Entry: Reading Notes: Namaku Merah Kirmizi Saturday, January 27, 2007



Middlemarch ternyata jadi terlalu lambat. Bukan sebuah buku yang bisa dibaca di angkot atau di bis. Well mungkin bisa sih, asal traffic di luar nggak menimbulkan keributan luar biasa dan nggak keganggu konsentrasinya tiap kali bisnya ngerem setiap beberapa detik. So, untuk sementara mungkin bukan bacaan angkot.

Instead, I'm picking up Namaku Merah Kirmizi-nya Orhan Pamuk. Kayaknya sih bahasanya lebih simpel (karena terjemahan bahasa Indonesia juga kali ya..) dan ceritanya lebih eksotis. Plus, tebakanku, ceritanya lebih cepat mengalir dan melibatkan penyelesaian sebuah misteri.

Aku selalu suka sih cerita-cerita atau bagian dari sejarah yang kayaknya bakal membuat Indiana Jones memulai salah satu ekspedisinya. Despite hating Da Vinci Code, aku cukup suka tinjauan-tinjauan sejarah yang dipakai Dan Brown. Eh...bukan dipakai ding, tapi diplagiat.

Aku nggak tau apakah ceritanya My Name is Red bakal membuat Indiana mulai berekspedisi, tapi aku suka settingnya. Yah, kayaknya backdrop yang sesuai buat Indiana Jones. By the way, why am I keep repeating Indiana Jones?

Oke, kayaknya aku udah terlalu lama nggak browsing-browsing judul di toko buku deh. Dan ketika aku ke sana, eh ada beberapa buku terjemahan keren, kayak V for Vendetta (lumayan mahal ya harganya...), trus The Miraculous Journey of Edward Tulane (duh ngeliat sampulnya aja udah merasa 'kayaknya ini buku bakalan so sad, it's heartbreaking deh'. Mbaca Pinokio aja aku nggak tega...), dan ternyata...dua judul dari trilogi His Dark Materials udah diterbitin (walaupun setelah mbaca halaman satu Kompas Emas jadi rada ngerasa it's too fantasy for me..)

Sama 'The History of Love'-nya Nicole Krauss juga udah diterbitin. Sebenernya belum tau apa-apa sih tentang buku ini, selain...yang nulis istrinya Jonathan Safran Foer. Actually, my feeling was a bit moderate for Foer's book, but he represents those cool, young writers yang suka main-main ama bentuk dan kata-kata. And he has Jeffrey Eugenides and Joyce Carol Oates sebagai pembimbing skripsi. Yes, the perks of being a literature major in Ivy League universities.

Balik ke My Name is Red? Hehehe, I ended up mbaca ulang setelah pas 51 halaman karena ketinggalan ngejar si narator. Tiap bab, setidaknya sampai halaman 51, naratornya pindah orang terus. Dan aku terus bertanya-tanya, is this the same person as before? Karena nggak kuat ngejar, ngos-ngos-an deh. Dan ooohhh, okeee..kayaknya sekarang mulai lebih ngerti deh.

Setelah Orhan Pamuk menang Nobel Sastra, seorang redaktur budaya minta tolong buat nulis tentang Pamuk. Yah, oke menggunakan sumber-sumber The Guardian, Wikipedia, dan..aku lupa apa lagi. Mungkin bukan nulis, tapi merangkum tepatnya. So I come to understand, a bit, tentang apa yang dia 'perjuangkan'. Dan semuanya terangkum dalam satu kutipan yang ia cantumkan di halaman awal "Namaku..":

"Dan kepunyaan Allahlah Timur dan Barat"
(Al Baqarah: 115)

Hmm...membaca lagi kutipan itu lepas dari halaman buku jadi bisa ngerasa kenapa orang suka salah paham memaknainya. Mungkin ada yang memaknainya jadi, "kalo gitu, orang barat harus tunduk sama (agama) timur dong." Atau mungkin memberi cap murtad pada orang-orang barat yang (dinilai) lupa pada  pemiliknya.

If I may interpret it the way Pamuk sees it, singkatnya, dan normatifnya, kayaknya ini lebih tentang mentoleransi perbedaan deh. Bahwa nggak ada yang lebih salah atau lebih benar. Bukan tentang peradaban siapa yang lebih unggul, karena keduanya berawal dari sumber yang sama.

Hmmm..aku kayaknya harus balik nulis soal asma. Been fooling around too long.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments