Entry: Yogyakarta Sunday, December 18, 2005



Yogya, walaupun dengan semua tuntutan kewajiban yang membuatku berada di sana, tetap bisa membuat hati tentram.

Terakhir kali ke sana, emang belum lama. Baru Lebaran kemarin. Dan itu bukan sesuatu yang aku nikmati. Antara ingin dan tidak ingin mengalami badai kenangan.

Ingin, karena ya, emang kangen sama cerita-cerita yang dulu pernah terjadi di situ. Enggak pengen, karena takut, badai kenangan itu akan terlalu kuat untuk aku hadapi. Kenyataan yang terjadi, aku malah mati rasa. Sesuatu yang membingungkan, karena ternyata aku membenci ke-mati-rasa-an itu.

Tapi, sepuluh hari di Yogya kemarin, walaupun dikejar-kejar per telepon oleh seorang redaktur, dan tiga di hari terakhir, tidak mendapat waktu luang untuk jalan-jalan mengeksplorasi kota sendirian, tetap saja bisa menentramkan hati.

Berada di sana, aku nggak pengen berada di tempat lain. Ada di sana saja sudah cukup.

Aku juga nggak ngerasa iri sama hidup orang lain, relationship-nya orang lain, kemampuannya orang lain, keadaan fisik dan spiritual orang lain; apa yang aku punyai sudah cukup. Yang penting, yang ada di kepala, hanya saat itu, kota itu.

Tidak ada rasa dikejar-kejar oleh sesuatu; bahkan aku merasa mengatakan sesuatu yang sangat konyol, ketika meminta seorang supir taksi mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi, demi mengejar seseorang.

Oke, aku memang masih sempat teringat pada seseorang. Tapi terbatas hanya pada kelebatan nama dan sosok. Tak lebih. Tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa yang sedang ia lakukan sekarang? Sedang bersama siapa ia sekarang? Apa yang sedang ia baca atau pikirkan sekarang?

So, tetep aja, masih belum kena diskualifikasi pernyataan "Yogya menentramkan hati". 

Kenapa dulu aku tidak menerima Yogya seperti sekarang? 
Aku dulu menginginkan Yogya yang lebih meriah dari sekedar suburban wasteland. Dan Yogya sekarang menjadi lebih meriah dengan papan iklan perumahan baru yang sedang dibangun bertebaran di mana-mana. Pusat-pusat perbelanjaan baru sedang dibangun. Dan aku membenci itu.

Tapi di tengah kecemasan akan Yogya yang mulai menyemburkan api konsumerisme, rasa tentram itu tetap dominan. Ah, keluar dari Jakarta memang menyenangkan.

Dengan segala modus, akhirnya sempat juga satu hari diluangkan untuk lihat Jogja Biennale dan belanja buku ke 'Taman Pintar'. (Ini nama barunya, dulu kan namanya 'Shopping' ya? Tapi aku nggak tau nulisnya sebenernya gimana, karena dibacanya 'soping', dengan 'i' yang lebih menjurus ke 'e' khas orang Jawa). Dan mborong pula. Semua buku pada 30% off, nemu buku-buku yang nggak dicetak lagi.

Hmm, berusaha sebisa mungkin mereload batere, agar kembali kuat menghadapi Jakarta yang akan memeras habis optimisme, kedalaman pikiran, ketenangan hati, kesabaran, dan rasa nrimo atas hidup yang kita jalani.

Dan kembali ke Jakarta, aku berusaha keras untuk tetap terus menjaga kesederhanaan dan kedamaian yang mengendap dari kunjungan Yogya, agar tidak cepat hilang.

Hmm.
Ternyata susah.
Ngeliat kebahagiaan orang lain di depanku, relationship yang sempurna di depanku, pasangan saling menelepon dengan kata-kata manis penuh perhatian untuk satu sama lain...

Ah.

Sudahlah, sudahlah.
Salah satu bagian dari 'pencerahan Yogya' kan memfokuskan diri pada pekerjaan. Dan pada kualitas tulisan. Dan untuk tidak berpikir yang lain-lain.

Ayo, ayo. Let's get to work.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments