan tanpa harus bikin ke GR-an? biasanya saya pakek additional sentences sih seperti "gak deeeng..." atau "becanda deeeeeng" gitu,... hagagaga
ingkan
February 22, 2008   11:52 AM PST
 
first time reading your blog.. i luv it! :-)

ttg postingan yg ini nih (sambil nunjuk ke atas), i was in your shoes once

mungkin kita ngga naksir or jatuh cinta ama si orang itu in person, but more to being in love with the 'vision of being in love' itself.. jd kita suka sama the very idea of in love..

bingung ngga.. hihi..

anyway, ini yg kejadian sama saya siy.. dunno whether it's applicable to your case or not.. hehehe..

keep on writing btw..

blognya kerennnnn
nari
February 9, 2008   12:47 PM PST
 
iya sih, kayaknya bagian 'keep the fire burning' itu, menjaga antusiasme itu, yang emang berat dan butuh konsistensi (tsaaahh, look at love dense here..)

tapi if he's that worth it then throwing the logs into the fire jadi sesuatu yang has to be done right? jadi, mungkin, jatuhnya sih ke 'is he worth it' dan will you be willing to work on that kali ya...

am I too naive?
Niken
February 9, 2008   07:40 AM PST
 
I've had this sorta conversation with an old friend. The 'are you considering me, cos I'm considering you'. It was him who initiated it, not me

The thing is: I am considering him but the way things died slowly made me think that considering is not enough.

Yet I'm too...dunno, proud? over-hesitating?.. to make the next move, to keep the fire burning, to keep things real, whatever.

Now I don't know where to go from here.

Lah, jadi curhat...heheh....

Kangen nge-blog deh....tapi kok writer's block mulu yak?

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments