Entry: Bangun dengan Patah Hati Wednesday, July 25, 2007



Yang susah bukan cuma mimpi dengan patah hati. Bangun dan langsung merasa patah hati juga nggak menyenangkan. Kali ini--karena sudah beberapa kali mengalaminya--gara-gara mimpi seorang crush yang mau menikah.

Oke, patah hatinya sebenarnya nggak segitunya. Toh, aku tahu cowok ini sudah punya long-term girlfriend dan hari menikahnya mereka tinggal menunggu waktu. Tapi yang heartbreaking itu sebenarnya isi mimpinya.

Detilnya sih agak terlupakan, tapi yang paling jelas, ini, dia beli jam tangan banyaaaaak banget. Lebih dari lima dengan berbagai tipe terbaru. Ada beberapa yang modelnya charm bracelet, itu yang aku ingat. Semuanya ditaruh di amplop cokelat ukuran sedang, ditujukan buatku. Tapi jangan keburu sorak-sorak dulu.

Selain jam, di dalamnya ada surat pendek yang tulisannya, "Nari, aku titip ini di kamu ya. Tolong simpenin." Sambil melihat jam-jam itu, aku bertanya, "Emang si xxx (pacarnya) suka jam tangan?"

Tapi aku dapat jawabannya, entah dari mana, yang ngasih tahu bahwa jam-jam ini sebagai gantinya cincin tunangan atau mas kawin. Yang aku nggak habis pikir, kok bisa ya 'cincin-cincin' itu dipercayakan ke aku.

Apa maksudnya pesan dari Sang Entitas Agung (lagi mogok menyebut nama Tuhan) yang mengingatkan, "Nari, saya percaya kamu cukup dewasa untuk membiarkan mereka berdua saja. Jadi, please, alihkan rencanamu ke subyek-subyek lain ya." Sekedar tebakan asal-asalan kalau aku boleh ge-er sih.

Tapi kenapa tiba-tiba pesan ini yang muncul ya? Toh aku nggak se-intensif itu 'mengganggu-ganggu'. Aku sudah cukup menerima apa yang pasti akan terjadi di masa depan, walaupun yaa...masih ada imajinasi-imajinasi 'what would happen if...' sih. Tapi kemarin-kemarin kepikiran juga sepertinya enggak. Apa karena lagi tidur di atas kapal ya? (Saat itu lagi di Sorong, btw).

Paginya sempat mengirimkan pesan pendek yang menanyakan kabar berita dari mimpi itu (Was I stupid or was I stupid?). Nggak langsung dibalas deh. Pas ha-pe sudah nggak dapat sinyal lagi, eh tiba-tiba tersadar. Jangan-jangan si crush itu ngiranya aku yang harusnya 'dinikahin' dan dia jadi ilfil gara-gara aku ke-geeran sampe segitunya.

Maksudnya gini, mencoba berjalan di sepatunya si crush, kenapa juga dia harus memikirkan pendapatku tentang pernikahannya dia kan? Memang nggak ada alasan. Oke, we're old friends. Setidaknya dalam kapasitas itu aku juga nanti bakal dapat pemberitahuan resmi kan?Jadi kenapa harus repot-repot mikirin sebelumnya?

Akhirnya, karena berkesimpulan bahwa apa yang sudah aku lakukan sebelumnya tidak pantas, pas sampai di Makassar langsung ngirim sms lagi. Isinya sih permintaan maaf plus plus. Balasannya, duh, kembali menegaskan posisinya dia sebagai 'my crush'. Menenangkan dan menyenangkan sekaligus. Pakai dipanggil 'nduk' lagi. Jadi meleleh deh hatinya...*blushing*

(Suara hati: Nari, noooooo. He's getting married.)

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments