Entry: Nobel Friday, December 16, 2005



Orang yang kata-katanya paling sering aku kutip dalam seminggu terakhir ini, Yohanes Surya, kemarin menyatakan keyakinannya, pada 2020 nanti akan ada kandidat peraih Nobel di bidang sains dari Indonesia. Keyakinannya ini atas dasar anak-anak Indonesia yang sering menang di berbagai Olimpiade Sains internasional.

Logikanya begini: Pak Yohanes ini sering membaca kisah-kisah para pemenang Nobel di bidang sains. Nah, para pemenang Nobel ini dalam riset-risetnya dilatih oleh para pemenang Nobel sebelumnya. Tentu saja, para pemenang Nobel tidak akan memilih sembarang siswa untuk dilatih, mereka akan sangat selektif memilih siswa-siswa unggul. Caranya siswa-siswa calon murid peraih Nobel ini bisa unggul, adalah dengan menjadi juara dunia pada Olimpiade-olimpiade Sains tingkat internasional. Itulah yang membuat dia terus driven untuk melatih anak-anak Indonesia. (Walaupun aku agak bertanya-tanya, emang yang ngebiayain kerjanya Pak Yo ini siapa sih? Dan atas motivasi apa?)

Buktinya, para peraih medali emas Olimpiade Fisika internasional sekarang banyak yang dilatih para peraih Nobel.

"Seperti di Princeton, Oki Gunawan sedang dilatih oleh Daniel Tsui (peraih Nobel Fisika 1998). Lalu ada lagi anak Indonesia yang sedang dilatih oleh peraih Nobel, Wolfgang Ketterle (pemenang Nobel Fisika 2001) di MIT, di Stanford University ada anak Indonesia yang menjadi asisten dosen peraih Nobel, Douglas Osheroff (Nobel Fisika 1996), ada juga Rizal Fajar Haryadi yang sedang berada di California Technical University dan menjadi murid para peraih Nobel di sana. Bahkan Rizal pernah mengajar peraih Nobel Fisika 2004," jelas Yohanes.

(kutipan dari berita-ku kemarin)

Jadi, kata Pak Yohanes, bukan tidak mungkin 2020 nanti Indonesia punya kandidat peraih hadiah Nobel di bidang sains.

Dan percaya atau tidak, Nobel, setidaknya pada bidang sains, jatuh-jatuhnya adalah masalah networking. Track record penelitian si kandidat harus diketahui dengan baik oleh mereka yang tergabung di komunitas peraih Nobel; ya mungkin biar menjaga nilai penghargaan ini tetap tinggi dan tidak tainted kali ya. Penelitian yang bagus, kalau tidak terpantau dan tidak 'ketahuan' siapa yang ngerjain juga nggak bakal dicalonkan untuk meraih Nobel.

Tapi, tapi, yang jadi pertanyaanku, gimana dengan Nobel Sastra?
Mungkin nggak sih ada pelatihan model seperti ini diterapkan untuk meraih Nobel Sastra?

Dengan banyaknya perhatian (oleh pihak tertentu, tentunya) dan publikasi diberikan untuk  bidang sains, gimana dengan bidang lain seperti Sastra?

Just my two cents.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments