Entry: Pasca Bali Sunday, July 15, 2007



Dammit, dammit, dammit. Sebuah nomor telepon tidak dikenal beberapa jam sebelum sebuah acara nonton bareng is never good news.

Okeee, aku nggak sesering itu sih mengalami kejadian seperti itu. Baru sekali sore ini, tapi cukup untuk membuatku menjadikan ini sebagai kredo untuk pertemuan-pertemuan kasual ke depan. See, now, I learn fast. Heheh.

Penundaan itu actually not a big deal for me. Yang aku sayang-sayangin sih cuma, besok Senin, aku belum bisa menjual ide ke One-Eyed Jack (hehe) menulis tentang 'The Photograph' (sok-sok-an) membalas esai di Kompas tentang film satu ini. Premisnya pun sudah ada. (See, ini salah satu pengaruh 'Continuum' yang masih mengendap. In order to achieve greatness, sok-sok-an berani membalas esai di Kompas. Padahal, siapalah aku ini?).

Ortu yang sebelumnya sudah meng-absen aku dan Rani mau pergi ke mana sore menjelang malam ini pun jadi ikut curiga. "Lho kok nggak jadi pergi?" Dan sisanya semalaman ini, kok mereka berdua jadi extra super nice ya? Ayah yang menanyakan, 'jadi kita ke mana malam ini?' Terus mengelus-elus rambutku pas kebetulan lewat di depan komputer. Making small nice talk tentang aku makan salak, "Katanya nggak suka?" (Beneran lho, this is my dad). Belum lagi minta sama adikku untuk mengajak aku ke acara kondangannya. I'm okaaaaayyy. But, huks, I love you, dad.

Terus, belum lagi ibuku. Sebelumnya yang sempat sedikit marah-marah, 'Lain kali suruh jemput ke rumah dong. Jadi kamu jangan digampangkan'. (Duh, aku bisa menawarkan banyak pembenaran deh kayaknya buat alasan yang satu itu. This is hardly a date, hanya sekedar pertemuan kedua, dan toch, he takes me home the first time, kan? Btw, apakah pembenaran ini tanda-tanda aku harus beli buku "Why Men Marry Bitches" yang pernah dibahas sedikit oleh Ccr dan tadi siang lihat di Periplus Ngurah Rai?). Oke, telepon itu, yang hp-nya sempat diambilin oleh ibuku--'Kayaknya dari kantor deh'--datang pas aku keluar dari kamar mandi lagi mau mulai dandan. Masih berbalut handuk, akhirnya bergerak ke ruang tamu biar ada sinyal.  

Dari situ, langsung pake piyama dan siap-siap tidur sore. Ibuku, yang masuk ke kamar tempat aku tidur--my sister's--bilang, "mbak, kamu kalau mau (...).(menggunakan istilah bahasa Jawa yang belum pernah aku dengar sebelumnya) jangan di sini dong. Ajeng kan mau dateng."

"Apa sih itu artinya?"

"Ya, kalau bayi mau tumbuh gigi atau mau bisa jalan. Jadi gelisah, ngambekan, itu lho namanya (...)". Kayaknya sih aku nggak segitunya ya.

Tapi pas aku ngetik-ngetik di komputer dan beliau mengontang-anting handuk, terus bilang, "Mandi, mbak."

"Lho, kan udah."

"Kapan?"

"Tadi sore."

"Lho..kapan? Eh, oh, iya ya. Yang itu...," sambil suaranya agak menghilang dan dari nadanya terasa seperti sore yang naas banget. Terus mengelus-elus lenganku dengan lembut.  

Oke, I am not that bad. Tapi harus diakui sih, it's one of the things that I look forward to in doing pas pulang dari Bali.

Hmm, aku pengen nge-posting sebenarnya tentang the first time around, karena face it, walaupun dibaca orang lain, tapi this is the only diary I have. Sudah kelewatan agak lama sih ceritanya. Tapi, karena ada perkembangan terbaru, ya sudah, aku ceritain di sini deh.

***

Sepertinya, aku menghabiskan terlalu banyak waktu memikirkan dan mempertanyakan instead of actually doing it. Agak menakutkan sih sebenarnya buat sebuah pengalaman yang sebenarnya yah, bisa dibilang cukup sepele. Awaaaal banget. Nggak ada rumit-rumitnya deh. Tapi faktor itu tidak membuatku tidak merasa ada ikatan imajiner di perut yang rasanya kencang sekali.

Sebuah kesimpulan: I need to date more. Whatever the term 'date' actually implies. Nonton barenglah, ngopi barenglah, jalan bareng, hang out bareng, makan bareng, whatever it is aktivitas yang mencakup beberapa jam bersama seorang lawan jenis (buatku, my interest is still boys) mencoba menikmati waktu yang dihabiskan bersama. Diharapkan ada ngobrol-ngobrol yang involved di sana, mencoba get to know other people. Nggak menutup kemungkinan untuk berpikir penuh harap (kayak lagunya Project Pop itu 'Teman Tapi Ngarep', haha), berimajinasi walaupun nggak tinggi-tinggi, karena keingat liriknya 'I Don't Trust Myself in Loving You'; "Who do you love? Me or the thought of me?" Touche, John. Touche.

Ada beberapa alasan sebenarnya kenapa aku sampai pada kesimpulan itu. Pertama, karena aku sudah berkarat. I worry too much about things that I should not be worrying dan seharusnya kerut di atas hidung, di antara dua alis itu nggak ada. Atau ikatan ketat di perut. Atau sms-sms panik ke Ccr buat nemenin nonton, hahahah.  

Alasan lainnya, karena pada akhir 'episode', aku nggak tahu, apakah ini bisa dikategorikan sebagai good, bad atau so and so 'date'. Masalahnya, minim perbandingan.

Jadi, plan of action di tingkat terapan, bukan sekedar wacana, adalah: "Screw 50 Books a Year. I want to have a life. I want to have 50 dates a year!"

Tapi, sesaat kemudian teringat, ini kan udah Juli. 50 dates a year berarti harus non stop tiap akhir pekan dari awal tahun sampai akhir tahun, cuman libur dua minggu. Buru-buru mengoreksi diri. Okelah, 20 dates a year kayaknya oke juga. Dan nggak harus sama orang yang sama. Intinya kan sebenarnya kayak ngelakuin banyak wawancara kerja atau sesuatu yang sifatnya seperti audisi, ngerasain yang mana yang 'good audition' atau yang 'bad audition' atau yang letaknya di tengah-tengah.

Alasan lainnya, dan mungkin ini yang paling berpengaruh buatku to want to do more dates with a lot of different people, adalah ini sebuah aktivitas yang sangat adiktif. Adiktif buatku memilih-milih bajunya, dandannya, punya ekspektasi yang terus menumpuk sampai akhirnya ketemu obyeknya, entah ekspektasi itu terpenuhi atau tidak, mengamati kebiasaan-kebiasaan orang lain, sampai getting the conversation going. Dan pada akhirnya, punya cerita untuk dibagi.

Jadi, please, kalau pembaca blog ini punya kandidat yang memungkinkan dan mau diajak nge-date, atau 'date', if you prefer, terserahlah istilahnya apa, please drop me a line. Nggak ada salahnya kan mencoba, nggak rugi apa-apa juga. Ya duit sih paling, tapi buat orang-orang seusia kita, duit kan bisa dicari.

Promise, I'm not a dissapointing company, kok. I'm always passionate to get to know other people, I'm always interested in what other people are doing in their life, I'm quite smart, pop culture savvy, I'll dress my casual best, and I have a great smile, hahaha. (Terlalu menawarkan diri nggak? Ah, ini kan bukan waktunya untuk jadi paranoid lagiii).

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments