Entry: Drama Tak Diundang Saturday, December 22, 2007



Rasional: Nari, Nari, Nari. Pulang-pulang dari Bali kok malah membawa drama. Tak diundang pula. Ckckck.

Irasional: Tapi paketnya itu too good to be true. Wartawan handal, fotografer top, punya banyak cerita dan trik di balik lengan bajunya, kritikus tulisan, bisa mencegah orang terlalu dalam dengan neurosisnya sendiri...

Rasional: Kamu lupa yang paling mendasar. Istri dan seorang anak. Memang, too good to be true. Dengan elemen mendasar itu, dia bisa dibilang tidak nyata.

Irasional: Oh, I know that. Dan aku juga cuma mengagumi dari jauh. Tapi kenapa platonisnya jadi makin mendalam? Sampai merasuk ke dunia mimpi segala? Sampai sering kepikiran di tengah-tengah siang bolong? Sampai jadi terbayang-bayang dan kangen? Dan did I mention beberapa jam nge-Google tentang dia?

Rasional: Please, get over yourself. Bisa saja dia hanya mewakili sebuah simbol, akan ritual dan masa liputan yang kamu rindukan dan tidak mungkin terulang. Ingat kan betapa kamu, pada senja terakhir, merasa sangat kehilangan ritual liputan selama dua minggu sebelumnya? Dan bilang, 'I'm gonna miss this'? Dia adalah bagian dari dua minggu itu. Kamu cuma merasa kangen sama dua minggu itu, bukan padanya.

(Jeda)

Rasional: Ini hanya sekedar masalah aklimatisasi. Kamu sedang menyesuaikan diri lagi dengan ritme dan kondisi kerja di Jakarta. Mungkin kamu sedang bingung. Karena kamu menyukai apa yang kamu kerjakan dan menyukai kondisi kerja di Bali selama dua minggu terakhir, tapi tak yakin apakah perasaan itu akan tersisa untuk Jakarta. "Segala sesuatu yang berhubungan dengan Jakarta itu tidak penting," kata si mas platonis dan kata seorang teman yang juga habis liputan panjang di luar negeri. Iya sih, tapi kan kita masih digaji dengan standar Jakarta...

Irasional: Lho, kamu kan harus bersuara rasional, jangan membuat pertanyaan-pertanyaan sendiri dong.

Rasional: Ya, ya, ya. Aku lanjutkan ya, si mas itu, walaupun tak sering ketemu, mewakili dua minggu saat semua pertanyaan-pertanyaanmu tentang mimpi dan cita-cita tak perlu lagi terus-terus ditanyakan, karena sudah otomatis terjawab dengan begitu mudahnya. Iya kan? Sekarang, kamu tak lagi yakin, apakah jawaban yang kamu dapat di Bali, bisa berlaku juga di Jakarta.

Kalau kamu bertanya padaku, jawabnya, seharusnya iya, nona. Kalau kamu tidak takut dengan konsekuensinya, jawaban yang kamu dapat tidak berlaku surut. Atau berlaku sesuai lokasi. Tapi mungkin kamu masih takut.

Dan si mas itu, adalah bentuk nyata dari dua minggu saat kamu tidak merasa takut dengan konsekuensi dan merasa nyaman dengan jawaban yang kamu dapat. Sepengertianku, lebih mudah mengangeni sesuatu yang nyata daripada yang abstrak. Si mas itu bentuknya lebih nyata dari rekaman kenangan selama dua minggu kan?

Irasional: Rasional, apakah aku bisa memercayaimu?

Rasional: Terserah. Aku hanya berusaha membantu. Sepertinya aku terpaksa berhenti dulu di sini.  Kuatkan hati untuk memilih ya.

   3 comments

Ndeq
January 30, 2008   02:05 PM PST
 
Waddduuuhhhh..., aku suka sekali blog dirimuu!!!!! lucuuu lucuuuu lucuuuuu!!!! aku setuju aku pun suka ngerasa kaya gituu huhuhuuuuuu!!!!!
nari
December 24, 2007   12:04 PM PST
 
walah. tenang-tenang, bukan kok. mas firman kan udah ketauan kartunya semua. gmn bisa tertarik kalo aura misterius dan juteknya udah pudar? hehehe...
daustralala
December 23, 2007   11:59 PM PST
 
walah, bukan gue kan ya?

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments