Entry: Peresensi Juga Manusia Sunday, April 22, 2007



Duh, aku selalu deg-deg-an kalau nulis resensi. Takutnya, ketika aku terlihat sangat mudah dipuaskan gitu, padahal sebenernya kalau dipikir-pikir rada lama dikit aja, kayaknya masih belum segitu puas kan? Masih ada yang ngganjel kan?

Well, walaupun mungkin rasa ngganjel atau belum puas itu lebih karena pengaruh suara banyak yang nggak setuju sama pendapat kita juga kan? Terus, kalau udah gitu, aku jadi malu mengakui selera sendiri.

Anyway. Iseng-iseng nulis resensinya 'Kala' karena merasa butuh mengekspresikan nulis feature. Dengan halaman yang ada, feature sering dibabat-babat tanpa alasan jelas. Katanya kalimatnya terlalu berbunga-bunga. Pembelaan diri: "Lho, ini kan feature. Bukannya ini saatnya kalimat jadi berbunga-bunga?"

(Although, 'berbunga-bunga' kayaknya nggak pernah jadi gayaku deh. I always strive to be simplistic, deskriptif tapi memperhatikan ritme. Makanya keseeeeel banget pas feature tentang penulis Kanada, Camilla Gibb yang awalnya dibuat rada crescendo jadi diganti dengan dua kalimat simpel yang monoton. Huks)

Terus. Ngerasa rada deg-degan pas mbaca resensi 'Kala' di Harian Kini, karena ternyata peresensinya nggak sesuka itu sama 'Kala' kayak aku. Well, ada satu saat aku mempertanyakan, apakah aku segitu terpesonanya ama sosok Joko Anwar sebagai pribadi sampai udah percaya aja sama semua yang dia sodorin. Am I missing something?

Tapi, sambil terus mbaca, aku nemuin satu kesalahan yang menurutku fatal dilakukan oleh peresensi Harian Kini. Please read these passages:

*SPOILER ALERT! SPOILER ALERT! SPOILER ALERT*

"Film ini menyuguhkan tema berbeda di tengah-tengah film percintaan remaja dan horor. Sebuah dunia mistis bercampur metafisik, namun diceritakan secara realis.

Sayang, gagasan unik itu tidak diimbangi dengan pengadeganan yang mampu menerjemahkan gagasan itu. Cerita mengenai perburuan harta karun tidak nyambung dengan ramalan Jayabaya mengenai akan datangnya ratu adil.

Gagasan mengenai ratu adil itu melompat terlalu jauh, mengawang-awang. Apalagi, jika benar sang ratu menyamar sebagai Ranti si penyanyi kafe (Fahrani). Mungkin, karena ide yang melangit itu, Joko menyiasatinya dengan menciptakan sebuah waktu yang tidak jelas."

Hellooooo. Are we watching the same movie? Ratu adil, walaupun pakai istilah 'ratu' yang otomatis menunjukkan jenis kelamin tertentu, pada film ini tidak merujuk ke sosok Ranti. Ranti cuma penjaga rahasia. Ratu adil itu Eros.

Dari sisi itu aja, aku udah ngerasa lega, arah review yang aku tulis, beda.

Terus, kalau masalah sambung-menyambung, ide yang terlalu jauh melompat, terlalu awang-awang. Come on! Ini tuh film yang nggak harus mikir berat-berat gitu kok. Duduk dan nikmatin aja. Dan ngeloncatnya juga nggak sampe segitu jauhnya.  

Masih banyak hal-hal lain yang bisa membuatku rapture in awe daripada sekedar membahas nyambung tidaknya perburuan harta karun dengan ramalan Jayabaya. Dari mulai dialog-dialognya yang...sumpah deh, baru ini ada film Indonesia yang dialognya 'quotable'. Belum lagi settingnya, kostumnya, pencahayaan noir-nya.

Dibanding semua keunggulan film ini, ketersambungan cerita yang disebut-sebut sebagai flaw film ini oleh peresensi Harian Kini, jadi kerasa keciiiiil banget.

(Btw, kenapa aku repot-repot mereview resensi sih?)

Oke, but I'm still a coward in a way. Masalahnya, mungkin aku nggak bakal berani ngomong gini kalau nggak mbaca blog Sinema Indonesia. Pas iseng-iseng mbuka, ternyata udah ada review 'Kala'. And yes! They like it as well. Berarti aku nggak 'salah'. Hehehe.

Nah, dari sini, aku belajar: peresensi juga manusia. Mereka bisa salah tangkap arti sebuah film atau malah nggak pe-de dengan penilaiannya sendiri dan nyari pengesahan selera dari peresensi lain.

Well, tapi kenapa aku masih terus pengen nulis resensi ya? Mungkin biar jadi 'peresensi lain' yang nggak peduli ama apa selera orang dan bisa ngasih legitimasi itu? Hahahah. Udah ah. Jadi geli sendiri.  

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments