Entry: Perempuan di Titik Nol? Tuesday, July 31, 2007



Sumpah deh. Kayaknya hari ini sebenarnya punya makna tersendiri yang belum bisa aku baca. Tanda-tandanya ada di mana-mana.

Mulai dari pengamen yang menyanyi dengan suara serak tapi dipekikkan (serik?), "Gara-gara korupseeeee. Indonesia bangkruuuut." Setelah sebelumnya agak nge-rap dikit, "Kami tidak sebusuk yang anda bayangkan." Tapi kata 'busuk'-nya diucapkan dengan begitu vindictive sampai aku udah males sendiri ngedengerin gerutuannya dia.

Tapi pas dia ngomong, "Yang ada cuma lumpur Lapindo, keringat orang miskin diperas habis," kayaknya ada sesuatu di otak yang ketendang. Pas itu, aku lagi ngeliat ke bis Kampung Rambutan-Tanah Abang di sebelah, bis Jepang itu, yang penuh. Melihat orang bergelantungan, jadi merasa melihat sebuah pemandangan yang khas Jakarta.

Katanya Jakarta merubah orang. Kalau iya, bagaimana aku telah berubah? Hati yang makin keras, iya. Walaupun tak berarti lebih tangguh. Jangan-jangan malah lebih cengeng. Ebenezer Scrooge. Mungkin aku sudah berubah jadi dia. Aku kayaknya nggak punya lagi kesabaran menghadapi orang-orang yang aku temui di jalan. Prasangka baik sudah hilang semua.

Setelah penyanyi serik itu, ada seorang kakek-kakek yang sebenarnya cuma mau minta uang. Tapi dibanding pemuda-pemuda lain yang ngomongnya singkat, padat, ringkas, kakek ini adalah paduan dari lelaki tua yang cenderung cerita berlama-lama dan yang diceritakan adalah riwayat kesehatan. Hasilnya, super lama. Sampai kata penutupnya aja lamaaaaa banget. Maksudnya, yang mau ngasih duit aja sampai nggak sabar nunggu kapan dia nyodorin amplop.

Abis itu, ganti lagi bapak-bapak yang ngamen, nyanyinya nggak pake nada, teriak-teriak nggak keruan. Yang paling buat mantap, sampai enam lagu lagi. Terakhir ini beneran buat kepala nyut-nyutan.

Pengamennya kok pada jenis-jenis baru semua ya? Jarang pada liat atau ketemu di bis-bis lain gitu. Dan akhirnya tersadar, oh iya, ini naik bis yang rutenya jarang aku naikin.

Sampai di tempat liputan, melihat majalah 'Jalan-Jalan' edisi terbaru yang judulnya 'An Insider's Guide to Amsterdam' yang ditulis oleh Prasma. Yes, our Prasma, girls. I always have a sense that she's a good writer but I never read her writings until now.

Selesai liputan satu, ke Kino PS mau nyari majalah itu karena tadinya belum membaca lengkap sambil nunggu liputan kedua di PS.

Membaca tentang Amsterdam dan tentang kata-katanya Prasma bahwa ia sudah tinggal di sana selama tujuh tahun dan siap mengajukan pembelaan bagi para Amsterdam resent-er, aku jadi termangu. Gila, tujuh tahun ya? Itu hampir sepertiga hidupnya.

Aku sempat dapat empat tahun sih. Fase hidup yang bakal aku bilang ke my future children saat aku berada dalam mood Mrs Dalloway, itulah masa when I am at my most happiness and I have your grandparents to thank for that.

Tapi membaca lagi tentang Amsterdam, duh, jadi mbrebes mili. Pengen pulang ke sana lagi. Homesick.

Iseng-iseng ngecek jam dan nggak sengaja tersadar sama tanggal. Sekarang tanggal 31. Hari terakhir di bulan Juli. Bulan kepulanganku ke Jakarta tiga tahun lalu. Tiga tahun di Jakarta, apa artinya ya?

Aku sedang mencoba mencari jawabannya.

Kalau mau di-pas-pas-in, kok ya rasanya sekarang lagi kembali ke titik awal ya? Atau mungkin tepatnya sebuah lingkaran telah tergambar sempurna karena awal dan ujungnya sudah ketemu lagi. Di kerjaan pun, aku sepertinya kembali lagi ke titik awal dan belajar nulis lagi.

Ini semua ada artinya atau cuma kebetulan-kebetulan? Tapi apakah aku percaya pada kebetulan?

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments