Entry: Society Girls Friday, March 02, 2007



Kayaknya buku pertama yang aku baca tahun ini adalah 'My Name is Red'-nya Orhan Pamuk. Tapi itu bukan buku pertama yang aku selesaikan. Instead aku nyelesein beberapa buku tentang society girls.

Pertamanya, karena pengen mbaca sesuatu yang ringan, akhirnya milih The Pursuit of Love/Love in a Cold Climate, dua buku yang dijadiin satu, dua-duanya karya Nancy Mitford. Ini ceritanya sih cukup lucu lah. Tentang para bangsawan Inggris pedesaan yang hidup di masa-masa antara Perang Dunia I dan II.  Yah, kayak tokoh-tokoh ceweknya Jane Austen kali ya, cuman masanya aja beda. Omongannya, apalagi kalo bukan cari suami-suami.

Tapi, gara-gara di salah satu buku itu dibilangin kalo karakternya mbaca 'The House of Mirth'-nya Edith Wharton, aku jadi mulai mbaca buku itu (yes, yes, ini tentang intertekstualitas). Dan sekarang, ketika selesai, aku malah jadi pusing.

Gara-garanya, aku nggak ngerti motif-motif yang mendasari tindakan-tindakannya karakternya, Lily Bart. Semakin ke belakang, cerita hidupnya jadi semakin sengsara, tapi kok resistensi yang dilakukan si karakter nggak berubah-berubah ya? Gituuu aja. Kadang ada beberapa kali tokoh utama cowoknya nggak disebut sama sekali, padahal aku berharapnya dia yang bakal jadi karakter penolong. Terus ada sebuah obyek yang dimiliki Lily pas di bagian awal, aku berharap ini bakal jadi senjata yang dia pake, kartu As terakhir yang bisa dia tarik. Lha tapi kok sampai terakhir dia baru inget gitu.

Why, why, why Lily Bart seperti itu?

Iya, New York society itu kejam ke dia. Tapi kenapa dia nggak equally mean? Padahal the only thing that she has to be in that world, i.e. reputation, udah dibelah-belah hanya lewat gosip-gosip mereka. Apakah, by refusing to play dirty, Lily berusaha mempertahankan satu-satunya 'virtue' yang dia miliki? (Btw, aku nggak yakin virtue-nya itu apa, tapi...apakah itu playing nice? Atau jujur?) Atau, apa karena dia menahan diri karena perasaannya sama Selden.

But really, for Selden to be the 'only spring in her heart during her whole life' kok kayaknya kurang passionate gitu. And I'm comparing this to another Edith Wharton's novel, Age of Innocence. Ih, di situ mah keliatan jelas yang namanya passion, walopun sopan, tetep aja keliatan antara si Countess Olenska ama siapa itu...pokoknya di versi filmnya, yang jadi si Daniel Day Lewis.

Mbaca ini malah pusing deh. Jadi rada ragu untuk melanjutkan ke bacaan-bacaan tentang society girls lainnya.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments