Entry: Sekelumit Sidang Thursday, August 23, 2007



Indra Setiawan (IS): Dia datang ngasih surat dan diam saja, Pol.

Pollycarpus Budihari Priyanto (PBP): Tenang saja, Pak.

IS: Surat penugasan itu apa dia lihat? Kalau sekarang itu ramai dibicarain. Bagaimana kalau ada yang fotokopi?

PBP: Saya sudah ketemu sama Ibu Asmini. Barang-barang itu sudah tidak ada. Bapak kan tahu, saya masuk biar Garuda tidak diembargo. Setelah itu, saya keluar. Lagian tenang saja, Pak. Bagir Manan itu orang kita. Novum baru itu tidak ada, Pak. Ini permainan politis. Saya sudah ketemu Harry Tjan dari CSIS, orangnya Ali Moertopo. Ini permainan, Pak. Masa penahanan bapak itu 60 hari, sedang pengajuan berkas butuh waktu 14 hari kerja. Nah sekarang masanya sudah mau habis. Bapak bisa bebas. Ini bapak ditahan karena ada ambisi tertentu dari polisi. Saya terus dampingi Bapak. Kalau malam, saya terus mengelilingi rumah Bapak.

IS: Di mana kamu?

PBP: Di belakang Mabes. Di situ ada warung. Saya sama istri. Kadang saya ingin ke dalam, tapi waktunya belum pas. Sekarang ini 90 % pejabat negara memihak kita, Pak.

IS: Saya nggak mau kebawa-bawa, Pol. Aku nggak mau, my future, my family.

PBP: Tenang saja, Pak. Ini hanya permainan. Itu si Petruk sudah diganti.

IS: Siapa?

PBP: Abdul Rahman (Saleh). Dia sudah diganti, sedang Bagir Manan itu orang kita. Bapak sabar saja. Di situ kuncinya, kesabaran.

(Media Indonesia, 23 Agustus 2007)

***

Taruhan. Penulis skenario terbaik pun pasti tidak bisa menghasilkan sesuatu yang semengerikan ini.

Mungkin ini bisa jadi salah satu contoh art imitates life atau life imitates art. Tapi, buatku, percakapan ini jadi sesuatu yang mengerikan karena ini benar-benar nyata, bukan sekedar 'art'. Tapi ya, mudah-mudahan hal mengerikan ini dibuka biar bisa mencapai satu tujuan yang diinginkan.

Jadi ingat, kemarin sempat ketemuan sama teman yang berkomentar sinis tapi lucu, "BIN itu ternyata beneran intel ya? Ternyata bisa beneran kerja ya? Lha kok selama ini keamanan bisa bocor terus. Berarti prestasi terbesarnya cuma membunuh Munir?"

Masih ditambah, "Garuda juga. Coba, harga tiket sudah paling mahal, terus-terusan merugi, masih disubsidi pemerintah. Air Asia aja berani jual tiket murah, ya nggak gitu rugi-rugi amat. Jadi Garuda, prestasinya ya itu, bisa membunuh Munir?"

Hari ini juga sempat membaca di harian lain tentang isi kesaksian salah satu saksi utama kasus Munir. Kalau nggak salah Asrini Utami Putri, salah satu penumpang yang sempat melihat Polly, Ongen dan Munir di Coffee Bean Changi. Katanya dia jelas-jelas ingat Munir ngobrol ama Pollycarpus karena kantung matanya Polly lebih gelap dari warna kulit mukanya.

Amazing ya, cara saksi ini mengingat detil. Tapi intinya adalah, kalau punya kantung mata, harus diurus. 

   1 comments

Atas
August 29, 2007   10:48 AM PDT
 
iya, seru! bener2 shocking ternyata bisa ada persidangan yang bener2 "movie-like" kayak gitu di Indonesia

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments