Entry: Kebutuhan Dasar Monday, November 26, 2007



"Mbak, kamu S2nya gimana? Jadi nggak?"
"Ya, belum tahu."
"Kamu udah mau jadi wartawan terus di tempat sekarang?"
"Heeghhh...nggak tahu."
"Ya rencanamu gimana lho..."
"Duh, nanti dulu deh, aku masih mikirin deadline banyak banget nih..."
"Ya kalau S2 belum, nikahnya jadinya kapan?"
"....."

Senin pagi, jam setengah tujuh juga belum, tiba-tiba sudah harus memikirkan jawaban pertanyaan-pertanyaan besar itu dari ayahku. Pikiranku cuma sampai akhir minggu ini, deadline edisi akhir tahun, majalah sebuah bank, pekerjaan sehari-hari, dan terancam nggak bisa masuk ke KTT Perubahan Iklim. Heegghh.

Tapi, setelah ikut turun di kantornya ayahku, beli cafe au lait yang bowl (beneran dikasih mangkuk sop), tiba-tiba ada lampu yang menyala di dalam kepalaku. Semuanya jadi terang.Aku kembali jadi optimis.

Terancam nggak bisa masuk KTT Perubahan Iklim? Ya tinggal diurus aja.
Deadline edisi akhir tahun? Ya jalanin aja. Kalau mepet bisa telpon-telpon.
Deadline majalah bank? Tinggal artikel kesehatan sekitar 80 barisan kan?
Merasa nggak dapet reward? Ya tinggal retail therapy aja. Belanja dong.
Pekerjaan sehari-hari? Kuliner udah nyicil, masih ada sisa punya FI lagi, dan tasting di resto baru, Sehat masih ada sisa dari minggu lalu, ada Tendance juga. Pokoknya semangat!

Ah, inilah sebabnya orang ngomong: I can't function without my coffee in the morning. Bukan hanya sekedar membangunkan mata, itu mah udah bisa dilakukan lewat mandi, tapi kopi bisa membangunkan rasa. Semangat. Optimisme. Hidup.

(Spoken like a true junkie)

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments