Entry: Aa'-Aa'-an Thursday, March 29, 2007



"Tuh ada Aa'-aa'an lagi tuh di TV," kata ibuku pas aku keluar dari kamar mandi tadi pagi.
"Aa' siapa?"
"Ya, nggak taulah. Asal orang Sunda aja kan dia bisa dipanggil Aa'."

Taunya, di Indosiar ada acara judulnya "Mamah dan Aa'." Satu lagi acara yang menampilkan televangelist (=television evangelist) yang entah kualifikasinya apa.

Sambil makan jeruk, sempet denger ada salah satu penelpon yang cerita masalahnya. Singkatnya aja ya. Penelepon adalah seorang bapak yang anaknya di-PHK, dapet uang pesangon. Uang pesangon, ditambah uang si bapak dipakai buat mbangun rumah. Si bapak ini juga masih membantu menafkahi cucu-cucunya karena anaknya di-PHK. Tapi, setelah tiga tahun, menantu si bapak ngotot minta cerai dari anaknya si bapak. Si menantu posisinya adalah seorang istri. Si bapak pengen tau, sebenernya gimana ini permintaan cerai si menantu/istri anaknya itu?

Oh, perlu diberi info tambahan, anak si bapak, dalam tiga tahun itu, tetap nganggur.

D'oh.

Kenapa coba si bapak butuh pendapat seorang 'ahli agama' untuk memberi penilaian atau cap buat si istri anaknya? Dia kan nggak pengen nasihat atau pendapat, dia cuman pengen justifikasi untuk mbela anaknya. Bahwa anaknya bener dan istri anaknya berada di posisi yang salah. Dan dia nyari justifikasi dari penceramah di televisi?

Nah, si ustadzah, berkomentar gini: "jadi setelah suaminya di-PHK, trus istrinya minta cerai. Aduh, kalau itu namanya habis manis, sepah dibuang. Ibu-ibu, istri yang saleh itu selalu mendampingi suami ya."

HELLOOOOO. Bagian mana sih dari ungkapan "penelantaran ekonomi" yang tidak dimengerti si ustadzah?

Dari fakta-faktanya aja deh, uang pesangon dari PHK. Kok dibangunin rumah, ya buat usaha lah atau gimana. Dan tiga tahun tetep nganggur, di mana sih tanggung jawab si ayah sebagai penafkah keluarga?

Terus ada kasus lain yang nggak kalah mbuat aku ngerasa: duh, orang-orang, kalian tuh dikasih akal dan pikiran. Nggak selalu deh semua-muanya itu penyelesaian harus tanya ke ahli agama. Please, think for yourself. Logika aja lah.

Cerita kedua, seorang bapak atau mas-mas nggak jelas gitu, telpon. Pas dia telpon, aku baru mbaca tema acara hari itu adalah "Kekerasan Dalam Rumah Tangga". Si mas-mas ini nanya, gimana kalau istri yang mulai mukul, terus karena melindungi diri sendiri (halah!) suami jadi bales mukul. Terus, si anak, karena ketakutan, melaporkan orangtuanya ke polisi. Apakah si anak bisa dinilai durhaka?

Mengutip kata-kata Agnes Monica ya (never thought in a million years her name would appear in this blog, tapi bayangin....AgMon aja bisa lebih make sense dari pada orang-orang ini): "kadang-kadang tak ada logikaa...."

Terus, kalau si ustadzah bilang dia nggak durhaka, bener gitu dia nggak durhaka?

Aku enggak menilai apakah yang dilakukan si anak benar atau salah. Tapiiii, duh, duh, duh. Kenapa sih kita butuh persetujuan seorang 'ahli agama' yang nggak jelas kualifikasinya apa untuk menilai apakah tindakan kita bisa memasukkan kita ke surga atau neraka. Emang dia seorang assessor dengan sertifikat standardisasi penilaian surga dan neraka?

Dan, it got me to think about this, nih, semua ustad-ustad atau ustadzah yang muncul di televisi, kualifikasi mereka apa sih? Orang yang bekerja di media harusnya punya argumentasi yang jelas, kenapa seseorang bisa dipilih sebagai narasumber.

Di mana mereka belajar agama, bagaimana dalamnya ilmu mereka dinilai, standarnya apa, apa mereka sudah nulis buku yang didasarkan dari penelitian dan studi mendalam, lagi-lagi, seberapa dalam studinya, sekarang ngajar atau enggak, etc.

Dan, aku harus 'menyerahkan' sama orang-orang yang tidak jelas kualifikasi keagamaannya ini untuk menentukan mana baik dan buruk? Uh, no thanks. I have my own mind for that.

(Tapi, nulis buku juga nggak bisa jadi ukuran sih. Jangan-jangan, nanti pas ditanyain 'bagaimana proses kreatifnya?' jawabannya, 'oh, baik-baik saja'. Yang itu, asli kejadian, cerita dari temen yang liputan peluncuran bukunya).

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments