Entry: Menjadi Berani Tuesday, July 17, 2007



Gara-gara liputan peringatan Hari Anak Nasional di daerah Sunan Giri tadi pagi, aku jadi keingat satu kutipan yang disampaikan oleh seorang ibu pejabat. Yah, dia memang bukan orang yang suka memberi 'kutipan-kutipan seksi'. Biasanya sih normatif-normatif aja sampai berbatasan dengan sillyness, mungkin.

(Contoh, masa pertanyaan pertamanya, "Anak-anak sedang apa di sini?" Aku dan wartawati sebuah stasiun televisi yang produk beritanya diakui unggul itu sampai ketawa-ketawa geli. Si wartawati itu malah menambahkan, "Benar-benar harta karun liputan ke sini." Ya, for me, harta karun buat nge-blog).

Anyway, saat 'bertugas' sebagai pemberi solusi masalah keseharian ibu-ibu, si ibu pejabat ini ditanyai seorang ibu orangtua murid yang mengaku takut kalau harus ketemu sama gurunya anaknya. Bukan karena ada masalah, tapi ya sekedar ngobrol-ngobrol aja deh.

Tidak diduga, si ibu pejabat ini memberi sebuah petuah yang belakangan ini baru-baru aja aku 'figure out'. "Kalau buat anak, rasa takut itu harus kita pendam dalam-dalam," katanya. Pas pulang ke kantor naik P11, eh, denger juga "Stop This Train", yang menurutku agak-agak berhubungan temanya.

Jadi gini, beberapa minggu yang lalu aku mulai terus-terusan memikirkan tentang betapa beraninya orangtua-orangtua di sekitarku. My parents, terutama. Maksudnya dunia itu, menurutku, adalah tempat yang 'ominous' juga melelahkan. Sebagai orang muda, mungkin kita bisa meng-indulge dalam pemikiran untuk, "udah ah, aku mau turun dari kereta ini. Aku nggak tahan sama kecepatannya." Sesuatu yang diinginkan John Mayer lewat "Stop This Train". Maaf kalau lagi-lagi tentang dia, aku masih belum bisa melepaskan album ini dari keseharianku.

Tapi, once you have a child, kayaknya keinginan-keinginan untuk berhenti itu jadi dipaksa untuk hilang. Soalnya kalau enggak, ya kemana lagi si anak mau bergantung kan?

Maksudnya, menghadapi keseharian aja aku masih sering harus dibantu dengan penyemangatan dari ibu atau bapakku. Kalau misalnya mereka nggak cukup berani untuk menghadapi keseharian hidup dan tragedi-tragedi kecilnya, I don't know where would I be.

Aku mengakui bahwa ini hanya sekedar observasi dari orang yang belum punya pengalaman sama sekali, hanya sekedar merasionalisasi apa yang aku lihat sehari-hari. Tapi kesimpulannya, being a parent is about being brave.

Btw, sepertinya aku jadi tambah cinta sama keluargaku deh habis liburan ini. Atau memang karena hati yang jadi tambah ringan dan ceria, jadinya bisa lebih melihat segala sesuatunya dari sudut yang positif pula?

Nggak tau ya, tapi I seem to love my dad more, my mom yaahh...bisa sampai pada tahap yang bisa ditoleransi sih walaupun kadang masih ngerasa kesel, tapi definitely my dad more.

Moral cerita ini?

Jadi, kalau pas ngerasa juteeeek banget, nggak ada tujuan hidup, atau tujuan kerjaan, cranky ama semua orang, tanya sama diri sendiri, kapan terakhir kali pergi liburan. Pelajaran selesai.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments