Entry: Cemas Berlebih (?) Tuesday, June 19, 2007



Yeah, this is what I get for putting my feminism to the test.

Gara-gara sebuah artikel tentang 'dating' di Yahoo, aku jadi terpengaruh untuk menjadi 'the huntee', si pengejar. 'Psikolog gaul' yang jadi penulis artikelnya ngomong gini, "women can't just sit around and expect the men to do all the chasing. Some men I know admit that it's a turn on for them to be chased. This is a matter of the courage to bend social rules."

Kalimat terakhirlah yang bener-bener did me in. Soalnya, sebagai wartawan yang ditugasi menulis soal keadilan gender dan (berani) mengaku sebagai seorang feminis, what kind of feminist would I be kalau masih terikat ama dogma tentang perempuan selalu harus dikejar. Walaupun hal itu dialami oleh perempuan-perempuan di sekitarku, does not mean aku tidak boleh mengalami sesuatu yang berbeda kan?

Masa aku pengen budaya berubah untuk lebih memperhatikan kebutuhan ibu hamil, kebutuhan perempuan bersekolah, kebutuhan pemberdayaan ekonomi, untuk tidak melihat KDRT sebagai sesuatu yang wajar, tapi tidak mampu merubah budaya di diri sendiri tentang peran perempuan dalam dunia perkencanan? Kan katanya Direktur Amnesty International untuk Asia Pacific, "Culture is not a defense. It is merely used as a reason."

Nah, nah, masak gitu masih takut?

Oke, iseng-isenglah mengawali kontak per sms, bales-balesan, sampai berujung ke ajakan nonton. Yang ditanggapi dengan antusias (fake?) tapi terus mendingin (this part, I never get. Kenapa pada nggak bisa berlaku mature sih?). Then, he asks, which I said yes, bahkan sampai pada menentukan hari dan tempat, tapi belum jam.

Kemarin-kemarin sih masih seneng karena bakal ada variasi dari malam mingguku dan ada bahan buat nge-blog, hehehe. Tapi, sekarang yang lebih menegangkan itu hal yang biasanya aku anggap kecil, tapi bagi sebuah pertemuan dengan someone that I like, I need to look 'normal'. Bukan sebagai neurotik, garing, terlalu intens, person that I am.

Dari mulai, aku mau pake baju apa. Teruuuss..nanti ngobrolin apa, gimana kalau omongannya mati. Ke, niatannya apa. Sampai (dan aku rasa ini pertanyaan sebenarnya) aku sebenarnya mau nggak sih membuat effort untuk sesuatu yang belum jelas tujuannya?

(Kenapa aku bersandar ke jawaban 'tidak'?)

And, not to mention, the possibility that this guy is going to break my heart over no specific reason at all. Will I be ready?

This is supposed to be a fun thing for me in a careless, ha ha, kind of way which I am sure will turn out great. Kenapa sekarang jadi berat banget gini ya? (Lucunya, bukankah ini yang dari kemarin-kemarin selaluuuuu aku ributin?)


   1 comments

nina
June 27, 2007   06:43 PM PDT
 
...kelanjutan ceritanya gmn? spill the dirty beans on the d-day pls ^^

*temenmu yg lg garing bgt di sini*

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments