Entry: Catatan Akhir Pekan Sunday, July 15, 2007



Jangan-jangan, kekesalan-kekesalan dan kebuntuan-kebuntuan yang menumpuk kemarin hanya karena butuh liburan.

Perginya sih sebenarnya cuma ke sebuah tempat 'standar', Bali. Pun tidak pergi ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi. Arahnya lebih wisata belanja daripada wisata alam. Tapi nggak ada rasa menyesal ketika harus pulang.

Malah rasanya nggak sabar mau pulang.

Ada gym yang menunggu dikunjungi, tempatku bisa berkeringat, merasakan jantung berdetak semakin cepat tapi kemudian merasa lega setelah bisa mengatur nafas. Bisa ikut Body Balance dan melipat-lipat tubuh sampai ke posisi-posisi yang sebelum-sebelumnya terasa tidak mungkin dilakukan. Dan merasa badannya jadi kencang di semua bagian.

Lalu ada pekerjaan.

Masih pekerjaan yang sama sebenarnya, tapi sebentar lagi akan pindah kompartemen. Rasanya seperti kembali ke titik nol. Kembali ke awal, saat aku pertama kali belajar menulis dan menjadi wartawan. Kembali di Minggu. Dan bakal bekerja sama dengan orang yang dulunya pernah timbul tenggelam di masa laluku. Nggak ada rasa takut atau canggung yang sekarang muncul. Tapi kok kesannya seperti sebuah pertanda aku sedang pulang ke titik awal. 

Mungkin itu cara Tuhan, atau Supreme Being, apa pun namanya, menjawab kebutuhanku. Kesannya ada tombol re-start dalam seluruh pengalamanku menjadi wartawan di kantor yang sekarang dan aku diberi kesempatan untuk memulai semuanya dari awal. 

Ya, hampir semuanya sih. Ada satu bagian dari pekerjaan ini yang tidak mau aku ulang. Jangan sampai kata-katanya Ccr jadi beneran, "Yah, Nar. Nyari kemana-mana, nanti taunya kembali ke situ-situ juga." 

Saking kosongnya tempat penyerapan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan, pas di Mandiri Executive Lounge membaca cerita perjalanan ke Paris pun (yang aku iri-iri'in banget itu) nggak ada apa-apa yang muncul selain sebuah penilaian atas tulisan. Yah, selalu ada kemungkinan penilaianku agak tertutupi dengan rasa iri, tapi...hatiku terus-terusan terasa ringan.

Begitu pun pas pesawat mau mendarat. Melihat dari atas kawasan perumahan dan sawah-sawah dan pabrik-pabrik di kawasan Cengkareng, tidak terasa ada hitam yang menutupi hati. Malahan, ia berkata: Monday, bring it on! 

Aku nggak peduli dengan janji-janji seorang redaktur mau diperjuangkan buat jalan ke mana pun. Apa sih itu selain sebuah janji? Paling-paling itu hanya sekedar menimbulkan harapan sekalian 'meminta maaf' karena sudah menelepon buat tugas hari Senin paaaasss hari pertama cuti. Biar sekedar minta dimaklumi atas 'ketidaksopanan'. (Bukan kamu kok, Sic. Sehari sebelumnya udah diobralin janji yang...agak out of this world, menurutku) 

Ya, sekarang aku sudah skeptis dengan urusan-urusan seperti itu untuk kantor. Tapi, Monday, buatku tetap bring it on. Yang penting sekarang adalah have fun at work. Nggak usah mikir yang memang bukan jatahnya.

Duh, nggak sabar rasanya untuk memulai lagi dari awal. Saat menulis masih belum ada beban dan masa itu rasanya seperti bermain-main tapi juga terus belajar. Oh iya, aku sepertinya akan belajar semuanya lagi dari awal. Tak masalah. Setidaknya aku akan menyerap sesuatu dibandingkan merasa bosan dan tidak berkembang.

Terima kasih, Bali.  

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments